JOGJA - Kawasan Malioboro akan menjadi ruang membatik kolosal dalam gelaran Simfoni 1001 Pembatik, Sabtu (3/10). Lebih dari 1.000 peserta dari berbagai komunitas, instansi, perguruan tinggi, dan sekolah akan membatik bersama di sepanjang Jalan Malioboro.
Kegiatan yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY bersama sejumlah pihak tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Batik Nasional sekaligus rangkaian HUT ke-270 Kota Jogja. Peserta akan membatik mulai pukul 06.00 hingga 09.00, dengan lokasi kegiatan membentang dari Perempatan Batik Terang Bulan hingga Titik Nol Kilometer.
Ketua Organizing Committee Simfoni 1001 Pembatik Indah Rahayu Muniharti mengatakan, kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan aktivitas membatik secara massal. Panitia ingin memperkenalkan proses pembuatan batik kepada masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa batik membutuhkan keterampilan dan tahapan tertentu.
“Yang paling penting nanti setelah ada acara ini, masyarakat mengetahui bahwa batik itu tidak semudah yang kita lihat,” kata Indah dalam konferensi pers, Selasa (29/9).
Baca Juga: Sengit Hingga Detik Akhir, SMA Budi Mulia Dua Tumbangkan SMAN 5 Yogyakarta 26-24 di DBL 2026 DIY
Menurut Indah, masyarakat perlu memahami perbedaan antara batik tulis, batik kombinasi, dan kain tekstil bermotif batik yang dibuat menggunakan teknik printing. Dalam kegiatan tersebut, proses penggunaan malam dengan canting akan diperlihatkan secara langsung.
Setiap peserta telah mendapatkan kain yang dilengkapi pola. Peserta kemudian mengisi pola tersebut menggunakan canting dan malam sebelum kain menjalani proses pewarnaan.
“Jadi nanti para pembatik itu sudah disiapkan canting, sudah disiapkan malam, dan sudah disediakan kain. Nah, kain itu akan punya motif. Yang kita ambil adalah sumbu filosofi,” ujarnya.
Baca Juga: 1.423 Pekerja Kena PHK, Kepala Disnakertrans DIY: Efisiensi dan Kontrak PKWT Tak Diperpanjang
Kain yang dibatik peserta tidak menggunakan satu motif yang sama. Panitia menyiapkan lebih dari 140 motif yang merepresentasikan sumbu filosofi dan berbagai ikon Jogja.
Motif yang digunakan antara lain Sido, Sekar Jagad, Parang, Ceplokan, dan Nitik. Selain itu, terdapat motif yang menggambarkan Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak hingga kawasan selatan Jogja.
Sejumlah ornamen juga merepresentasikan kehidupan dan ikon Kota Jogja, seperti andong dan becak.
“Lebih 140 motif yang besok akan kita pakai menjadi blok. Jadi kita tidak menggunakan nama blok A, B, C, tapi motif. Jadi besok bisa untuk dilihat,” katanya.
Setelah proses membatik selesai, karya peserta yang dapat diselesaikan sesuai waktu akan dibawa ke Balai Besar Kerajinan dan Batik Jogja untuk menjalani proses pewarnaan. Setelah itu, kain dikembalikan kepada peserta.
Baca Juga: Bukan Cuma Layang-Layang, Momen Manis Warga Minggir Berbagi Cerita di Bawah Langit Sleman
Panitia membatasi aktivitas membatik hingga pukul 09.00 karena kegiatan berlangsung di ruas jalan umum Malioboro. Peserta yang belum menyelesaikan seluruh pola tetap dapat membawa pulang kain, tetapi tidak semua bagian kain dapat mengikuti proses pewarnaan.
Selain membatik, Simfoni 1001 Pembatik juga akan menghadirkan pertunjukan tari dan musik serta sejumlah stan UMKM. Peserta juga akan mengenakan kaus bermotif Sekar Jagad.
“Peserta juga akan mengenakan kaus bermotif Sekar Jagad sebagai bagian dari konsep kegiatan,” beber Indah.
Ketua Bidang Publikasi dan Dokumentasi Panitia Simfoni 1001 Pembatik Y. Sri Susilo mengatakan, antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan tersebut cukup tinggi. Bahkan, panitia masih menerima pertanyaan dari masyarakat yang ingin mendaftar setelah pendaftaran ditutup pada 25 September.
Menurut Sri Susilo, panitia awalnya hanya menargetkan sekitar 500 peserta. Namun, tingginya minat membuat jumlah peserta yang terakomodasi meningkat signifikan.
Peserta tidak hanya berasal dari Jogja. Sejumlah peserta juga datang dari daerah lain, di antaranya Solo, Jakarta, dan Belitung.
“Karena kami harus siapkan kaus, kemudian kain dan perlengkapan itu kan tidak bisa mendadak. Nanti kalau asal bisa ikut tapi enggak pakai kaus, nanti dari view-nya tidak rapi,” kata Sri Susilo.
Ia mengatakan tingginya antusiasme tersebut menjadi salah satu pertimbangan panitia menutup pendaftaran sesuai jadwal. Seluruh perlengkapan, mulai kain, kaus hingga perangkat membatik, membutuhkan persiapan dan tidak dapat disediakan secara mendadak. (iza)
Editor : Sevtia Eka Novarita