JOGJA - Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Panti Rapih Wikan Indrarto menyebut cuaca yang panas dan kering belakangan ini memicu terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) pada anak. Kebanyakan pasien yang dia terima juga datang dengan gejala ISPA.
"Benar demikian, hampir senua pasien mengalami ini," ujarnya, Selasa (10/10).
Menurut Wikan, anak terbilang lebih sensitif terkena ISPA. Ini lantaran anak biasanya lebih banyak menghirup udara yang terpapar polusi dibanding orang dewasa.
Selain itu, anak juga cenderung bernapas lebih berulang-ulang dan sering bernapas melalui mulut. Sehingga filtrasi partikel polutan kurang baik.
"Proporsi ukuran paru terhadap ukuran tubuh juga lebih besar," imbuhnya.
Sejumlah kondisi bisa memperburuk kondisi ISPA pada anak. Misalnya, paparan polusi dan debu, kurangnya gizi, hingga kurangnya imunisasi.
Jika ditemui gejala ISPA seperti batuk, pilek, demam, muntah, dan nafsu makan berkurang, sebaiknya segera periksa ke dokter.
Untuk menghindari penularan, anak diminta untuk diisolasi dari tempat yang berdebu ataupun berpolusi. Selain itu, juga jauhkan anak saat tengah membersihkan rumah.
"Menghindari ISPA juga bisa dilakukan dengan menggunakan masker khusus anak dan pastikan masker terpasang dengan baik," imbaunya.
Salah satu orang tua asal Wijilan, Kota Jogja, Aprilia, mengaku khawatir pada cuaca belakangan. Dia mengaku dia dan anaknya sempat sakit beberapa hari. Ini lantaran cuaca yang menurutnya panas dan kering.
"Kalau saya rasanya seperti mau flu. Kemarin anak juga sempat panas, batuk, dan pilek. Mengatasinya dengan cara minum obat dan vitamin," ujarnya. (isa)