Penyebab Keracunan di SMKN 2 Jogja Masih Ditelusuri, Uji Sampel Butuh Waktu Dua Minggu

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 21:50 WIB
Sekprov DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti. (CINTIA YULIANI/RADAR JOGJA)
Sekprov DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti. (CINTIA YULIANI/RADAR JOGJA)

JOGJA - Buntut dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SMKN 2 Jogja, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Caturtunggal, Depok, Sleman resmi diberhentikan sementara. Langkah ini diambil guna mempermudah proses investigasi ketat yang tengah dilakukan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman.

Sekretaris Daerah (Sekprov) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menegaskan, penghentian sementara ini dilakukan untuk evaluasi menyeluruh agar insiden serupa tidak kembali terulang. "Ini yang mungkin juga kami berharap semuanya kooperatif," ujar Ni Made saat ditemui di DPRD DIY Senin (21/9).

Baca Juga: Serahkan Kasus Pungli Alkid ke Polresta Jogja dan Pemkot, HB X: Itu Bukan Urusan Saya

Pemerintah masih menelusuri penyebab pasti gejala mual dan pusing yang dialami 413 siswa, guru, dan karyawan SMKN 2 Jogja usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (16/9) lalu. Dugaan sementara mengarah pada olahan menu ayam gongso yang kurang matang.

Sementara itu, Waka Humas SMKN 2 Jogja Arianto Eko Nugroho membenarkan, BPOM telah turun tangan melakukan investigasi langsung di dapur SPPG Caturtunggal. Selain itu, sampel makanan juga diuji laboratorium oleh Dinkes Sleman, dengan hasil yang diperkirakan keluar dalam waktu 7 hingga 14 hari. "Selama pemeriksaan sampel berlangsung, penerimaan MBG di SMKN 2 Jogja sementara dihentikan total," kata Arianto.

Baca Juga: Kritik Pernyataan Menkeu, Hardjuno Wiwoho: Pelunasan Surat Utang Beda dengan Hak Tagih BLBI

Mengenai kondisi korban, Arianto memastikan mayoritas siswa sudah kembali bersekolah. Saat ini tinggal satu siswa yang masih menjalani rawat inap di RSU Mitra Sehat dan diproyeksikan bisa pulang pada Selasa (22/9).

“Tapi kita memberikan peluang pemulihan kesehatan, misalnya sudah sehat disilakan berangkat, kalau tidak ya dipersilahkan untuk istirahat,” jelasnya.

Sementara siswa lainnya yang mengalami gejala dugaan keracunan MBG sudah kembali berangkat dan mengikuti pelajaran seperti biasa.

Menurutnya, sejak awal wali siswa di SMKN 2 Jogja memiliki pandangan yang beragam terhadap program MBG. Ada yang meminta program tersebut dihentikan karena banyaknya kasus keracunan. Namun, tidak sedikit wali siswa yang terbantu dengan program tersebut. “Karena di SMKN 2 Jogja warganya kelas menengah ke bawah jadi ada yang membutuhkan dan sangat bersyukur mendapatkan MBG,” ungkapnya. (cin/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
uji sampel keracunan dinkes sleman SMKN 2 Jogja BPOM