JOGJA - Tidak semua seniman dan kreator yang mampu menghasilkan karya, juga memiliki ruang atau kemampuan yang sama untuk memasarkannya.
Persoalan itu menjadi salah satu alasan Novandy Essa dan Icka Gavrilla akhirnya membangun Sama Sesama, sebuah toko kurasi yang menjadi tempat bagi kreator untuk menjual karya dan produk kreatif mereka.
Sama Sesama mulai beroperasi pada Februari 2026 lalu.
Konsepnya tidak sekadar menjual produk buatan sendiri, tetapi juga membuka ruang bagi kreator lain untuk menitipkan karya melalui sistem titip jual.
Baca Juga: Italia Rusak Momen Debut Kandang Zinedine Zidane bersama Prancis
Ide tersebut bermula ketika Novandy dan Icka berbincang di kawasan Prawirotaman pada Desember 2025.
Keduanya sama-sama berkecimpung di dunia kreatif.
Novandy merupakan desainer grafis sekaligus ilustrator, sedangkan Icka Gavrilla memiliki latar belakang sebagai seniman botani dan perancang busana.
Dari obrolan tersebut, muncul gagasan untuk membuat wadah yang dapat membantu sesama kreator memasarkan produk mereka.
Sebab, menurut Novandy, persoalan yang kerap dihadapi kreator bukan hanya membuat karya, tetapi juga menentukan ke mana karya tersebut harus dijual.
Baca Juga: Gol Ke-200 dan 201 Kevin De Bruyne Bawa Belgia Taklukkan Turki
"Melihat teman-teman di dunia kreatif kadang mereka bikin karya atau merch, tapi susah buat menjual, bingung mau jual ke mana. Karena kami sudah tahu cara dan langkah menjualnya, akhirnya kami berpikir untuk bikin wadah saja," kata Novandy pada Radar Jogja, Sabtu (3/10/2026).
Nama Sama Sesama pun dipilih untuk merepresentasikan gagasan tersebut.
Novandy dan Icka ingin usaha yang dibangun menjadi ruang kolaborasi antarkreator, bukan hanya membawa nama keduanya.
Setelah ide muncul pada Desember 2025, keduanya langsung mengeksekusinya. Novandy menangani sebagian besar operasional sekaligus mengerjakan pengembangan merek, sedangkan Icka menjadi rekan yang turut mendiskusikan arah usaha.
Baca Juga: Gol Ke-200 dan 201 Kevin De Bruyne Bawa Belgia Taklukkan Turki
Saat pertama kali dibuka pada Februari 2026, Sama Sesama sudah berhasil menggandeng sekitar 25 kreator.
Jumlah tersebut kemudian berkembang menjadi sekitar 70 kreator hingga awal Oktober 2026 ini.
Para kreator tersebut tidak hanya berasal dari Jogja, tetapi tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Mayoritas merupakan kreator individu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta seniman yang memiliki produk atau merek sendiri.
Dijelaskannya, model kerja samanya menggunakan sistem titip jual dengan pembagian hasil 30:70.
Sebelum masuk ke toko, produk terlebih dahulu melalui proses kurasi.
Kreator cukup mengirimkan katalog produk untuk kemudian dipertimbangkan berdasar karakter karya, nilai yang dibawa, serta kesesuaiannya dengan konsep Sama Sesama.
Baca Juga: Ketat, Delapan Kelurahan di Kota Magelang Berebut Jadi Lima Kampung Wisata
"Saya percaya setiap karya itu pasti punya value. Kalau ada karya yang tidak terkurasi dijual atau dititip di sini, bukan berarti karyanya tidak bagus. Kadang menurut saya bagus, tapi belum tentu cocok dengan target pasar kami," ujar Novandy.
Proses tersebut diakuinya menjadi salah satu tantangan tersendiri karena dunia kreatif dan bisnis tidak selalu berjalan beriringan.
Produk yang secara artistik dianggap menarik belum tentu memiliki pasar yang sama.
Karena itu, Novandy mengaku tidak hanya melihat kualitas visual produk.
Ia juga mempertimbangkan kemungkinan produk tersebut diterima konsumen.
Menurutnya, hal tersebut penting agar kreator yang menitipkan karya tidak sekadar memiliki ruang untuk memajang, tapi juga memiliki peluang untuk mendapat hasil dari produknya.
Sama Sesama kini menjual beragam karya kreatif, seperti stiker, gantungan kunci, buku catatan, pin, gelang, mug, kartu pos, tote bag, cetakan seni, hingga berbagai produk cendera mata dan kerajinan.
Baca Juga: Sering Makan Junk Food? Ini Dampaknya yang Diam-Diam Mengintai Tubuh
Harga produk pun dibuat beragam. Beberapa produk seperti stiker dibanderol mulai sekitar Rp4 ribu, sedangkan produk lainnya dapat mencapai ratusan ribu rupiah, terutama produk kerajinan yang dibuat secara manual.
Dalam menjalankan toko, Novandy tidak menargetkan pertumbuhan secara instan. Ia lebih memilih membangun usaha secara bertahap bersama para kreator yang terlibat.
"Saya tipenya suka yang bertumbuh. Kalau ada yang ingin bisnis langsung besar, saya justru sukanya bertumbuh, berprogres, terus bareng-bareng," tuturnya.
Konsep tersebut juga membuat Sama Sesama tidak membatasi penerimaan kreator dalam periode tertentu. Kreator dapat menghubungi mereka kapan saja untuk menawarkan produk. Selama memenuhi proses kurasi dan ketentuan kerja sama, produk dapat dipertimbangkan untuk masuk.
Dari sisi operasional, toko saat ini masih dijalankan oleh Novandy dan Icka dengan dukungan tiga pekerja paruh waktu yang direkrut dari kalangan mahasiswa.
"Toko Sama Sesama beroperasi setiap hari pukul 10.00 hingga 22.00 WIB dengan sistem dua sif," bebernya.
Menariknya, Novandy menguraikan, target pasar yang awalnya diperkirakan cukup spesifik, yakni Gen Z, kolektor merchandise, serta orang-orang yang dekat dengan dunia kreatif, ternyata berkembang lebih luas.
Baca Juga: Detoks Medsos Jadi Upaya Kurangi Screen Time dan Lebih Produktif Berkegiatan
Dia melihat pengunjung toko juga datang bersama keluarga, rombongan dari luar kota, hingga orang yang mencari alternatif oleh-oleh khas Jogja selain makanan.
Ke depan, Sama Sesama tidak hanya ingin berkembang sebagai toko fisik. Novandy memiliki gagasan untuk menghadirkan pasar seni di Jogja yang memungkinkan para kreator memiliki stan sendiri untuk menjual karyanya.
Bagi Novandy, gagasan tersebut tetap berangkat dari semangat awal Sama Sesama, yakni mempertemukan kreator dengan pasar sekaligus menciptakan ruang agar karya yang mereka hasilkan memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal dan dijual.
"Goals saya tidak cuma di toko seperti ini. Saya ingin suatu saat ada art market seperti yang ada di Jakarta, tapi mereka punya booth sendiri dan kami yang mendirikannya di Jogja," pungkasnya. (iza)
Editor : Meitika Candra Lantiva