Suhu di Yogyakarta Tembus 34,9 Derajat Celcius, BMKG Sebut Masih Jauh dari Rekor Tertinggi

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 21:00 WIB
Warga mencari rumput untuk pakan ternak saat cuaca panas di kawasan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Sleman, Selasa (15/9). Cuaca terik kembali terasa menyengat di sejumlah wilayah DIY dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut terjadi saat sebagian wilayah Indonesia, termasuk DIJ, masih berada dalam periode musim kemarau dan suhu maksimum dapat mencapai sekitar 34 derajat celsius. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
Warga mencari rumput untuk pakan ternak saat cuaca panas di kawasan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Sleman, Selasa (15/9). Cuaca terik kembali terasa menyengat di sejumlah wilayah DIY dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut terjadi saat sebagian wilayah Indonesia, termasuk DIJ, masih berada dalam periode musim kemarau dan suhu maksimum dapat mencapai sekitar 34 derajat celsius. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 JOGJA - Cuaca di Yogyakarta terasa menyengat beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu selama bulan September menyentuh angka 33,2 derajat celcius hingga 34,9 derajat celcius. Namun ternyata, suhu tersebut masih kalah panas dibanding rekor tertinggi yang pernah tercatat di bulan yang sama.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan, terjadinya suhu panas di DIY disebabkan oleh aktivitas El Nino. Fenomena pemanasan suhu muka laut Samudera Pasifik itu masuk kategori sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal tahun depan.

Baca Juga: Tetangga Tak Mengira Eks Bupati Kebumen Keciduk KPK, Kediaman Arif Sugiyanto Terpantau Sepi

Cuaca terik dan minimnya tutupan awan juga dipicu oleh aktifnya Monsun Australia yang membawa massa udara kering dari benua Australia. Hal tersebut ditandai dengan tiupan angin dari arah timur di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator.

Etik membeberkan, berdasarkan pantauannya suhu muka air laut di perairan selatan DIY menyentuh 26 hingga 28 derajat celcius. Kondisi itu secara langsung akan berdampak pada suhu udara daratan. Namun berdasarkan analisa BMKG suhu yang terjadi belum dikategorikan panas ekstrem.

"Masih dibawah ambang batas bila dibandingkan dengan suhu maksimal tertinggi yang pernah terjadi di bulan September, yakni 35,5 derajat celcius," ujar Etik saat dikonfirmasi lewat pesan singkat Selasa (15/9).

Menurut dia, fenomena suhu udara yang panas dan kering menyebabkan intensitas curah hujan di DIY berada pada kategori sangat rendah. Setidaknya hingga bulan November 2026. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika cuaca terik. Serta menjaga kecukupan cairan tubuh guna mengantisipasi dehidrasi. "Untuk tiga bulan kedepan curah hujan masuk kategori rendah," bebernya.

Baca Juga: Pasca-Melawan Persebaya, Skuad PSIM Tetap Tinggal di Surabaya dan Bersiap Hadapi Madura United

Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengingatkan, di musim kemarau penularan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) perlu diwaspadai. Bahkan pihaknya sudah mencatat peningkatan kasus.

Berdasarkan pendataan hingga Juli, Dinkes Kota Jogja mencatat total ada 61.845 kasus ISPA yang dilaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan. Kasus didominasi oleh kategori usia dewasa 27.791 kasus, lansia 11.038 kasus, balita 9.915 kasus, anak 6.695 kasus, dan remaja 6.406 kasus. "Upaya pencegahannya dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)," pesan Endang. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Kota Jogja bmkg yogyakarta cuaca DIY suhu