193 Karya dari 131 Seniman Disabilitas Dipamerkan di Suluh Sumurup 2026

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 18:07 WIB
LEBARANNYA SENIMAN DIFABEL: Berbagai karya dan para pengunjung yang mendatangi Suluh Sumurup Art Festival di TBY Sabtu (26/9). (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
LEBARANNYA SENIMAN DIFABEL: Berbagai karya dan para pengunjung yang mendatangi Suluh Sumurup Art Festival di TBY Sabtu (26/9). (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

JOGJA – Sebanyak 193 karya dari 131 seniman disabilitas dipamerkan dalam Suluh Sumurup Art Festival 2026 di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Karya tersebut berasal dari seniman di 14 provinsi dan menjadi bagian dari upaya memperluas ruang bagi seniman disabilitas untuk berkarya serta dikenal publik.

Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, Suluh Sumurup mengusung tema Maneges. Pameran berlangsung mulai 24 September hingga 2 Oktober 2026.

Tahun ini, festival melibatkan 13 komunitas, sanggar, dan sekolah serta enam Taman Budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Keterlibatan tersebut membuat jangkauan Suluh Sumurup semakin luas dibandingkan penyelenggaraan awal.

Baca Juga: Menang Telak Lawan SMAN 2 Ngaglik di DBL Jogja, Pelatih SMAN 1 Yogyakarta Apresiasi Kesiapan Mental

Ketua Pameran Suluh Sumurup 2026 sekaligus PIC Program TBY Wahyu Prasetyo mengatakan, sejak pertama kali digelar, Suluh Sumurup memang dirancang sebagai ruang khusus bagi seniman disabilitas.

Konsep tersebut tetap dipertahankan meskipun sempat muncul gagasan untuk menghadirkan seniman nondisabilitas dalam pameran.

"Spirit dan konsep pameran ini memang untuk teman-teman difabel. Lebarannya teman-teman difabel ya di Suluh Sumurup ini," ujar Wahyu, Sabtu (26/9).

Baca Juga: Pesona Pulau Kalimantung, Laut Biru dan Pasir Putih di Balik Keindahan Tapanuli Tengah

Wahyu mengatakan, Suluh Sumurup tidak ingin menjadikan kondisi disabilitas sebagai satu-satunya daya tarik pameran. Kualitas dan karya yang dihasilkan para seniman justru menjadi hal yang dikedepankan.

"Suluh Sumurup sendiri itu tidak mengedepankan disabilitasnya, tapi karya yang disuguhkan itu yang kita kedepankan," katanya.

Semangat tersebut menjadi bagian dari gagasan inklusi yang dibangun melalui festival. Seniman disabilitas tidak hanya ditempatkan sebagai objek yang perlu diberi ruang, tetapi juga sebagai pelaku seni yang memiliki karya untuk dinikmati dan diapresiasi publik.

 

Perjalanan tema Suluh Sumurup juga menggambarkan perkembangan gagasan tersebut. Pada penyelenggaraan pertama, festival mengusung tema Gegandengan. Tahun kedua menggunakan tema Jumangkah, kemudian Jejer pada tahun ketiga, dan Maneges pada tahun ini.

Rangkaian tema tersebut menggambarkan perjalanan dari bergandengan, melangkah bersama, berdiri sejajar, hingga menegaskan keberadaan melalui karya.

Baca Juga: Raih Kemenangan Telak, Tim Putra SMA 6 Yogyakarta Tundukkan SMA 1 Banguntapan

Perkembangan Suluh Sumurup juga terlihat dari asal peserta. Pada penyelenggaraan pertama, TBY masih berfokus mencari seniman disabilitas di wilayah Jogja.

Seiring festival semakin dikenal, seniman dari berbagai daerah mulai terlibat. Tahun ini, karya yang dipamerkan berasal dari 14 provinsi.

 

Perluasan jaringan tersebut juga mendapat dukungan dari agenda Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia XXV 2026 yang berlangsung di Jogja.

 

Sebanyak 17 Taman Budaya dijadwalkan hadir dalam Temu Karya yang berlangsung 28 September hingga 1 Oktober 2026. Sejumlah Taman Budaya turut membantu menjaring karya seniman disabilitas dari daerah masing-masing untuk dipresentasikan di Yogyakarta.

 

"Kalau dulu kita yang cari sendiri. Tahun ini karena ada event Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia, kita ajak teman-teman Taman Budaya untuk mencari karya teman-teman difabel yang ada di daerahnya," jelas Wahyu.

 

Tahun ini, sebanyak enam Taman Budaya ikut terlibat dalam Suluh Sumurup. Karya yang ditampilkan dalam Suluh Sumurup tidak terbatas pada lukisan. Pengunjung juga dapat menemukan karya kriya dan batik.

Selain pameran seni rupa, rangkaian kegiatan festival juga diisi dengan berbagai agenda pendukung, mulai dari musik, tari, puisi hingga workshop.

TBY juga memberikan ruang bagi seniman disabilitas untuk terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Workshop bahasa isyarat, literasi sastra, kriya Akar Wangi hingga galeri tur melibatkan teman-teman disabilitas sebagai pengisi maupun pengajar.

Baca Juga: Raih Kemenangan Telak, Tim Putra SMA 6 Yogyakarta Tundukkan SMA 1 Banguntapan

Bagi penyelenggara, keterlibatan tersebut penting untuk memperluas makna kesetaraan. Seniman disabilitas tidak hanya hadir sebagai peserta pameran, tetapi juga memiliki peran dalam berbagai aktivitas selama festival.

"Output kita ya sudah jelas, itu mengangkat teman-teman disabilitas untuk berkarya, bisa dilihat banyak orang, dan inklusi. Kesetaraan itu yang kita kejar," tegas Wahyu.

 

Dari sisi kurasi, Suluh Sumurup menerapkan ketentuan mengenai kebaruan karya. Karya yang ditampilkan setidaknya harus dibuat dalam satu tahun terakhir dan belum pernah dipamerkan sebelumnya.

 

Aturan tersebut diterapkan agar pameran tidak hanya mengulang karya yang sama dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya.

 

Di sisi lain, ketentuan itu mendorong para seniman untuk terus berkarya dan menghasilkan karya baru.

 

"Jadi memang orisinalitas dan kebaruannya terjaga. Dari sini juga memantik mereka untuk mengikuti pameran di tempat lain dengan mengatasnamakan pernah ikut pameran Suluh Sumurup," tutur Wahyu.

 

Karya yang dipamerkan juga mulai mendapat perhatian dari kolektor. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, terdapat karya yang langsung dibeli pengunjung.

 

Transaksi dilakukan secara langsung antara pembeli dan seniman. TBY tidak menjadi perantara dalam transaksi tersebut.

 

Kurator Suluh Sumurup 2026 Budi Irawanto mengatakan, tema Maneges memiliki kaitan dengan proses perenungan dan daya juang para seniman.

 

Menurutnya, semangat tersebut dapat dilihat dari perjuangan para seniman dari berbagai daerah untuk mengirimkan karya ke Yogyakarta.

 

"Tema Maneges yang diusung tahun ini seolah jadi pemantik daya tahan jiwa para seniman. Kata ini menggambarkan proses perenungan mendalam untuk menemukan kesadaran sejati tentang siapa diri kita sebenarnya," ujar Budi.

 

Keberagaman asal seniman membuat karya yang ditampilkan memiliki latar pengalaman yang berbeda. Hal tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan Suluh Sumurup tahun ini.

 

Pameran tersebut juga menarik perhatian pengunjung dari luar Yogyakarta. Devia Ariestya, wisatawan asal Rembang, Jawa Tengah, sengaja mencari agenda seni ketika menghabiskan akhir pekan di Jogja. Setelah memperoleh informasi mengenai Suluh Sumurup, dia kemudian datang bersama dua temannya.

 

Menurut Devia, karya yang dipamerkan memberikan pengalaman berbeda. "Ini menurut saya pameran yang unik, karena semua yang berpameran adalah difabel, dan karya-karyanya benar-benar bagus," katanya. (iza/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Suluh Sumurup Art Festival 2026 suluh sumurup Seniman seniman disabilitas Pameran