Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tips Pola Hidup Sehat Hindari dari Penyakit Diabetes Melitus

Khairul Ma'arif • Jumat, 28 Juli 2023 | 10:05 WIB
CEGAH: Dokter spesialis penyakit dalam, Harry Andrean, membagikan tips agar masyarakat terhindar dari diabetes melitus. (Istimewa)
CEGAH: Dokter spesialis penyakit dalam, Harry Andrean, membagikan tips agar masyarakat terhindar dari diabetes melitus. (Istimewa)

TANGERANG SELATAN - Diabetes melitus menjadi penyakit yang mengkhawatirkan sekarang ini. Bukan hanya dampaknya yang berbahaya bagi penderita. Tetapi, diabetes melitus sudah tidak memandang usia lagi.

Siapa pun bisa terkena, baik tua atau muda. Oleh karena itu, penting menerapkan pola hidup sehat untuk menghindarinya.

Dokter spesialis penyakit dalam, Harry Andrean, membagikan tips agar masyarakat terhindar dari diabetes melitus. Sebab, menurutnya, angka penderita diabetes di Indonesia semakin tinggi.

"Pencegahannya dimulai dari pola hidup, pola makan, serta olahraga yang rutin dapat mengurangi angka kejadian diabetes," katanya kepada wartawan, Rabu (26/7).

Dia menilai, pola makan masyarakat sekarang memang sudah tidak sehat. Hal itu didasarkan masyarakat kurang mengonsumsi sayur dan buah. Selain itu, makanan-makanan cepat saji banyak mengandung kalori berlebih dan kandungan gulanya cukup tinggi.

Selain it, di saat bersamaan aktivitas, masyarakat sekarang kebanyakan duduk. Bukan aktivitas yang banyak bergerak. "Jadi, kalau bisa sudah menanamkan untuk mencegah diabetes karena kalau sudah lansia risikonya lebih tinggi menderita diabetes dan komplikasi lainnya," tambah Harry.

Dia mengungkapkan, ada beberapa bagian untuk mencegah diabetes. Misalnya, pencegahan primer untuk orang yang masih sehat dan belum terdiagnosis diabetes.

Menurut Harry, pencegahan primer harus bisa diterapkan oleh banyak masyarakat. "Nah, inilah yang penting, mulai dari sini, menanamkan olahraga yang rutin dan makan yang sehat," ucapnya.

Berbeda dengan pencegahan sekunder yang diperuntukan bagi individu yang sudah menderita dan terdiagnosis diabetes. Harry menyebut, mereka yang belum terdiagnosis pun bisa saja mengalami diabetes.

Oleh karena itu, penting untuk mendeteksi sesegera mungkin apakah mengalami diabetes atau tidak. "Caranya rutin skrining. Utamanya untuk usia yang di atas 40 tahun, disarankan rutin cek gula darah setidaknya enam bulan sekali," ungkapnya.

Jika hal itu tidak dilakukan, bisa saja seseorang menderita penyakit diabetes tanpa sepengetahuannya. Bisa saja tidak ada gejala, padahal sudah terkena diabetes. Apalagi, jika memiliki orang tua yang menderita penyakit diabetes. Disarankan rutin melakukan medical check up skrining.

Ketiga ialah pencegahan tersier. Yakin  untuk individu yang sudah menderita diabetes dan dalam penanganan perobatan. Harry menuturkan, biasanya pencegahan tersier dilakukan untuk penderita diabetes yang sudah rutin konsumsi obat dan melakukan suntik insulin.

"Pencegahan ini dilakukan agar tidak menjadi komplikasi dari ujung rambut kepala hingga ujung kaki bisa terjadi komplikasi," ungkapnya.

Pencegahan tersier juga dilakukan agar terhindar dari komplikasi stroke, serangan jantung, katarak, luka kaki, dan gagal ginjal. Oleh karena itu, Harry mengingatkan siapapun yang masih sehat dan belum terdiagnosis diabetes dapat melakukan pencegahan primer.

Dia menambahkan, untuk menghindari komplikasi saat menderita diabetes ialah dengan kepatuhan berobat. Menurutnya, ada beberapa pasien yang menolak melakukan suntik insulin karena hanya mau minum obat. "Di RSUD Tangsel rata-rata sudah masuk dalam pencegahan tersier dan sekunder," tuturnya.

Harry menjelaskan, dalam penyakit diabetes ada gejala klasik yang ditandai dengan mudah haus, mudah lapar, dan sering buang air kecil. Harus dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu.

Selain itu, gejala lainnya yaitu sering kesemutan dan luka di kaki mudah basah serta infeksi. "Di dokter akan dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti gula darah puasa dan dua jam setelah makan untuk mengecek menderita diabetes atau tidak," tegas Harry.

Dia juga mengingatkan, kalangan remaja atau usia muda itu jarang ketahuan menderita diabetes. Harry menyarankan, jika terlahir dari orang tua yang menderita diabetes, sebaiknya mulai usia 30 tahun rajin check up. "Sangat faktor keturunan risiko tinggi. Oleh karena itu harus jadi motivasi agar hidup sehat sehingga tidak terus menurunkan penyakit diabetes," bebernya.

Selain itu, kalangan anak-anak juga dapat terkena diabetes. Harry mebeberkan, untuk penderita anak disebut sebagai diabetes tipe satu.

Menurutnya, penyebab utamanya bukan karena pola hidup atau pola makan. "Itu karena kelainan di pankreasnya, produksi insulinnya rusak atau nol," ungkapnya. (cr3)

Editor : Amin Surachmad
#gagal ginjal #diabetes melitus #DIABETES ANAK