Dampak El Nino, Beras Sumbang Inflasi Tertinggi di Jogja: Tekan Produksi dan Pasokan di Pasaran

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 19:09 WIB
CAPTION: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja Joko Prayitno (baju korpri) saat ditemui di kantornya, Kamis(1/10/2026). IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA
CAPTION: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja Joko Prayitno (baju korpri) saat ditemui di kantornya, Kamis(1/10/2026). IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA

JOGJA – Harga beras menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Kota Jogja pada September 2026. Fenomena El Nino yang berdampak pada penurunan produksi dan pasokan padi turut mendorong kenaikan harga beras, terutama jenis medium dan premium, dengan andil inflasi mencapai 0,05 persen.

Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno mengatakan, menurunnya jumlah produksi panen berimplikasi pada penurunanan jumlah pasokan di pasaran. Praktis rantai pasok yang tidak optimal ini membuat harga beras naik dan menyumbang inflasi 0,05 persen. Angka ini masuk yang tertinggi selama September.

“Beras termasuk komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat, sehingga kenaikan harganya berpengaruh signifikan terhadap inflasi," ujar Joko saat ditemui di kantornya, Kamis(1/10/2026).

Baca Juga: 1,15 Juta Pekerja DIY Masih di Sektor Informal, MPBI Dorong Pemprov Perkuat Lapangan Kerja Formal

Berdasarkan hasil pemantauan dan survei lapangan, Joko mengungkap kenaikan harga menyasar jenis beras kualitas medium dan premium. Sementara untuk beras atabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) disebut normal.  Secara tahunan tingkat inflasi di Kota Jogja tercatat mencapai 3,31 persen.

Meski terbilang cukup tinggi, angka tersebut dinilai masih berada dalam koridor target inflasi nasional sebesar 3,5 persen. Sementara selama sembilan bulan berjalan tahun ini berada pada level yang cukup terjaga di angka 1,93 persen.   

Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi kenaikan laju inflasi menjelang penutupan tahun. Selain faktor musim kemarau yang berpotensi memundurkan masa tanam padi, Kota Jogja juga menghadapi tantangan sebagai wilayah konsumen atau sangat mengandalkan pasokan komoditas pangan dari hasil produksi luar daerah.

Baca Juga: Comeback Dramatis di Kuarter Keempat, SMPN 4 Depok Tundukkan SMPN 6 Jogja

“Kota Jogja murni pengonsumsi, karena lahan pertanian di kota sangat terbatas. Pasokan sangat bergantung pada daerah luar," kata Joko.  

Secara terpisah, Direktur Operasional Perum Bulog Andi Afdal mengatakan, jumlah cadangan beras yang tersimpan di gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia mencapai 4,5 juta ton. Ia memastikan pasokan beras untuk masyarakat akan tetap terjaga selama masa El Nino.

Ia meminta agar masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi lonjakan kebutuhan pangan pada akhir tahun maupun awal tahun depan.  Selain itu, kinerja serapan gabah oleh Bulog juga menunjukkan hasil positif. Hingga akhir September 2026, capaian serapan gabah telah melampaui target tahunan sebesar empat juta ton. 

Baca Juga: PDAM Kulon Progo Diminta Tingkatkan Kuantitas dan Kualitas Pelayanan Air Bersih Bumi Binangun

“Kami memang sudah memprediksi dan bersiap dari awal bahwa El Nino akan datang, sehingga cadangan beras pemerintah di gudang Bulog sudah disiapkan sebagai buffering (tampungan) hingga panen berikutnya,” katanya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
pasokan berkurang dampak el nino Panen Padi Menurun penyumbang inflasi harga beras