Kakak kedua Susilo, Sukanti mengatakan, keluarga tidak mengetahui secara pasti kondisi Susilo Senin pagi hingga siang. Sebab, Susilo diketahui memiliki kebiasaan tidur hingga tengah malam atau bahkan lewat tengah malam.
"Pak Susilo tidur jam berapa tadi malam, juga nggak tahu. Tapi sampai sore kok nggak bangun-bangun,” katanya saat ditemui di rumah duka Senin (21/9/2026) malam.
Baca Juga: Momen Jeda Kompetisi, PSIM Jogja Evaluasi Tiga Laga Terakhir, Pemain Diliburkan Hingga 26 September
Keluarga kemudian meminta bantuan ketua RW setempat untuk mengecek kondisi Susilo. Kebetulan ketua RW itu merupakan mantan perawat. Namun dari pemeriksaan awal, pihaknya tidak berani memastikan Susilo telah meninggal dunia hanya berdasarkan pengamatan.
"Jadi harus dibawa ke rumah sakit yang peralatannya lebih valid. Terus dinyatakan meninggal jam lima sore” jelasnya.
Menurut Sukanti, Susilo selama ini justru dikenal sebagai salah satu anggota keluarga yang paling sehat. Padahal, banyak anggota keluarga mereka memiliki riwayat diabetes. Susilo juga cukup menjaga pola makan.
"Dia itu makan juga hati-hati. Selama ini kalau makan tidak pernah makan nasi. Nasinya jagung,” ungkapnya.
Baca Juga: Manfaat Jeda Internasional untuk Evaluasi sebelum PSS Sleman Kembali Latihan untuk Hadapi PSM
Sukanti mengatakan Susilo juga tidak pernah mengeluhkan penyakit tertentu. Dia hanya pernah mengalami sakit akibat kecelakaan lalu lintas kecil beberapa waktu lalu. Sementara untuk penyakit dalam, tidak pernah diketahui.
Susilo pun masih aktif berkesenian. Bahkan aktivitas keseniannya disebut berlangsung setiap hari. Susilo juga dikenal sering berada di angkringan yang berada di depan rumahnya hingga larut malam.
Sukanti mengaku masih sempat bertemu Susilo dua kali pada Minggu. Mereka sempat mengobrol pada sore hari, kemudian kembali bertemu saat Susilo berada di angkringan malam harinya.
Bagi keluarga, Susilo merupakan sosok yang serius di antara enam bersaudara. Sukanti merupakan anak kedua, sedangkan Susilo merupakan anak ketiga. “Jadi apa-apa kalau kita bicara nganggapnya serius,” katanya.
Kecintaan terhadap seni juga tumbuh di keluarga besar Susilo. Sukanti menyebut kakek mereka merupakan sosok yang pandai menulis menggunakan bahasa Jawa dan memiliki kemampuan macapat serta gending Jawa.
Ayah mereka juga dikenal menguasai macapat. Sementara Susilo kemudian menekuni dunia teater. "Susilo meninggalkan dua anak perempuan. Satu tinggal di Jogja dan satu lainnya di Semarang. Dia juga punya tiga cucu," bebernya.
Mengenai lokasi pemakaman, keluarga masih menunggu kondisi istri Susilo lebih stabil. Salah satu pilihan lokasi pemakaman adalah makam keluarga dari pihak ayah di Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantu. Namun, hingga Senin malam, keputusan mengenai lokasi pemakaman belum ditentukan.
Baca Juga: Dalmau Rasakan Sepak Bola Indonesia, Sebut Perbedaannya dengan Kompetisi di Negaranya SpanyolTetangga dekat Susilo, Wahyu Widodo, 69, sempat bertemu Susilo, Minggu (20/9) malam di warung bakmi yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Saat itu, Susilo mengeluhkan rasa sakit di bagian bahu. Wahyu kemudian membantu memijat bahu Susilo. Saat disentuh, bahunya terasa kaku. "Pas saya pegang bahunya seperti kawat kaku. Saya pencet, saya urut dari bahu ke tangan," tuturnya.
Setelah itu, Susilo mengaku kondisinya lebih enak dan kembali mengobrol. Sekitar pukul 23.00, rasa sakit di bahu kembali dirasakan. Susilo kemudian meminta Wahyu memijat lebih keras. "Malah tangan saya yang cape dia ketawa. Lalu dia ngajak pulang sekitar pukul 23 lebih dikit," katanya.
Setelah itu, Susilo sempat mengantarkan Wahyu pulang. Hal itu, menurut Wahyu, tidak biasa dilakukan karena biasanya dirinya turun di depan rumah Susilo, kemudian berjalan kaki menuju rumahnya yang tidak jauh dari lokasi.
Baca Juga: Satgas MBG Sidak Empat Dapur SPPG, Pemprov DIY Dapati Banyak Catatan Ketidaksesuaian Prosedur
Dia pun mengaku kembali terkejut di hari Senin karena tidak melihat Susilo seperti biasanya. Menjelang Magrib, saudaranya kemudian memberi tahu Susilo telah meninggal dunia.
"Susilo biasa tidur di teras belakang rumah, pas sore (Senin) dia tidur di teras rumah, terus ketahuan meninggal di teras," katanya.
Pantauan Radar Jogja di rumah duka, sejumlah tetangga dan kerabat Susilo Nugroho tampak menyiapkan tenda dan kursi untuk keperluan di rumah duka. Sementara tetangga maupun kerabat terus berdatangan secara bergantian untuk menyampaikan belasungkawa.
Meninggalnya Susilo "Den Baguse Ngarso" yang mendadak ini membuat rekan-rekan sesama seniman kaget dan merasa kehilangan. Marwoto misalnya, ia menyebut keberadaan almarhum kali pertama diketahui pada Senin sore. Kakak almarhum yang curiga karena yang bersangkutan tidak kunjung keluar rumah, memutuskan untuk mengecek kondisinya.
Baca Juga: Titik Videotron di Simpang Jalan Jenderal Sudirman Dilelang, Pemkot Jogja Buka Limit Rp 150 Juta
"Sakdurunge dikandhani, lho kok ora metu. Isih sore, agak sore ki mau kakange teka, neliki. Bulane wis ora ana," kata Marwoto saat dihubungi, wartawan, Senin (21/9/2026) sore.
Ia mengatakan, guna memastikan waktu dan penyebab pasti meninggalnya almarhum, pihak keluarga membawa jenazah RS Bethesda Jogja untuk diperiksa dan divisum.
Akan tetapi, sebagai rekan seniman, Marwoto juga mengaku terkejut karena beberapa hari sebelumnya almarhum masih tampak sehat dan beraktivitas seperti biasa.
"Sapa-sapa ora (menyangka). Mula padha kaget eneh, wong dekne ketemu ya isih sehat kae. Ning nggone tahlilan nggone Nasirun ki ya isih sehat kae," bebernya.
Terpisah, seniman Dalijo Angkring juga menceritakan hal serupa. Tapi, menurutnya, almarhum memang memiliki riwayat penyakit gula (diabetes) yang sudah lama diidapnya.
Kendati demikian, penyakit itu tidak menghalangi almarhum untuk tetap beraktivitas sehari-hari. Akan tetapi kepergian yang sangat mendadak ini diduga kuat akibat serangan jantung. "Tapi nek mendadak seperti itu, nek saya ketoke jantung," ujarnya. (cin/ayu/laz)
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja