Kenalkan Pemanfaatan Aplikasi BANOO bagi Pembudidaya Ikan, Mudahkan Catat Biaya Operasional

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Sabtu, 10 Oktober 2026 | 06:00 WIB

 

PERLU KESERIUSAN: Sejumlah pelaku usaha pembudidaya ikan mengikuti sosialisasi pemanfaatan aplikasi BANOO. Acara berlangsung di ruang Gurami Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Jumat (9/10/2026). (Foto: Cintia Yuliani/Radar Jogja)
PERLU KESERIUSAN: Sejumlah pelaku usaha pembudidaya ikan mengikuti sosialisasi pemanfaatan aplikasi BANOO. Acara berlangsung di ruang Gurami Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Jumat (9/10/2026). (Foto: Cintia Yuliani/Radar Jogja)

JOGJA - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY mengenalkan aplikasi BANOO untuk memudahkan pembudidaya ikan mencatat biaya operasional hingga menghitung keuntungan usaha. Melalui aplikasi ini, pelaku usaha diharapkan dapat memantau kondisi usahanya secara lebih terukur sebagai dasar evaluasi mengambil keputusan.

“Dengan aplikasi BANOO, harapannya masyarakat bisa melakukan pencatatan secara real time. Mereka dapat memasukkan biaya operasional dan aktivitas budidaya yang dilakukan,” ujar Kepala DKP DIY R. Hery Sulistio Hermawan di sela sosialisasi aplikasi BANOO yang  digelar di ruang Gurami lantai dua DKP DIY, Jumat (9/10/2026). 

Hery mengatakan, selama ini sebagian pembudidaya masih membutuhkan waktu  saat menghitung kondisi keuangan usahanya. Padahal, informasi mengenai biaya operasional, hasil panen, hingga pendapatan menjadi hal penting untuk mengetahui keberlanjutan usaha.

Baca Juga: Ingin PSS Sleman Raih Kemenangan di Laga Melawan PSM Makassar

Pembudidaya juga dapat mencatat hasil panen. Mulai dari jumlah produksi hingga harga jual. Data tersebut kemudian dapat digunakan menghitung kondisi keuangan usaha, termasuk apakah mengalami keuntungan, kerugian, atau impas. Dengan demikian, pelaku usaha tidak sekadar menjalankan kegiatan budidaya. Tapi juga memiliki catatan yang dapat digunakan mengevaluasi hasil usahanya.  

“Informasi tersebut diharapkan membantu pembudidaya menentukan langkah perbaikan ke depan,” terang Hery.

Diakui, penggunaan aplikasi BANOO membutuhkan keseriusan dan kebiasaan. Terutama dalam melakukan pencatatan secara rutin. Karena itu, Pemda DIY bersama perguruan tinggi dan masyarakat perlu berkolaborasi agar aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: Van Gastel Enggan Berspekulasi soal Kekuatan Persija Jakarta, Tetap Rahasiakan Game Plan PSIM Jogja

Perlu diketahui, aplikasi BANOO dikembangkan bersama Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM dengan melibatkan bidang keilmuan lain. Saat ini, pengembangan telah memasuki tahap ketiga setelah sebelumnya dilakukan sejumlah perbaikan untuk memudahkan penggunaan. Hery ingin aplikasi BANOO menjadi salah satu alat bantu bagi pelaku usaha budidaya dalam mengambil keputusan.  "Ketika mengetahui posisi usahanya, mereka bisa mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

 Salah satu pengembang aplikasi BANOO dari Departemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM Endah Prihatiningtyastuti menjelaskan, aplikasi tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan dampak perubahan iklim terhadap usaha budidaya ikan. "Pada kondisi tertentu, perubahan iklim bahkan dapat meningkatkan risiko kerugian selama satu siklus budidaya," tuturnya.

 Endah menambahkan, pengembangan BANOO juga berangkat dari perhatian terhadap perbedaan dampak perubahan iklim terhadap laki-laki dan perempuan dalam keluarga pembudidaya. Perempuan kerap ikut menanggung dampak ekonomi ketika pendapatan keluarga menurun. Namun, keterbatasan akses terhadap informasi dan teknologi membuat mereka tidak selalu terlibat dalam pengambilan keputusan terkait usaha budidaya.

Baca Juga: Jelang Jamu PSM Makassar, Chemistry Pemain PSS Sleman Meningkat

Melalui aplikasi ini, perempuan diharapkan dapat mengambil peran dalam pencatatan keuangan usaha. Sedangkan laki-laki lebih berfokus pada aspek teknis budidaya. Dengan begitu, keduanya bisa bekerja sama dalam mengelola usaha keluarga.

Anggota Komisi B DPRD DIY Reda Refitra Safitrianto mendukung berbagai upaya terobosan yang dilakukan DKP, termasuk mengenalkan aplikasi BANOO ke pembudidaya ikan. Reda menilai selama ini program dan kegiatan yang dilakukan DKP cukup. Banyak dampak yang dirasakan.

Dia sepakat agar pembudidaya ikan membiasakan sehingga penggunaan aplikasi BANOO bisa menjadi budaya keseharian. “Aplikasi BANOO harus diinformasikan secara merata ke masyarakat terutama para pembudidaya ikan di empat kabupaten dan kota se-DIY,” pinta Reda. (cin/kus)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
BANOO Endah Prihatiningtyastuti UGM DKP DIY pembudidaya ikan