JOGJA - Rencana full pedestrian Malioboro dipastikan tetap berjalan. Namun Pemprov DIY kini membuka kemungkinan kawasan itu tidak steril dari kendaraan selama 24 jam penuh.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menegaskan, istilah full pedestrian justru lebih dulu perlu didefinisikan sebelum diterapkan. "Dalam artian mau 24 jam, mau 20 jam, 16 jam, kita harus bisa membaca itu dulu," ujarnya di Kompleks Kepatihan Jogja Selasa (15/9).
Ni Made juga memberi catatan terhadap target 1 November yang sempat mengemuka. Tanggal itu, menurutnya, penting sebagai momentum persiapan. Tetapi bukan berarti seluruh kawasan Malioboro langsung steril pada hari yang sama. "Kita perlu lihat evaluasi perkembangan di lapangan juga," tegasnya.
Baca Juga: Diduga Terseret Kasus Korupsi , Mantan Bupati Kebumen Arief Sugiyanto Terjaring KPK
Dia menyebut, salah satu pekerjaan yang belum tuntas adalah manajemen lalu lintas di jalan-jalan sirip Malioboro. Pemprov tidak ingin penutupan hanya memindahkan kemacetan ke ruas sekitar.
"Misalnya sekarang bicara apa dulu, Regol Ayom, sistem manajemen traffic-nya ketika itu ditutup, sirip memungkinkan tidak di mana arus itu bergerak," jelasnya.
Kondisi tiap sirip, lanjutnya, masih dikaji satu per satu. Koordinasi teknis didelegasikan kepada Asisten II dan berjalan rutin bersama pihak terkait.
Perhatian lain adalah denyut ekonomi kawasan. Di sepanjang Maliobor, berdiri toko, hotel, restoran, hingga usaha yang menggantungkan operasional pada akses kendaraan.
Baca Juga: Dicopot! Begini Pidato Sambutan Purbaya Saat Serah Terima Jabatan Menkeu kepada Suahasil Nazara
Hotel, misalnya, membutuhkan jam tertentu untuk bongkar muat barang dan mobilisasi tamu yang menginap. Karena itu, sekalipun pedestrian diterapkan penuh, tetap diperlukan pengaturan waktu atau mekanisme khusus. "Bagaimana nantinya mobilisasi yang menginap, ini perlu diatur supaya semuanya berjalan dengan baik," katanya.
Meski begitu, Made menolak jika penundaan target dijadikan alasan bekerja santai. Target tetap dipatok agar setiap proses punya arah dan ukuran. "Kalau kita tidak punya target, kita kerjanya jadi santai. Semua harus ada target," katanya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita