RADAR JOGJA - Empat suporter PSS Sleman yang meninggal dunia akibat akibat kecelakaan di ruas tol Madiun-Surabaya Km 616, telah dimakamkan di sekitar tempat tinggalnya masing-masing, Senin (19/10). Salah satunya Iyan Fathur Ar-Rozaq, 15, yang berstatus pelajar di SMAN 2 Jogja. Murid kelas X E-9 ini dikebumikan di Pemakaman Umum Nglarang, Tlogoadi, Mlati, Sleman.
Pantauan Radar Jogja di rumah duka, ada berbagai pihak yang turut takziah. Mulai unsur sekolah, perwakilan pemerintah, maupun masyarakat umum. Jenazah diberangkatkan ke makam pukul 10.15 menggunakan ambulans dan diiringi penghormatan terakhir oleh pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) SMAN 2 Jogja.
Kepala Sekolah SMAN 2 Jogja Suprihatin menyatakan, kepergian Iyan adalah kehilangan bagi keluarga besar sekolah. Dia baru mendapat informasi salah satu anak didiknya ikut jadi korban kecelakaan dari bidang kehumasan Minggu sore. Lalu, langsung pengecekan pada daftar siswa dan dikonfirmasi kebenarannya. Pada hari Senin sebagai bentuk penghormatan terakhir sekolah turut membawa rombongan siswa maupun guru untuk ikut melayat.
Baca Juga: Pemkab Sleman Bantu Pembiayaan Pengobatan Korban Kecelakaan Suporter PSS di Madiun
"Ini yang kami ajak ke sini siswa satu kelasnya, kemudian anggota Paskibraka karena Mas Iyan masuk di pasukan inti," katanya ditemui di rumah duka.
Untuk membawa rombongan siswa, sekolah dengan julukan Smada ini turut menyewakan armada mobil. Lantaran murid kelas 10 belum cukup umur untuk memiliki SIM maupun mengendarai motor sendiri. Sekolah juga membuat kebijakan untuk mengosongkan jadwal pembelajaran pagi bagi siswa yang masuk dalam rombongan pelayat.
"Khusus satu kelas yang pembelajarannya ditiadakan, nanti setelah kegiatan pemakaman kembali ke proses pembelajaran," tambahnya.
Baca Juga: Kecelakaan Maut Suporter PSS Sleman di Tol Saradan, Polisi Temukan Miras di Mobil
Menurut Suprihatin, Iyan adalah salah satu siswa pintar dan berprestasi di SMAN 2 Jogja. Terbukti lolos masuk menggunakan jalur prestasi saat pendaftaran siswa baru. Nilai akademiknya juga selalu baik.
Tidak berhenti sampai di situ, almarhum juga aktif di berbagai kegiatan dengan masuk sebagai pasukan inti Paskibraka maupun keanggotaan OSIS. Minatnya pada olahraga sepak bola juga terlihat karena aktif dalam ekstrakurikuler futsal. Bahkan, baru saja selesai mengikuti kompetisi Futsal Series.
Sementara itu, sang ayah, Anjar Riyanto mengungkapkan Iyan yang merupakan anak bungsu dari dua bersaudara disebut memang begitu menggemari PSS Sleman. "Wong dia itu kalau nonton TV teriak-teriak sendiri kok di rumah itu, memang penggemar," kenangnya saat ditemui di pusara sang anak.
Iyan ini, katanya, pernah kehabisan tiket menonton PSS. Meski sudah terus berusaha mencari tiket dengan harga lumayan hingga Rp 250.000 tetap tidak dapat. Di momen-momen putus asa itu, anaknya justru dapat tiket giveaway hingga terlihat begitu senangnya.
Baca Juga: Polisi Belum Tetapkan Tersangka Kecelakaan Tol Madiun KM 616 yang Sebabkan Suporter PSS Meninggal
"Waktu itu aduh seneng banget. Dia berangkat sendiri enggak harus dengan temennya. Betul itu semangat banget dapat giveaway itu," ujarnya.
Dia mengaku sampai heran mengapa sang anak begitu suka sepak bola, berbeda sekali dengan dirinya. Dugaannya hal ini terpengaruh rekan-rekannya yang memang fans fanatik dari klub sepak bola asal Kabupaten Sleman ini.
Anak lelakinya ini begitu mencintai PSS sejak masih duduk di sekolah dasar sehingga saat tidak diizinkan ibunya untuk ikut away ke Surabaya, almarhum terus memohon. Tak hilang cara, Iyan kemudian ganti berulangkali memohon izin pada sang ayah dengan berucap "Pak, please, please, please."
Melihat kegigihan sang anak, mau tak mau akhirnya dia mengizinkan Iyan berangkat dengan syarat memakai uang sendiri. Sekitar pukul 02.00 dini hari saat dia sudah tidur, sang putra pamit untuk pergi ke Surabaya dan justru meminta sangu.
Baca Juga: Identitas Empat Korban Kecelakaan Suporter PSS Sleman di Tol Madiun Terungkap
"Lho, kok sangu. Tapi katanya ini terakhir, besok enggak. Lalu saya kasih," ucapnya.
Anjar tak menyangka jika itu benar-benar uang saku terakhir yang diberikan kepada putra semata wayangnya. Ucapan "Ini sudah terakhir, Pak," itu yang hingga kini diakui masih terus terbayang di pikirannya dan seakan jadi firasat tersendiri bagi sang anak.
Baginya, Iyan adalah anak yang jadi penopang kehidupannya. Putra yang memberikan semangat dan menguatkannya saat dia sakit. "Saya sudah ikhlas, waktu sakit saya dikasih semangat suruh harus kuat. Ternyata saya harus kuat menghadapi kenyataan seperti ini," ujarnya.
Baca Juga: Pesan Iyan kepada Ayah Sebelum Berangkat Away PSS Sleman: Ini Uang Saku Terakhir
Kepergian putranya sendiri kali pertama diketahui lewat media sosial yang mengabarkan ada kecelakaan. Anjar lalu bergegas mengecek informasi ke travel dan ditemukan ada nama sang anak di dalam rombongan meski belum tahu persis kondisinya.
Saat ingin menyusul ke Surabaya, dia diminta kembali ke rumah karena ternyata sang anak sudah dibawa pulang menggunakan ambulans. "Dari situlah kepastiannya kalau Iyan udah meninggal. Soalnya kalau enggak MD juga kritis, enggak ada pilihan. Ini udah terbaik," katanya.
Fakhri, Sosok Aktif dan Loyal kepada PSS
Duka mendalam juga menyelimuti keluarga serta kerabat Fakhri Maulana Al-Zaki (20), warga Kapanewon Mlati, Sleman. Pemuda yang berstatus sebagai mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) ini menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan maut yang menimpa rombongan suporter PSS.
Di mata sahabat-sahabatnya, Fakhri dikenal sebagai sosok pemuda yang ramah, aktif bermasyarakat, serta memiliki loyalitas yang sangat tinggi terhadap klub kebanggaannya PSS.
Dari pantauan Radar Jogja di rumah duka, ada berbagai kalangan yang turut melayat. Mulai warga sekitar, teman kuliah, para suporter PSS, hingga manajemen Laskar Sembada dan suporter PSIM Jogja.
Jenazah Fakhri Maulana Al-Zaki diberangkatkan pukul 11.00 dengan diusung para rekan atau sahabatnya, mulai sahabat di kampung halaman hingga rekan sesama suporter. Mereka memikul keranda jenazah secara bergantian.
Baca Juga: Siswa Berprestasi Korban Kecelakaan Suporter PSS, Iyan Dimakamkan dengan Penghormatan Paskibraka
Salah seorang sahabatnya, Bagus Khairil Anwar mengatakan, sosok almarhum merupakan pribadi yang selalu cepat tanggap dan tak ragu mengulurkan tangan ketika ada teman yang membutuhkan bantuan.
"Dia orangnya sangat baik. Kalau di grup percakapan teman-teman, setiap ada yang butuh bantuan, nomor satu yang membalas dan paling cepat merespons itu almarhum," ucapnya di sela-sela melayat.
Tak hanya responsif dalam pertemanan, menurut Bagus, di lingkungan tempat tinggalnya almarhum juga dikenal sebagai sosok pemuda yang aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan maupun keagamaan. "Kalaupun absen, biasanya memang karena ada kegiatan atau kesibukan di kampus," bebernya.
Baca Juga: Brajamusti Ikut Berduka atas Meninggalnya Empat Suporter PSS Sleman
Bagus mengungkapkan, kecintaan Fakhri terhadap Super Elja sudah memupuk sejak kecil. Kecintaan almarhum terhadap tim kebanggaan warga Sleman itu tumbuh dari lingkungan sekitarnya.
Di mana sejak masa kecilnya, lanjut Bagus, almarhum sering diajak menyaksikan laga uji coba PSS di Stadion Tridadi menggunakan mobil pikap bersama senior-senior di desanya.
Kecintaan itu membawa Fakhri menjadi bagian aktif dari komunitas suporter lokal, Semberadi Black Area, yang beranggotakan 40 hingga 50 orang. Di dalam komunitas itu, almarhum dikenal selalu menghidupkan suasana dan aktif dalam setiap forum diskusi maupun kegiatan.
Bahkan dedikasi Fakhri untuk mengawal PSS saat laga tandang (away day) sangat luar biasa. Bagus menceritakan pengorbanan terakhir sang sahabat demi berangkat mendampingi Super Elang Jawa ke Surabaya.
Baca Juga: Menunggu Kabar ILeague, PSS Sleman Siapkan Pita Hitam untuk Laga Melawan Persebaya Surabaya
Saat itu almarhum tak ragu merogoh tabungannya atau menjual barang-barang kesayangannya. Menurut Bagus, cara itu rupanya kerap dilakukan almarhum demi bisa menonton PSS.
Apabila memiliki rezeki lebih, Fakhri kerap menginvestasikannya untuk membeli barang-barang favorit seperti jersey PSS maupun sepatu. Barang-barang koleksinya itu kelak dijual kembali saat almarhum membutuhkan dana darurat, termasuk untuk modal laga away.
"Setiap ada pertandingan di Maguwoharjo, almarhum hampir tidak pernah absen. Kalau pas ada rezeki dia beli jersey atau sepatu, nanti kalau pas butuh uang buat ke stadion baru dijual lagi. Kebanyakan seperti itu perjuangannya," tandas pria 24 tahun ini. (del/ayu/laz)
Sumber : Radar Jogja