Bukan Minta Dikasihani, Warga Difabel Jogja Ini Justru Buka Jalan Rezeki Lewat Gadget dan Canting

Rahmawati Wulandari • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:44 WIB
Melalui layar ponsel dan ujung canting, seratus penyandang disabilitas di DIY menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas
Melalui layar ponsel dan ujung canting, seratus penyandang disabilitas di DIY menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas

Keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berkarya. Di Yogyakarta, para penyandang disabilitas terus menunjukkan bahwa kemampuan untuk produktif dan mandiri dapat tumbuh dari berbagai cara.

Ada yang memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau pasar. Ada pula yang belajar keterampilan baru seperti membatik untuk menambah sumber penghasilan.

Salah satunya dilakukan Widyaskara Wibowo, penyandang disabilitas asal Bantul yang kini berusia 57 tahun. Sehari-hari, ia menggunakan kursi roda. Namun, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk tetap aktif dan membantu penyandang disabilitas lain mengembangkan usaha.

Sejak 2023, Widyaskara mulai mendalami pemasaran digital. Pengetahuan tersebut kemudian ia gunakan untuk mendirikan Difakreasi Mandiri, wadah yang membantu memasarkan produk UMKM milik penyandang disabilitas melalui berbagai platform digital.

Baca Juga: Rumah Disambar Petir, Wanita Ini Gugat Tuhan ke Pengadilan, Ending-nya Bikin Penasaran

Produk yang ditawarkan cukup beragam. Mulai dari makanan seperti emping, kerak nasi, dan jajanan pasar, hingga produk kerajinan berupa boneka rajut, keset, serta aneka barang berbahan batik.

Menurut Widyaskara, kehadiran teknologi digital memberikan peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha difabel. Mereka tidak harus selalu memiliki toko atau mendatangi calon pembeli secara langsung.

Produk cukup dipromosikan melalui perangkat digital sehingga dapat dikenal oleh konsumen dari wilayah yang lebih luas.

Persoalannya, tidak semua pelaku UMKM penyandang disabilitas memiliki kemampuan mengoperasikan teknologi untuk kebutuhan pemasaran. Kondisi tersebut yang kemudian mendorong Widyaskara untuk membantu.

Ia berusaha menjadi penghubung antara produk yang dibuat para penyandang disabilitas dengan calon konsumen. Dengan begitu, keterampilan yang sudah mereka miliki tidak berhenti sebagai karya pribadi, tetapi juga berpeluang menghasilkan pemasukan.

Meski penghasilan yang diperoleh belum selalu besar dan sifatnya tidak tetap, aktivitas tersebut menjadi bagian penting bagi Widyaskara. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, kegiatan itu membuat dirinya tetap produktif.

Dari Mesin Jahit Beralih ke Canting

Cerita lain datang dari Muryati, perempuan berusia 49 tahun. Selama ini, ia mengandalkan pekerjaan menjahit dari rumah sebagai sumber penghasilan.

Belakangan, pekerjaan tersebut mulai berkurang. Pelanggan tidak lagi seramai sebelumnya sehingga pemasukan menjadi tidak menentu.

Untuk bertahan, Muryati menerima berbagai pekerjaan permak pakaian. Mulai mengganti ritsleting, mengecilkan ukuran pakaian, hingga memperbesar pakaian.

Kondisi fisiknya membuat Muryati harus mempertimbangkan jenis pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah dan tidak terlalu menguras tenaga.

Baca Juga: Menhub Dudy Lantik Ahmad Jadi Ketua KNKT 2026-2030, Tekankan Zero Kompromi untuk Keselamatan

Kesempatan untuk menambah keterampilan datang ketika ia mengikuti pelatihan membatik di Pendopo Wiyata Praja, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, pada 16 September 2026.

Hari itu menjadi pengalaman pertama bagi Muryati memegang canting dan menggoreskan malam di atas kain.

Ia mengakui hasil awalnya masih jauh dari sempurna. Mengendalikan canting agar malam dapat membentuk motif sesuai keinginan ternyata membutuhkan ketelitian dan latihan.

Namun, kesulitan tersebut tidak membuatnya berhenti.

Peralatan membatik yang diterima dari pelatihan justru dibawanya pulang. Muryati berencana terus berlatih agar keterampilan tersebut bisa berkembang dan suatu saat menjadi sumber penghasilan tambahan ketika pesanan jahit sedang sepi.

100 Penyandang Disabilitas Ikut Belajar Membatik

Muryati menjadi salah satu dari sekitar 100 penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan membatik bersama di Pendopo Wiyotoprojo, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, pada 16 September 2026.

Peserta berasal dari lima kabupaten dan kota di DIY dengan kondisi disabilitas yang beragam.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan sekaligus memperbesar peluang ekonomi.

Pelatihan tidak hanya berlangsung dalam satu hari. Para peserta juga memperoleh perlengkapan membatik dan pendampingan untuk mengembangkan kemampuan selama kurang lebih satu bulan.

Baca Juga: Tujuh Belas Lapak Street Coffee di Kawasan Kotabaru Ditertibkan, Satpol PP: Banyak Pemain Lama

Karya yang mereka hasilkan nantinya direncanakan dipamerkan dalam rangka memperingati Hari Disabilitas pada Desember 2026.

Bagi Widyaskara maupun Muryati, teknologi dan keterampilan membatik bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu.

Di balik layar gadget dan ujung canting, terdapat keinginan yang sama untuk tetap bekerja, menghasilkan sesuatu, dan memiliki penghasilan sendiri.

Mereka tidak meminta dikasihani. Yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.

Di Yogyakarta, perjuangan itu dimulai dari hal-hal sederhana. Ada yang berangkat dari layar ponsel, sementara lainnya bermula dari sebuah canting.

Keduanya memiliki tujuan yang sama: tetap mandiri dan memiliki ruang untuk berkarya.

Editor : Bahana.
difabel Jogja ekonomi kreati membatik UMKM Difabel penyandang disabilitas