Mars De Britto Iringi Kepergian Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso ke Peristirahatan Terakhir

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 20:00 WIB
GKR Mangkubumi (kiri) dan GKR Condrokirono memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang seniman Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso saat prosesi persemayaman di Jalan Cuwiri, Mantrijeron, Kota Jogja, kemarin (22/9). Den Baguse Ngarso meninggal dunia pada Senin (21/9) dalam usia 67 tahun karena sakit. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
GKR Mangkubumi (kiri) dan GKR Condrokirono memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang seniman Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso saat prosesi persemayaman di Jalan Cuwiri, Mantrijeron, Kota Jogja, kemarin (22/9). Den Baguse Ngarso meninggal dunia pada Senin (21/9) dalam usia 67 tahun karena sakit. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

 

JOGJA - Jenazah seniman Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso, 67, dikebumikan di Makam Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Selasa (22/9) pukul 16.00. Keluarga, kerabat, hingga warga turut mengantarkan kepergian seniman yang dikenal lewat Teater Gandrik itu.

Sebelum diberangkatkan dari rumah duka di Mantrijeron, Kota Jogja, sekitar pukul 15.00 digelar ibadah penghiburan dan pelepasan. Suasana haru makin terasa ketika sejumlah alumni SMA Kolese De Britto Jogja menyanyikan mars De Britto untuk mengiringi kepergian Susilo.

Saat peti jenazah diangkat menuju ambulans, istri dan anak-anak Susilo tampak masih larut dalam kesedihan. Sejumlah keluarga dan kerabat juga terlihat mengiringi proses pelepasan hingga jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir.

Baca Juga: Susilo Nugroho, Pemeran Den Baguse Ngarso Meninggal Dunia Bikin Kaget Teman-Teman Seniman di Jogja

Selain para seniman dan rekan almarhum, dua putri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 juga tampak melayat ke rumah duka di Jalan Cuwiri, Mantrijeron, Jogja. Mereka adalah GKR Mangkubumi dan GKR Condrokirono.

Salah seorang alumni SMA Kolese De Britto Jogjakarta Browidj, 58, mengatakan, menyanyikan mars De Britto merupakan tradisi yang dilakukan para alumni ketika salah satu dari mereka meninggal dunia. Menurutnya, lagu tersebut menjadi simbol kebersamaan para alumni. "Ini seperti cara kami merelakan sekaligus tetap kompak,” ujarnya saat ditemui di pemakaman.

Browidj mengaku terenyuh saat ikut menyanyikan mars tersebut. Terlebih, Susilo juga merupakan alumni De Britto. Menurutnya, sekolah itu menjadi ruang yang mampu mempertemukan orang dari berbagai latar belakang.

"Serasa mengingat waktu kami bersama. Mungkin hanya De Britto yang bisa menyatukan berbagai golongan dan etnis,” katanya.

Dia mengaku masih terkejut dengan kepergian Susilo. Sebab, sekitar dua pekan lalu ia masih bertemu Susilo dalam sebuah acara yang menjadikan almarhum sebagai host sekaligus pembicara.

Menurut Browidj, Susilo merupakan salah satu seniman yang konsisten menjaga budaya Jawa. Gaya bahasa dan lontaran humor yang dibawakan Susilo, menurut dia, menjadi ciri khas yang sulit ditemukan pada seniman generasi berikutnya.

"Saya merasa kehilangan seniman tulen yang tetap nguri-uri budaya. Dia tampil apa adanya, lontaran-lontarannya juga membuat kita teringat Jogja,” ungkapnya.

Sementara itu saudara sepupu Susilo, Danang Satria, mengenang almarhum sebagai sosok yang luwes, lucu, dan cerdas. Sebelum dikenal luas sebagai seniman, Susilo terlebih dahulu berprofesi sebagai guru. Karier seninya kemudian berkembang bersama Teater Gandrik hingga merambah dunia televisi. “Dan akhirnya dikenal masyarakat luas,” jelasnya.

Danang mengatakan, meski kerap memainkan karakter antagonis dalam pertunjukan, karakter Susilo dalam kehidupan sehari-hari justru jauh berbeda. Menurutnya, Susilo merupakan sosok sederhana dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Komunikasi terakhir Danang dengan Susilo sekitar sepekan sebelum meninggal. Saat itu keduanya sempat berbincang mengenai keluarga mereka yang juga baru saja kehilangan anggota keluarga.

"Biasanya juga sering telepon dan bercanda. Bahkan nama anak saya dulu saya minta pertimbangan beliau. Beliau sangat paham arti nama-nama Jawa,” katanya.

Kerabat lainnya, Yadi juga mengenang Susilo sebagai sosok yang sederhana dan ramah. Menurutnya, almarhum tidak pernah membatasi pergaulan dan tetap menyapa orang yang ditemuinya meski tidak saling mengenal.

Baca Juga: Susilo Nugroho "Den Baguse Ngarso" Meninggal Mendadak, Rekan-Rekan Seniman Kaget

Yadi mengaku terakhir bertemu Susilo sekitar enam bulan lalu. Keduanya tinggal di daerah berbeda, sehingga tidak sering bertemu. Namun ketika dia berada di Jogjakarta, Susilo tetap menyempatkan diri berkomunikasi dengannya.

“Walaupun sesibuk itu, dengan keluarga tetap menyapa dan perhatian. Apalagi dengan kami yang memang akrab,” tuturnya.

Kabar meninggalnya Susilo pun membuat Yadi terkejut. Dia mengaku sempat tidak percaya ketika kali pertama mendengar kabar itu. "Saya kaget sampai gemetar. Saya pikir yang meninggal bukan Pak Sus. Ternyata benar Pak Sus,” katanya. (cin/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Sumber : Radar Jogja
Susilo Nugroho Seniman Den Baguse Ngarso De britto