Songsong Hari Batik Nasional dan HUT Kota Jogja, Agung Suhartanto Pamerkan 100 Karya Batik

Rizky Wahyu • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 05:30 WIB
SARAT MAKNA: Agung Suhartanto dengan karya-karyanya. Ada 100 karya batik yang dipamerkan di Taman Budaya Embug Giwangan, Jogja. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
SARAT MAKNA: Agung Suhartanto dengan karya-karyanya. Ada 100 karya batik yang dipamerkan di Taman Budaya Embug Giwangan, Jogja. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)

JOGJA - Menjelang Hari Batik Nasional 2 Oktober sekaligus memperingati HUT Kota Jogja, seniman asal Jogja Agung Suhartanto menggelar pameran tunggal bertajuk Meneroka 'Perjalanan Elemen Nusantara' di Taman Budaya Embung Giwangan. Pameran yang digelar 27 September hingga 2 Oktober 2026 ini memajang 100 karya batik kontemporer.

​Dalam pameran kali ini, Agung mengusung tema besar 'Meniti Kebesaran Nusantara' untuk meneropong beragam simbol budaya dari berbagai penjuru tanah air. Simbol-simbol itu hadir mewakili kekayaan pulau-pulau di Indonesia. Mulai tradisi karapan sapi khas Madura, ornamen bunga teratai Kalimantan, tradisi tabut Bengkulu, hingga ukiran khas suku Asmat di Papua.

​Perjalanan panjang di balik pameran ini membutuhkan konsistensi luar biasa. Agung mengungkapkan, proses eksplorasi dan pengerjaan karya tersebut memakan waktu hingga bertahun-tahun.

Baca Juga: Pungutan Wali Murid Dibatalkan, MTsN 9 Sleman Optimalkan Anggaran Bosda dan Bosnas

 "Eksperimen saya mulai tahun 2012 sampai 2016. Setelah titik pertama project 100 karya ini ditentukan, proses pengkaryaannya memakan waktu sekitar empat tahun murni, ditambah dua tahun finishing touch. Jadi total sekitar enam tahun," kata Agung saat ditemui Radar Jogja, Minggu (27/9).

Agung menjelaskan, dalam pameran kali ini ada salah satu hal yang menarik perhatian. Yakni salah satu karyanya yang memuat simbol murni dari Kalimantan. Karya itu memuat pesan visual mendalam mengenai pengelolaan sumber daya alam.

 "Karya itu lebih mengkritik bahwa kita ini seperti menumpang di lahan sendiri. Kita begitu kaya, tetapi pengelolaannya untuk rakyat banyak masih sangat kurang. Namun penekanan utama dari pameran ini tetap pada kekayaan Nusantara yang seharusnya bisa menyejahterakan rakyatnya," jelasnya.

 Agung mengungkapkan, seluruh 100 karya yang dipajang dalam pameran tunggalnya murni menggunakan media kain dengan teknik batik tulis manual 100 persen. Agung sengaja menciptakan gaya, karakter, dan identitas keruangan yang baru agar karyanya memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dari karya batik kontemporer lain.

Baca Juga: Pemkot Jogja Uji Coba Drop Zone Bus Pariwisata, Sosialisasi Terbatas dan Akses Berbelok Jadi Kendala

 ​Rencana awal pameran 100 karya ini sebenarnya diniatkan untuk memecahkan rekor dunia dan sempat dijadwalkan tampil di Museum Nasional. Namun rencana itu sempat tertahan akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020 silam dan penyesuaian jadwal ruang pameran.

Oleh karena itu, pada momentum penutupan pameran 2 Oktober mendatang pun dipilih bertepatan langsung dengan peringatan Hari Batik Nasional. ​Melalui pendekatan warna-warna cerah dan dimensi visual baru, ia berharap dapat mengikis stigma generasi muda yang kerap menganggap batik sebagai seni yang kaku atau ketinggalan zaman.

  "Saya mencoba mengangkat warna-warna baru yang menggugah bahwa batik itu bisa berwarna, dimensional, dan bercerita. Harapannya generasi muda tidak malu dan kembali bangga dengan seni peninggalan leluhur ini," lontarnya.

Salah seorang pengunjung pameran, Ul Anisa menyatakan karya-karya yang dipamerkan Agung Suhartanto ini sangat menarik. Sebab, menurutnya, sang seniman berhasil mengeksplorasi dan menampilkan teknik tutupan dan pencelupan.

 "Batik ternyata tidak hanya klasik, tapi bisa dikembangkan dengan warna-warna yang jauh lebih menarik. Waktu pertama lihat karyanya Mas Agung, langsung 'wow'. Warna dan tekniknya luar biasa, bahkan kalau dihitung berapa kali proses pencelupannya saya sampai tidak tahu," ungkapnya.

Tak hanya itu, Anisa juga kagum dengan pendekatan visual yang berani dan full color yang ditampilkan pada karya-karya Agung Suhartanto. Baginya, itu sangat relevan untuk menarik minat generasi muda terhadap seni batik.

"Untuk anak muda, harapannya ke depan bisa lebih menyukai batik. Walaupun tidak harus selalu yang tradisional, karya kontemporer yang full color seperti ini pasti lebih masuk dan disukai anak-anak muda," tandasnya. (ayu/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
Agung Suhartanto karya batik kontemporer hari batik nasional Batik HUT kota Jogja