Kualitas Udara di Jogja Tak Sehat, PM2.5 Tembus 79 Mikrogram selama Musim Kemarau

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 19:20 WIB
Warga saat melintas menggunakan masker sebagai pelindung diri di sekitar Flyover Lempuyangan, Kota Jogja, Rabu (14/10/2026). Aktivitas kendaraan pada jam-jam sibuk menjadi salah satu faktor penyumbang polusi udara. Sementara itu, kualitas udara di Kota Jogja dilaporkan masuk kategori tidak sehat akibat tingginya konsentrasi partikel debu halus atau particulate matter (PM2.5). Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Warga saat melintas menggunakan masker sebagai pelindung diri di sekitar Flyover Lempuyangan, Kota Jogja, Rabu (14/10/2026). Aktivitas kendaraan pada jam-jam sibuk menjadi salah satu faktor penyumbang polusi udara. Sementara itu, kualitas udara di Kota Jogja dilaporkan masuk kategori tidak sehat akibat tingginya konsentrasi partikel debu halus atau particulate matter (PM2.5). Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

JOGJA – Kualitas udara di Kota Jogja masuk kategori tidak sehat dengan skor 167 berdasarkan pemantauan IQAir. Konsentrasi polutan particulate matter (PM2.5) mencapai 79 mikrogram per meter kubik saat musim kemarau. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi balita dan lansia.

Ketua Tim Kerja Pengawas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Intan Dewani mengatakan, kondisi cuaca panas dan kering memang membuat kualitas udara memburuk. Sebab partikel debu halus semakin mudah terbentuk dan beterbangan di udara.

“Musim kemarau cenderung PM2.5 meningkat. Asap kendaraan penyumbang polutan paling tinggi,” ujar Intan saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Rabu (14/10/2026).

Terkait data pasti di DLH Kota Jogja, Intan mengaku belum bisa mengukur secara pasti karena alat air quality monitoring system (AQMS) masih rusak dan menunggu penggantian dari kementerian. Sehingga belum ada data untuk mendukung kandungan polutan udara.

Baca Juga: Warning! Antraks Muncul Lagi, Dinkes Gunungkidul Pantau Warga Paliyan selama 60 Hari 

Meski demikian, ia tidak menampik pada kondisi-kondisi tertentu kualitas udara memang memburuk. Misalnya pada siang atau sore hari yang menjadi jam-jam sibuk aktivitas kendaraan. Sementara di luar itu kualitas udara dapat dikatakan normal atau konsentrasi polutan rendah.

Salah satu warga Kota Jogja Purwanto menilai kualitas udara selama musim kemarau ini memang cukup tidak sehat. Salah satu indikatornya adalah mulai sering timbulnya penyakit pernapasan seperti batuk dan radang tenggorokan.

“Kalau tidak salah data dari Juni sampai Oktober ini saja setidaknya sudah tiga kali kena radang tenggorokan,” ungkap pria 36 tahun ini.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Lana Unwanah menyampaikan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) memang menjadi ancaman selama musim kemarau hingga pancaroba. Bahkan bisa berbahaya bagi lansia dan balita.

Baca Juga: 140 Warga Kajoran Keracunan Es Buah, Alami Gejala Diare hingga Demam

Berdasarkan catatannya, selama musim kemarau dan mendekti pancaroba kasus ISPA mengalami peningkatan cukup signifikan. Hingga pertengahan tahun tercatat 61.845 kasus ISPA yang dilaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Selain ISPA, kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi juga menjadi ancaman selama musim kemarau. Lana mengingatkan agar masyarakat menghindari aktivitas di luar ruangan pada jam-jam dengan paparan sinar matahari paling menyengat, seperti pada pukul 10.00  hingga 15.00.

“Dalam kondisi cuaca terik seperti ini, kami juga mengimbau agar memperbanyak asupan air minum untuk menjaga kadar cairan tubuh," pesan Lana. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
risiko gangguan pernapasan tidak sehat ispa kualitas udara musim kemarau