SLEMAN, RADAR JOGJA - Dinas Kesehatan Sleman menyebut pada puncak musim kemarau seperti sekarang penyakit pernafasan paling banyak dikeluhkan oleh masyarakat.
Penyebabnya karena kondisi udara yang kering lalu membuat banyak debu berterbangan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Esti Kurniasih mengatakan, penyakit batuk dan pilek merupakan jenis penyakit yang paling banyak dikeluhkan pada puncak musim kemarau.
Ia menyebut, kondisi udara yang kering menjadi salah satu penyebabnya. Lantaran membuat debu banyak berterbangan dan masuk ke sistem pernafasan.
Selain itu, lanjut Esti, sudah banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan masker juga berdampak pada masifnya penyebaran jenis penyakit tersebut. Sebab dengan tidak terlindunginya sistem pernafasan seperti hidung dan mulut, membuat virus penyakit semakin mudah ditularkan antar manusia.
"Untuk musim kemarau yang paling banyak dikeluhkan batuk dan pilek karena banyak debu," ujar Esti kepada Radar Jogja, Rabu (20/9/2023).
Sementara itu Kepala Stasiun Klimatologi dan Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Reni Kraningtyas menyampaikan, udara dingin pada puncak musim kemarau juga dapat menurunkan daya tahan tubuh. Sehingga masyarakat pun akan mudah terserang berbagai jenis penyakit.
Reni Kraningtyas menyatakan, dari hasil pantauannya selama awal bulan September suhu udara di Jogjakarta bahkan bisa mencapai 18,4 derajat celcius. Sementara untuk suhu rata-rata selama beberapa pekan terakhir mencapai 19 sampai 20 derajat celcius.
Fenomena itu disebabkan karena saat musim kemarau tutupan awan relatif sedikit, sehingga proses pendinginan bumi berlangsung cepat.
"Kami imbau masyarakat banyak minum air putih dan mengkonsumsi vitamin untuk menjaga kesehatan tubuh," katanya.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono menyampaikan, musim kemarau tahun ini diprediksi bisa lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Bahkan diprediksi wilayah Jogjakarta baru akan memasuki musim penghujan pada bulan Oktober mendatang. Ia pun meminta agar masyarakat mewaspadai potensi angin kencang di pesisir selatan.
"Untuk potensi angin kencang di wilayah pesisir pantai selatan memang masih ada," katanya. (inu)
Editor : Bahana.