Menanggapi hal ini, Ahli Gizi yang merupakan Dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan, Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM Aviria Ermamilia mengatakan jumlah tersebut telah melebihi setengah dari kebutuhan normal gula manusia dalam satu hari.
Pedoman makan gizi seimbang milik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 10 persen dari total energi dalam 24 jam.
Asumsinya untuk kebutuhan 2.000 kalori, maka konsumsi gula sebanyak 200 kkal. Ini setara dengan 50 gram atau 4 sendok makan gula.
“Empat sendok makan ini tidak hanya dari minuman. Apalagi di Jogja ini banyak makanan manis. Misalnya kita tadi sudah minum minuman kemasan atau yang tinggi gula, kemudian masih mengonsumsi mungkin jajan pasar yang manis-manis, ini berarti konsumsi gula kita sudah berlebih,” jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (27/9).
Avi menambahkan sepanjang tak dikonsumsi berlebihan, gula baik untuk kesehatan. Ini karena gula merupakan karbohidrat sederhana yang mudah diubah menjadi kalori. Namun memiliki risiko obesitas apabila berlebih.
“Obesitas ini menjadi gerbang terjadinya penyakit-penyakit metabolik seperti diabetes mellitus itu yang paling nampak. Kemudian penyakit lain seperti jantung dan gangguan metabolik lemak yang diawali karena kelebihan kalori tadi,” katanya.
Berdasarkan survei studi diet total Kemenkes yang rilis 2015, Jogjakarta menduduki peringkat pertama. Detilnyaasupan gula pada penduduk dewasa diatas 15 tahun. Rata-rata penduduk mengonsumsi gula sebanyak 30,9 gram per hari.
“Tidak menutup kemungkinan banyak juga penduduk yang mengonsumsi gula lebih dari jumlah tersebut. Karena tadi anjuran konsumsi gula minimal 50 gram per orang per hari,” ujarnya.
Avi mengajak masyarakat memberikan perhatian lebih atas konsumsi gula. Hal ini bisa dilakukan dengan menghitung asupan gula dalam sehari. Cara termudah dengan mengurangi takaran konsumsi.
Juga dengan melihat komposisi dalam setiap botol. Dengan memilih produk rendah gula. Terlebih saat ini pilihan produk rendah gula cukup banyak.
“Kita sebagai konsumen juga harus jeli membaca label. Ini masyarakat kita yang masih sangat kurang adalah awareness untuk membaca label terutama label-label yang sifatnya untuk melihat kandungan gizi,” katanya. (isa/dwi) Editor : Editor News