JOGJA - Ribuan mahasiswa dari sejumlah universitas di DIJ menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD DIJ, Selasa (20/10). Mereka menyuarakan keresahan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam dua tahun kepemimpinannya.
Pantauan Radar Jogja, massa aksi mengenakan pakaian hitam dan almamater masing-masing universitas. Ada pula massa aksi mengenakan kostum Superman berdiri di atas patung Panglima Besar Jenderal Soedirman dan sempat memperagakan selebrasi Prabowo Subianto saat Indonesia memenangkan piala FIFA ASEAN CUP beberapa waktu lalu.
Mereka menyampaikan orasi secara bergantian dengan mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah, di antaranya program makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Mahasiswa juga menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta berbagai isu lain. Sejumlah spanduk berisi kritik terhadap pemerintah turut dibentangkan.
Baca Juga: Tak Jadi Digelar di MagIS Sleman, Laga Isenmulang FC vs PSIM Dipindah ke Bali dan tanpa Penonton
Massa dari Universitas Islam Indonesia (UII) terlihat mendominasi aksi dengan jumlah peserta yang cukup besar. Mereka mengenakan jaket almamater warna biru. Koordinator Umum Massa Aksi UII Troy Amirul Akhmad mengatakan, aksi digelar setelah melalui konsolidasi dan kajian terhadap berbagai persoalan yang menjadi perhatian mahasiswa.
"Secara garis besar, ada tujuh tuntutan yang menjadi perhatian kami,” ujarnya saat ditemui di sela aksi. Dia menyebut, salah satu tuntutan berkaitan dengan evaluasi penanganan tragedi Kanjuruhan dan percepatan pemulihan masyarakat terdampak.
Baca Juga: Ketua DPRD Gunungkidul Minta Endah-Joko Jaga Kekompakan, Harap Polemik Tak Ganggu Pemerintahan
Mahasiswa juga meminta evaluasi terhadap program strategis nasional, terutama MBG dan KDMP. Menurutnya, program pemerintah perlu dievaluasi agar pelaksanaannya di lapangan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Ia menilai, meskipun sejumlah program berpotensi mendukung perputaran ekonomi masyarakat menengah ke bawah, implementasinya masih perlu diperbaiki. "Kami meminta moratorium, evaluasi, dan transparansi program strategis nasional, terutama MBG dan KDMP,” jelasnya.
Baca Juga: Cupu Kyai Panjolo Kembali Dibuka, Puluhan Temuan Dibacakan; tanpa Beri Tafsir dan Makna
Selain itu, mahasiswa juga menuntut adanya regulasi pengadaan dan tata kelola BBM bersubsidi yang transparan di setiap daerah. Mereka juga meminta pemerintah memperbaiki pola komunikasi kepada masyarakat, terutama komunikasi presiden yang dinilai kerap merendahkan rakyat.
Tuntutan lainnya meliputi restrukturisasi dan perampingan kabinet, efisiensi birokrasi serta anggaran negara, penghentian militerisme khususnya pelibatan militer di ranah sipil, dan penegakan hukum atas 13 peristiwa pelanggaran HAM masa lalu.
"Kami menyuarakan rezim Prabowo-Gibran sekiranya apa yang terjadi di tahun 2025 masih ada banyak rekan-rekan seperjuangan kami yang masih ditahan. Sehingga kami ingin agar bebaskan," pintanya.
Troy menyebut, jumlah peserta dari UII mencapai lebih dari 1.000 orang. Massa berasal dari berbagai fakultas dan keluarga mahasiswa UII. Pihak rektorat juga memberikan dukungan terhadap pelaksanaan aksi, termasuk melalui surat edaran dan penyediaan fasilitas berupa ambulans serta mobil komando.
Baca Juga: Atasi Kekurangan Guru, 127 Guru di Kulon Progo Dimutasi: Tata Distribusi Tenaga Pendidik
Di tengah aksi, sejumlah anggota DPRD DIJ dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan PDI Perjuangan menemui massa untuk berdialog. Dalam pertemuan itu, anggota dewan menyatakan akan meneruskan aspirasi mahasiswa kepada pemerintah pusat dalam waktu tiga hari.
Namun, dialog sempat memanas ketika mahasiswa mempertanyakan minimnya jumlah anggota dewan yang menemui mereka, karena hanya tiga anggota dewan. Sekitar pukul 13.20, Ketua DPRD DIJ Nuryadi menjelaskan anggota dewan lainnya telah meninggalkan kantor.
"Semestinya hari ini sudah pada pulang siang tadi. Karena setiap fraksi ada perwakilannya, karena lembaga dewan terdiri dari banyak fraksi,” jelas Nuryadi.
Baca Juga: Boyong 23 Pemain ke Kediri, PSS Sleman Jalani Persiapan di Surabaya sebelum Hadapi Persik
Sontak, jawaban itu memicu amarah massa aksi hingga mereka bersorak. Dikatakan, DPRD DIJ memiliki 55 anggota dengan pandangan yang beragam terhadap berbagai persoalan. Menurutnya, fraksi menjadi bagian penting dalam menyalurkan sikap partai politik di lembaga legislatif.
"Kami menindaklanjuti aspirasi kalian semua. Dua tahun sudah berlalu pemerintahan kali ini, maka menjadi wajar kalau rakyat memberikan evaluasi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar menyampaikan aspirasi secara tertib dan tidak berujung pada kerusuhan. Menurutnya, mahasiswa merupakan generasi yang akan melanjutkan kepemimpinan pada masa mendatang.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Meluas, Jalur Pendakian Gunung Sumbing di Magelang Ditutup
Nuryadi turut menyatakan dukungannya terhadap penegakan hukum dan penyampaian aspirasi mahasiswa. Ia menyebut aksi di DIJ menjadi bentuk dukungan terhadap perjuangan mahasiswa di Jakarta.
"Berjuang terus bersama-sama sampai negara ini menjadi baik,” serunya di hadapan massa. Setelah melakukan aksi di depan Gedung DPRD DIJ, massa aksi melanjutkan ke Titik Nol untuk menyampaikan aspirasinya. (cin/laz)
Sumber : Radar Jogja