Niat Jogging di Malioboro, Wisatawan Ikut Membatik

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 21:41 WIB
EVENT PERDANA: Suasana kawasan Malioboro Jogjakarta dalam agenda Simfoni 1001 Pembatik, kemarin (3/10) pagi. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
EVENT PERDANA: Suasana kawasan Malioboro Jogjakarta dalam agenda Simfoni 1001 Pembatik, kemarin (3/10) pagi. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

 

Ribuan Peserta Simfoni 1001 Pembatik Tumpah Ruah Ikut Penasaran Mencoba

JOGJA - Seribuan peserta mengikuti Simfoni 1001 Pembatik dengan membatik bersama di sepanjang Jalan Malioboro, kemarin (3/10) pagi. Kegiatan yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY bersama sejumlah pihak itu turut menarik perhatian wisatawan yang melintas, bahkan beberapa ikut mencoba membatik.

"Animonya sangat tinggi, akhirnya panitia juga harus membatasi karena banyak yang masih ingin ikut. Alhamdulillah, puji syukur karena ini juga dalam rangka nguri-uri kabudayan, terutama di kota Jogja ini," kata Panitia Pengarah Simfoni 1001 Pembatik sekaligus pengurus KADIN DIY Dian Ariani di sela kegiatan.

 Dian menjelaskan, sepanjang ruas jalan sempat ditutup sementara untuk acara tersebut sejak pukul 06.00-09.00. Dan dirancang untuk membawa proses membatik lebih dekat kepada masyarakat. Selain memperingati Hari Batik Nasional, event tersebut menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-270 Kota Jogja.

Baca Juga: Catat! Kenalkan Budaya dan Sejarah Yogyakarta, Bank BPD DIY Bakal Gelar Malioboro Run 

 Salah satu hal yang ingin diperkenalkan melalui kegiatan tersebut adalah proses membatik itu sendiri. Batik, dinilai tidak semestinya hanya dipahami sebagai pakaian atau motif yang dikenakan pada acara tertentu.

 Terlebih, peserta yang datang tidak hanya berasal dari kalangan pembatik atau komunitas budaya. Anak-anak muda, mahasiswa, hingga masyarakat dari luar daerah turut ambil bagian.

 "Bagaimana proses membatik, membudayakan batik itu tidak cuma ke orang-orang tua atau pembatik ya, termasuk ke anak-anak muda," ujarnya.

 Sepanjang lokasi kegiatan, peserta mengerjakan kain yang telah diberi pola. Motif yang digunakan beragam, termasuk motif yang merepresentasikan Sumbu Filosofi DIY, seperti Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak hingga sejumlah ikon Jogja lainnya, seperti becak dan andong yang menjadi bagian dari pola yang dibatik.

Kawasan Jalan Malioboro sendiri dipilih karena dalam jalur sumbu filosofi, juga merupakan salah satu pusat aktivitas wisata di Kota Jogja. Dengan begitu, proses membatik dapat disaksikan langsung oleh masyarakat maupun wisatawan yang sedang berada di kawasan tersebut.

"Kalau di Malioboro kan orang dari luar kota pun juga pasti hadir di sini untuk bisa melihat bagaimana sih sebetulnya proses membatik dan ikut melestarikan budaya Indonesia tentunya," jelasnya.

Baca Juga: Full Pedestrian Malioboro Berpotensi Sulitkan Ojol, Wakanda Minta Pemprov DIY Matangkan Rencana

 Salah satu wisatawan asal Surabaya yang sedang berlibur di Jogja sekaligus menghadiri agenda konser Riska Alifia, awalnya hanya berencana berjalan-jalan sambil jogging di kawasan Malioboro. Namun, kerumunan peserta membatik membuat perhatiannya tertuju pada kegiatan tersebut.

 "Saya niatnya jogging di area Malioboro, tapi ternyata ada agenda membatik ini, panjang sekali dan banyak pesertanya. Saya kira dadakan, ternyata mereka sudah daftar. Tadi saya sempat ikut coba membatik sebentar, sekadar mencoba saja," katanya.

Suasana tersebut turut menarik perhatian GKBRAA Paku Alam X, atau yang akrab disapa dengan Gusti Putri. Ia hadir sekaligus ikut membatik dan mencoba menggoreskan malam pada kain dengan motif Tugu Jogja atau Tugu Golong-Gilig.

Menurutnya, pengalaman langsung menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mengenal batik sebagai produk jadi. Proses di balik selembar kain batik juga perlu dipahami sebagai bagian dari warisan budaya.

"Saya senang sekali dengan diadakannya acara ini, Simfoni 1001 Pembatik. Ini acara yang luar biasa dan baru pertama kali diadakan di Jogja," kata Gusti Putri.

Ia menilai tingginya minat masyarakat untuk mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan adanya ketertarikan terhadap proses membatik. Bahkan, sebagian masyarakat yang ingin bergabung tidak kebagian kuota karena peserta telah dibatasi.

"Betapa banyak masyarakat yang pengin sekali membatik. Semoga acara ini berkelanjutan dan juga bisa menginspirasi masyarakat bahwa batik itu tidak hanya warisan budaya masa lalu, tapi juga bisa dikembangkan untuk masa kini," ujarnya.(iza/wia)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Simfoni 1001 Pembatik pembatik paku alam x Sumbu Filosofi Malioboro