YOGYAKARTA - Perkumpulan Seni Teater Jogja sukses menggelar pementasan drama bertajuk Saksi Mata dan Telinga.
Pertunjukan berlangsung gayeng di Gedung Teater Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta, Jumat (2/10/2026) malam. Dipadati penonton dari berbagai kalangan.
Meski melibatkan deretan pemain yang sebagian belum pernah berakting, kolaborasi di atas panggung tampak jujur dan menggugah lewat olah tubuh, tata bunyi, serta pencahayaan yang apik.
Sutradara pertunjukan, Harjuna menyebut alih wahana prosa ke panggung memberikan kebebasan eksplorasi yang luas bagi para pemeran.
"Karya Seno Gumira dipilih karena gagasannya yang padat pesan dan diksinya yang indah. Teks sastra dipertemukan langsung dengan bahasa tubuh, suara, dan kesunyian di panggung," ungkap Juna disela pertunjukan.
Di balik artistiknya, pementasan ini menyodorkan pesan kritis yang relevan dengan kehidupan modern. Di tengah paparan informasi yang terlampau padat, publik sering melihat peristiwa tanpa memahami dan mendengar suara tanpa peduli.
Produser pementasan, Dr. Johan Cahya, menegaskan teater hadir sebagai ruang refleksi sosial bagi masyarakat.
"Pementasan ini mengajak kita kembali pada dua kemampuan dasar manusia: melihat secara jernih dan mendengar dengan hati-hati," ujarnya.
Pementasan digarap selama tiga bulan. Diperkuat jajaran pemain, seperti Totok Suryo Nugroho, Dendek Wiranegara, Kriswan Sriyanto, hingga Sr Anna Marie, dengan iringan musik Ndoro Ndaru dan tata lampu Rahmat.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja