Berawal dari inilah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT Kimia Farma TBK menciptakan produk kit TB-Scan. Fungsinya untuk mengoptimalkan pelacakan sumber tuberkulosis. Baik yang berada di area maupun luar paru-paru.
"Sangat spesifik mudah dikenali dengan Etambutol berinteraksi dengan bakteri tuberkulosinya. Sehingga sangat spefisik untuk melacak secara langsung di paru-paru maupun luar paru-paru," jelas Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri (PRTRRB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tita Puspitasari dalam acara Pekan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Kedokteran Nuklir dan Teranostik Molekuler Indonesia di Hotel Marriott Jogjakarta, Jumat (7/10).
Cara kerja Etambutol, lanjutnya dengan adanya paparan radioaktif. Obat atau alat pendeteksi akan beraksi dengan mikro bakteri tuberkulosis. Secara spesifik dan akurat dapat mendeteksi lokasi bakteri dalam tubuh.
Terkait akurasi, Tita menuturkan TB-Scan mampu membaca letak bakteri hingga diatas 90 persen. Tak hanya itu, alat ini juga memerlukan waktu yang relatif singkat. Setidaknya rata-rata empat jam untuk mendeteksi letak bakteri tuberkulosis.
"Akurasi diatas 90 persen kalau dibandingkan diagnosis selain konvensional biasanya. Konvensional itu harus diambil sampelnya lalu dikembangkan dan butuh waktu lama. Ini scan langsung kelihatan," katanya.
Direktur Pemasaran, Riset dan Pengembangan PT Kimia Farma Tbk Jasmine Karsono menjelaskan lebih detil prinsip kerja obat. Terlebih dahulu senyawa diberi radioisotop. Fungsinya untuk mendeteksi letak bakteri tuberkulosis.
Dengan teknik akan membutuhkan waktu lebih singkat. Alhasil penanganan tuberkulosis lebih efisien dan cepat. Tentunya juga mengantisipasi penyebaran pasca deteksi awal.
"Biasanya pakai air liur dahak tapi butuh waktu lama 5 sampai 7 hari. Ini lebih cepat, akurat dalam deteksi. Jika bisa deteksi dini maka cepat obatinya, apalagi ini BPJS. Jadi semua bisa menjangkau," ujarnya.
Peneliti Kedokteran Nuklir RSUP Dr. Hasan Sadikin Husein membenarkan kendala utama penanganan tuberkulosis adalah deteksi awal. Berupa jarak waktu yang terlalu lama pasca uji sampel. Alhasil potensi penyebaran berlangsung lebih masif.
Itulah mengapa dia mendukung adanya penelitian kolaborasi ini. Sehingga mampu menghasilkan TB - Scan atau Etambutol. Ini karena teruji secara klinis lebih akurat dan efisien dalam mendeteksi bakteri tuberkulosis.
"Biasanya melalui kultur dan ini sulit dan perlu waktu lama, ini salah satu kendala, apalagi kalau diluar paru-paru. Rupanya Etambutol mampu ditandai dengan radioaktif, jadi cepat dideteksi," katanya. (Dwi) Editor : Editor News