RADAR JOGJA - Dua siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta berhasil meraih medali emas di ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Tingkat Nasional 2026. Prestasi tersebut diraih Muhammad Rizky Arif Budi Wicaksono dan Rekha Dyah Ayu Ferdita. Keduanya melakukan penelitian di bidang ilmu sosial humaniora (ISH). Subtemanya sosiologi komunikasi dan antropologi sosial.
“Penelitian kami lebih spesifik pada analisis dampak dari sisi lahan,” ujar Rizky saat ditemui di SMA Negeri 6 Yogyakarta, Senin (5/10).
Penelitian dilakukan selama tujuh bulan. Tepatnya, sejak Februari lalu. Bersama Rekha, dia turun ke lapangan mengumpulkan sejumlah data. Aspek lingkungan dan sosial ekonomi ikut diteliti. Tak hanya mengandalkan studi literatur. Rizky dan Rekha juga mengadakan wawancara dan observasi ke masyarakat.
Dari proses itu, menghasilkan strategi yang diharapkan bisa diterapkan masyarakat di lokasi penelitian. Adapun lokasi penelitian diadakan di perbukitan di perbatasan antara Godean dan Seyegan, Sleman.
Baik Rizky maupun Rekha merasa terkejut bisa meraih medali emas tersebut.Terlebih, jumlah medali emas yang diperebutkan tahun ini lebih terbatas dibandingkan dengan sebelumnya. “Awalnya kami tidak menyangka bisa mendapatkan emas,” ungkap Rizky.
Sedangkan Rekha mengungkapkan, sejumlah tantangan selama penelitian berlangsung. Keduanya harus membagi waktu antara penelitian, tugas sekolah, hingga mengurus berbagai keperluan administrasi penelitian. Lokasi penelitian jaraknya juga relatif jauh dengan tempat tinggal mereka. Semua itu menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Dua Atlet Menembak Gunungkidul Bidik Tiket Olimpiade 2028: Bupati Endah Pesan Fokus dan Aja Kedhep
Menyikapi itu, keduanya menerapkan skala prioritas. Mengatur waktu. Mereka biasanya menentukan titik kumpul lebih dahulu agar perjalanan ke lokasi penelitian bisa dilakukan bersama-sama.
Penyerahan medali emas OPSI Tingkat Nasional 2026 dilakukan di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada Selasa (29/9) lalu. Kegiatan tersebut diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.
Koordinator Bidang Prestasi Riset dan Inovasi SMA Negeri 6 Yogyakarta Aris Rahmiyati menjelaskan, sekolah memberikan pendampingan secara bertahap. Dilakukan secara rutin melalui pembimbingan. Pendampingan di lapangan, termasuk fasilitasi surat-menyurat. “Setelah masuk tahap final, kami lebih intensif mempersiapkan mereka,” terang Aris.
Dikatakan, OPSI merupakan ajang tahunan yang cukup bergengsi. Karena itu, SMA Negeri 6 Yogyakarta melakukan penjaringan sejak siswa di kelas X melalui program duta prestasi. Siswa dapat memilih bidang yang diminati. Mulai duta prestasi riset, seni, olahraga, hingga olimpiade. Mereka yang memilih bidang riset kemudian difasilitasi mengikuti berbagai kompetisi, termasuk OPSI. Fasilitasi berupa pembimbingan. “Seiring berjalannya waktu dan sesuai tahapan lomba, peserta akan mengerucut,” jelasnya.
Baca Juga: Kerugian Trans Home Dilaporkan Capai Rp 20 Miliar, Penyebab Kebakaran Masih Belum Diketahui
Aris menambahkan, siswa yang belum berhasil melaju ke tahap final tetap mendapatkan kesempatan mengikuti kompetisi penelitian lainnya. Dengan begitu, proses pembinaan riset di sekolah tidak berhenti pada satu ajang saja.
Kepala Sekolah SMA Negeri 6 Yogyakarta Sri Moerni mengatakan, keberhasilan siswa dalam ajang penelitian tidak lepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak. Sekolah tidak hanya mengandalkan guru untuk memberikan pendampingan.
Ini mengingat para guru juga memiliki tanggung jawab dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) reguler maupun program sekolah lainnya. “Kami bermitra dengan banyak pihak supaya bibit-bibit unggul anak-anak benar-benar bisa terarah dan berkembang optimal,” jelasnya.
Baca Juga: Lempar Kesalahan dan Berbelit, Hakim Geram di Persidangan Ketua Yayasan Daycare Little Aresha
Menurut dia, pembinaan penelitian juga telah dimulai melalui kurikulum intrakurikuler. Siswa kelas X dan XI mendapatkan mata pelajaran dasar-dasar penelitian. Pembelajaran tersebut menjadi wadah awal mengenali minat dan potensi siswa di bidang riset.
Dari pembelajaran tersebut, siswa didorong mengembangkan ide yang dimiliki menjadi sebuah proposal penelitian. “Ketika ada informasi lomba, tim kemudian menelaah proposal anak-anak yang sudah disiapkan,” terang Sri.
Di samping mengembangkan proposal yang sudah ada, sekolah tetap membuka peluang bagi siswa yang memiliki gagasan baru di luar penelitian yang telah disiapkan sebelumnya.
Dengan pola tersebut, penjaringan peserta lomba dapat dilakukan lebih terarah. Sekaligus memberikan ruang bagi siswa mengembangkan ide dan kreativitasnya. "Harapannya melalui prestasi yang telah dicapai, dapat berpengaruh terhadap branding sekolah dan juga research scho of Yogyakarta," paparnya (cin/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita Sumber : Radar Jogja