JOGJA - Kepergian seniman Jogjakarta Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan alumni SMA Kolese De Britto. Terlebih, dua pekan sebelum meninggal, Den Baguse Ngarso masih aktif menghadiri kegiatan reuni alumni dan dipercaya menjadi host sekaligus pembicara.
Kenangan itu disampaikan Browidj, 58, salah satu adik tingkat almarhum. Ia mengatakan, Den Baguse Ngarso masih terlihat antusias ketika menghadiri kegiatan reuni itu.
"Dua minggu yang lalu itu beliau diundang sebagai host dan pembicara. Dia antusias sekali. Dari awal sampai terakhir, dia yang membuat acara menjadi hidup," ujar Browidj saat ditemui di rumah duka, Selasa (22/9).
Pertemuan itu menjadi salah satu kenangan terakhir Browidj bersama sosok yang dikenal sebagai seniman sekaligus alumni De Britto. Karena itu, suasana haru kembali terasa ketika para alumni berkumpul dalam prosesi penghormatan terakhir.
Browidj mengatakan, para alumni menyanyikan mars bersama sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat akan ikatan kebersamaan yang selama ini terjalin. "Agak terharu juga. Serasa waktu kita bersama, antara golongan-golongan yang mungkin hanya di De Britto yang bisa bercampur menjadi satu," katanya.
Baca Juga: Mars De Britto Iringi Kepergian Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso ke Peristirahatan Terakhir
Bagi Browidj, kepergian Den Baguse Ngarso bukan hanya kehilangan seorang alumni. Ia menilai Jogjakarta juga kehilangan sosok seniman yang konsisten membawa unsur kebudayaan dalam karya dan kesehariannya.
"Kalau saya sebenarnya kehilangan seniman yang tetap nguri-uri kebudayaannya. Lontaran-lontarannya itu yang bikin kita teringat terus,” ungkapnya.
Ia berharap karakter dan karya Den Baguse Ngarso tetap dikenalkan kepada generasi berikutnya. Menurutnya, gaya khas almarhum dalam membawa bahasa dan kebudayaan Jawa merupakan sesuatu yang tidak mudah ditemukan.
"Dia salah satu seniman Jogja yang perlu dilestarikan untuk generasi sekarang, karena sekarang jarang yang bisa seperti itu,” ujarnya.
Kenangan tentang Den Baguse Ngarso juga disampaikan sepupunya, Danang Agung Satria. Menurut Danang, almarhum merupakan sosok yang dekat dengan keluarga dan kerap berkomunikasi dengannya.
Danang bahkan masih mengingat percakapan mereka beberapa waktu sebelum Den Baguse Ngarso meninggal. Hubungan keduanya tidak sebatas keluarga, tetapi juga diwarnai obrolan dan candaan sehari-hari. "Saya sering guyon sama dia, sering telepon. Nama anak saya yang pertama juga atas pertimbangan beliau,” ungkapnya.
Danang mengenang Den Baguse Ngarso sebagai sosok yang memiliki kemampuan kuat dalam seni peran. Menurut dia, karakter yang ditampilkan almarhum di televisi berbeda dengan kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari.
"Dia sosok yang luar biasa, lucu, cerdas, jadi diterima di masyarakat. Perannya malah seorang antagonis, tetapi itu hanya peran. Aslinya seorang yang biasa saja di masyarakat,” tuturnya. (mg/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja