Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BKKBN Harus Berikan Pelayanan Maksimal Walau Pandemi

Editor News • Jumat, 5 November 2021 | 23:43 WIB
KESEHATAN : Gubernur DIJ Hamengku Buwono X meminta BKKBN DIJ melakukan reorientasi program dimasa pandemi Covid-19. (BKKBN DIJ for RADAR JOGJA)
KESEHATAN : Gubernur DIJ Hamengku Buwono X meminta BKKBN DIJ melakukan reorientasi program dimasa pandemi Covid-19. (BKKBN DIJ for RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menyampaikan pentingnya reorientasi program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Terutama penataan dimasa pandemi Covid-19. Tujuannya agar dapat terus memberikan pelayanan KB secara maksimal kepada masyarakat.

"Reorientasi program ini akan fokus pada output pelayanan pencegahan kehamilan dan layanan advokasi, penyuluhan, komunikasi, informasi dan edukasi, agar tetap bisa berjalan normal,” jelasnya disela pengukuhan Kepala Perwakilan BKKBN DIJ di Bangsal Kepatihan, Selasa (2/11).

HB X menambahkan pada tahun 2016, Jogjakarta telah mencanangkan terbentuknya Kampung KB se-DIJ. Program ini sebagai realisasi program KB Masuk Desa. Tujuan pelaksanaan program ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Tentunya melalui program kependudukan, KB, pembangunan keluarga serta penurunan stunting di desa serta mampu mewujudkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga kecil yang berkualitas," katanya.

Sekretaris Utama BKKBN DIJ Tavip Agus Rayanto mengatakan berdasarkan data Global Nurtrition Report (GNR) 2018, prevalensi  stunting di Indonesia menduduki peringkat ke-108 dari 132 negara. Data Kementerian Kesehatan turut menunjukkan kasus stunting di tanah air mencapai 27,7 persen. Artinya, 1 dari 4 balita di Indonesia mengalami stunting.

Hal ini memberikan konsekuensi negatif yang memberikan keterbatasan kemampuan dan daya saing. Serta menurunkan produktivitas dan merupakan ancaman bagi generasi masa depan Indonesia. Antisipasinya, BKKBN harus mampu memberikan kontribusi.

“Kontribusi dalam memberikan dukungan pada layanan intervensi spesifik maupun sebagai penanggung jawab dalam layanan intervensi sensitif, yang nantinya dapat membuahkan hasil berupa pencapaian target penurunan stunting nasional ke angka 14 persen di tahun 2024,” ujarnya.

Penurunan stunting, lanjutnya, membutuhkan usaha yang tidak mudah. Terlebih untuk meraih target yang telah ditetapkan. Upaya percepatan penurunan stunting harus berjalan beriringan dengan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana).

“Saat ini kita sudah memasuki akhir tahun 2021 dan hanya tersisa waktu 2 bulan untuk melakukan percepatan pencapaian target Program Bangga Kencana," katanya. (obi/om9/dwi) Editor : Editor News
#BANGGA KENCANA #BKKBN DIJ