Oplah Menyusut Lebih dari Separuh, Ini Alasan Majalah Utusan Tetap Bertahan di Era Digital

Magang Radar Jogja • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:23 WIB

Oplah Menyusut Lebih dari Separuh, Ini Alasan Majalah Utusan Tetap Bertahan di Era Digital

Oplah Menyusut Lebih dari Separuh, Ini Alasan Majalah Utusan Tetap Bertahan di Era Digital

 

YOGYAKARTA – Ketika masyarakat semakin akrab dengan layar ponsel, Majalah Utusan memilih tetap mempertahankan edisi cetaknya. Keputusan itu bukan tanpa tantangan.

Oplah majalah yang sebelum tahun 2010 mampu mencapai 7.000 hingga 8.000 eksemplar kini telah menyusut lebih dari separuh. Namun, penurunan tersebut tidak membuat pengelolanya menyerah untuk mempertahankan penerbitan yang telah melintasi lebih dari tujuh dekade.

Bagi Redaksi Majalah Utusan dan Rohani, Slamet Riyadi, mempertahankan media cetak bukan semata-mata persoalan bisnis. Ada idealisme yang ingin terus dijaga, yakni menghadirkan bacaan berkualitas sekaligus menjalankan peran media sebagai sarana pengembangan iman dan pendewasaan manusia.

Baca Juga: Pagar SMP Negeri 4 Pengasih Diganjal Tiang Kayu, Bupati Kulon Progo Janjikan Perbaikan Tahun 2027

"Kita tetap berkomitmen bahwa spiritualitas kita adalah spirit kita, walaupun kecil tetap jalan terus," ujarnya Senin (12/10).

Slamet mengakui, perkembangan teknologi digital membawa tantangan besar bagi keberlangsungan media cetak. Kehadiran berbagai platform informasi dan meningkatnya penggunaan media sosial turut mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengakses bacaan.

Sebelum 2010, ketika perkembangan digital belum begitu masif, Majalah Utusan masih mampu mencatat oplah hingga 8.000 eksemplar. Namun, seiring perubahan zaman, jumlah tersebut terus mengalami penurunan hingga lebih dari separuhnya.

Baca Juga: PDAM Sleman Buka Promo Pasang Air Rp500 Ribu, Catat Syarat dan Cara Daftarnya

"Di era digital memang tantangannya tidak sedikit. Satu, kalau saya lihat kecenderungan orang saat ini lebih banyak bermain di medsos," katanya.

Meski demikian, menyusutnya oplah tidak serta-merta membuat pengelola meninggalkan penerbitan cetak. Menurut Slamet, keberadaan majalah juga menjadi bagian dari tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan kehidupan para pekerja yang terlibat di dalamnya.

"Karena ini kita tidak saja bisnis 100 persen. Bagaimana kita ini menjadi sawah kehidupan bagi siapa saja, terutama bagi karyawan," ungkapnya.

Baca Juga: Hasil Lab Keluar, DLH Sebut Limbah PT IBD di Pantai Cangkring Membahayakan Lingkungan

Majalah Utusan sendiri berada di bawah naungan Yayasan Basis bersama Majalah Basis dan Rohani. Ketiganya memiliki karakter penerbitan berbeda. Utusan berfokus pada pewartaan dan pembinaan iman umat Katolik awam, Basis menyajikan kajian budaya dan intelektual, sedangkan Rohani menghadirkan bacaan spiritual bagi kalangan religius.

Merangkul Generasi Muda Lewat Digital

Komitmen mempertahankan media cetak bukan berarti Majalah Utusan menutup diri terhadap perkembangan teknologi. Di tengah perubahan kebiasaan pembaca, pengelola mulai memanfaatkan berbagai platform digital untuk memperluas jangkauan, terutama kepada generasi muda.

Selain mempertahankan edisi cetak, Utusan mengembangkan portal berita utusan.net dengan konten yang berbeda dari majalahnya. Edisi digital Utusan juga tersedia melalui Gramedia Digital.

Baca Juga: Hasil Lab Keluar, DLH Sebut Limbah PT IBD di Pantai Cangkring Membahayakan Lingkungan

Media sosial seperti Instagram, Facebook, dan YouTube turut dimanfaatkan untuk memperkenalkan majalah melalui berbagai tayangan maupun diskusi.

Namun, Slamet menilai tantangan terbesar saat ini bukan hanya bagaimana menjangkau pembaca melalui platform digital, melainkan juga menumbuhkan kembali kebiasaan membaca secara serius dan mendalam.

Menurutnya, kemudahan memperoleh informasi melalui media sosial membuat masyarakat dihadapkan pada beragam pilihan bacaan singkat. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi media yang berupaya menghadirkan tulisan dengan kedalaman isi.

Baca Juga: Warga Dikepung Asap, Anggota DPR Riyono Kirim Oksigen ke Kalteng dan Kalbar

Karena itu, Utusan berusaha mempertahankan karakter bacaannya. Meski tulisan yang disajikan relatif singkat, yakni maksimal sekitar dua halaman, kedalaman pembahasan tetap menjadi perhatian.

"Untuk belajar serius itu sebuah tantangan. Maka Utusan, walaupun pendek-pendek ya, maksimal dua halaman, tapi tetap menawarkan kedalaman," tuturnya.

Upaya menjaga kualitas bacaan juga menjadi komitmen penerbitan lain di bawah Yayasan Basis. Slamet mencontohkan, edisi-edisi lama Majalah Basis hingga kini masih dicari oleh mahasiswa, dosen, dan peneliti sebagai bahan referensi maupun kajian filsafat.

Baca Juga: Penggunaan 7.500 Obor Peringatan HUT Ke-75 Kulon Progo Dinilai Tak Relevan dengan Kondisi Sosial

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa bacaan yang mendalam masih memiliki pembaca tersendiri di tengah perkembangan media digital.

Bertahan Bukan Berarti Menolak Perubahan

Bagi Majalah Utusan, mempertahankan penerbitan cetak dan mengembangkan platform digital bukanlah dua pilihan yang harus saling meniadakan. Keduanya menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan media sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembaca.

Slamet menegaskan, komitmen Utusan tetap berpijak pada visi penerbitannya sebagai media pengembangan iman umat dan pendewasaan manusia.

Baca Juga: Bakar Kaus Hingga Bendera Belambang SNEMAZ, SMP Negeri 5 Sleman Tindak Tegas Siswa yang Terlibat Gen

Di tengah menjamurnya media digital, idealisme tersebut menjadi alasan bagi pengelola untuk terus menghadirkan bacaan yang tidak hanya menawarkan informasi, tetapi juga mengajak pembaca memahami dan merenungkan persoalan secara lebih mendalam.

Perjalanan panjang Majalah Utusan memperlihatkan bahwa bertahan di tengah perubahan zaman tidak cukup hanya dengan menjaga penerbitan tetap berjalan. Ada kebutuhan untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan karakter dan tujuan yang sejak awal menjadi dasar keberadaannya.

Oplah boleh menyusut, tetapi bagi pengelolanya, komitmen untuk terus menghadirkan bacaan mendalam tetap menjadi alasan Majalah Utusan mempertahankan edisi cetak di tengah derasnya arus informasi digital.

Abelia Nababan

Editor : Heru Pratomo
majalah utusan Era Digital katolik oplas Spiritualitas