Kepala Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM ini mengatakan bahwa dalam pengasuhan anak haruslah seimbang. Tentunya peran ayah dan ibu secara berimbang. Artinya, pengasuhan anak tidak hanya menjadi tanggungjawab ibu saja, tetapi juga dilakukan oleh ayah.
“Namun yang banyak terjadi ayah tidak terlibat dalam pengasuhan. Ini jadi fenomena yang cukup lazim, salah satunya karena pengaruh budaya,” jelasnya, Rabu (24/5).
Diana menuturkan budaya patriarki di Indonesia menjadi salah satu penyebabnya. Konsep ini seakan menjadikan sosok ibu bertanggungjawab untuk urusan domestik dan mengurus anak. Sementara laki-laki bertanggungjawab pada urusan publik.
Selain faktor budaya, anak bisa mengalami fatherless karena orang tua yang terlalu sibuk. Akibat kesibukan bekerja, menjadikan ayah sulit untuk terlibat dalam pengasuhan. Otomatis interaksi antara ayah dan anak menjadi sangat minim.
“Misal beberapa hari sekali baru bisa pulang menjadikan secara teknis lebih sulit terlibat dalam pengasuhan. Sementara saat sudah pulang tidak ada komitmen untuk mengganti hari-hari yang hilang,” katanya.
Sosok ayah, lanjutnya, memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak. Keterlibatan ayah dalam aktivitas bersama anak dapat menjadi kegiatan yang menstimulasi perkembangan kognitif.
Diana menjelaskan ada perbedaan gaya bicara antara ayah dan ibu. Seperti ayah yang cenderung lebih mengarahkan, lebih singkat. Selain itu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan akan mendorong perkembangan fungsi eksekutif lebih optimal.
“Fungsi eksekutif berkaitan dengan kemampuan merencanakan, pengendalian diri, pemecahan masalah dan atensi,” ujarnya.
Kehadiran ayah juga mempengaruhi perkembangan emosi. Relasi positif antara ayah dan anak akan membantu anak mengembangkan emosi yang matang. Peran ini juga bisa mengurangi beban yang dimiliki ibu.
“Sehingga turut memengaruhi kualitas hubungan antara ibu dan anak,” katanya.
Perkembangan emosi yang terhambat, lanjutnya, menyebabkan anak memiliki emosi yang tidak matang. Anak tidak bisa mengekspresikan emosi maupun mengendalikan emosi. Berlanjut dengan rasa cemas dan depresi dan kontrol diri rendah, berperilaku berlebihan serta agresif.
Kurangnya keterlibatan ayah dapat menjadi faktor risiko munculnya psikopatologi. Salah satunya kecanduan terhadap zat ataupun aktivitas yang menimbulkan kesenangan. Seperti kecanduan gadget, game online, napza, rokok dan lainnya.
“Bisa juga memunculkan ganguan perilaku menyimpang, perilaku seksual dan gangguan mood serta bunuh diri,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News