Ahli Gizi Kesehatan UGM Tony Arjuna menuturkan berdasarkan studi, pada satu hingga dua minggu pertama orang yang berpuasa akan kehilangan berat badannya. Namun, usai lebaran berat badan justru malah bertambah.
Ini terjadi lantaran self kontrol yang kurang baik. Termasuk kalap saat sahur ataupun buka puasa. Makan dan minum asal-asalan akan membuat gula darah naik dengan cepat.
"Terus efeknya pada saat yang sama kalau dia cepat naik, gula darah akan cepat turun. Akan ga sehat badan. Badan malah lemas, ngantuk, yang tadinya kuat tarawih malah justru pengin tidur. Itu caranya masih kurang tepat," jelas Tony saat dihubungi, Kamis (23/3).
Saat berbuka ataupun sahur, diharapkan makanan dikonsumsi secara bertahap. Tony juga menyarankan sebaiknya tak terlalu banyak makan nasi saat sahur. Ini karena nasi merupakan karbohidrat sederhana. Cepat diproses tubuh dan rasa lapar juga akan datang lebih cepat.
"Sayangnya di Indonesia ada persepsi kalau ga makan nasi ga hidup. Itu yang membuat susah. Karena makanan jenis karbohidrat sederhana yang mudah untuk dicerna seperti nasi, mie, roti itu dia cepet sekali kosong dari lambung kita. Rasa lapar itu justru lebih cepat muncul," katanya.
Menurut Tony akan jauh lebih baik mengonsumsi makanan yang mengandung protein serta karbohidrat kompleks. Kombinasi gizi ini dinilai lama untuk dicerna oleh tubuh. Sehingga tubuh akan lebih lama menahan lapar bahkan hingga 4 jam sampai 5 jam. Selain itu, juga mencegah kegemukan usai puasa.
"Misalnya makanan sumber protein, daging, ikan, ayam, itu jenis makanan yang kalau masuk ke dalam perut kita diproses paling pelan dibanding dengan zat gizi lainnya. Kedua, jenis makanan karbohidrat kompleks seperti sayuran, buah-buahan," tuturnya.
Idealnya, selama Ramadan santap makan tetap dilakukan tiga kali, layaknya diluar bulan Ramadan. Yakni saat sahur, berbuka, dan setelah ibadah tarawih. Ini sekaligus mematahkan mitos makan malam akan menyebabkan naiknya berat badan.
Tony mengatakan mengurangi frekuensi makan tak serta merta bisa mengurangi berat badan. Justru malah bisa meningkatkan berat badan. Waktu makan juga tak berpengaruh pada kenaikan berat badan. Ini tergantung dengan makanan yang dikonsumsinya.
"Penelitian menyebutkan kalau kita makannya lebih jarang atau kurang dari tiga kali kita cenderung untuk jadi gemuk. Karena semakin jarang makan jumlahnya akan jauh lebih banyak karena laparnya berkali-kali lipat. Dibanding kalau makannya frekuensinya sering. Makanya kalau puasa tetap (makan) 3, 4 kali," katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News