JOGJA – Capaian kenaikan berat badan balita yang ditimbang di posyandu Kota Jogja baru mencapai 50 persen, masih di bawah target nasional 73 persen. Pemkot Jogja pun mendorong orang tua (ortu) lebih aktif memantau pertumbuhan anak melalui posyandu.
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Iswari Paramita mengatakan, kesadaran ortu sejatinya cukup bagus untuk memantau tumbuh kembang anaknya ke posyandu lewat penimbangan rutin. Namun, hal ini belum cukup karena ortu harus bisa memastikan pertumbuhan berat badan anak sesuai dengan perkembangan usianya. “Balita sehat itu harus dipantau pertumbuhannya dan berat badannya diupayakan naik setiap bulan,” ujar Iswari di Balai Kota, kemarin (10/9).
Baca Juga: Meninggal Sudah Empat Hari, Lansia di Gamping Ditemukan karena Curiga Ada Bau Tak Sedap
Iswari mengungkapkan, pada anak berusia satu tahun kenaikan berat badannya minimal harus 200 gram per bulan. Upaya untuk mencapai angka tersebut harus dilakukan dengan pemantauan pertumbuhan dan asupan gizi yang tepat. Pemantauan rutin di posyandu menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga stabilitas pertumbuhan balita agar tetap sehat. Sebab pertumbuhan anak dapat terpantau agar mencegah kasus stunting.
Ia menegaskan, pemkot menarget capaian kunjungan balita bisa ke posyandu bisa mencapai 100 persen dari jumlah sasaran. Artinya seluruh balita yang tinggal dalam sebuah wilayah diharapkan dapat dipantau pertumbuhannya oleh kader posyandu. Untuk mencapai target itu, peran aktif orang tua atau pengasuh sangat diperlukan.
Misalnya setelah anak ditimbang bisa menanyakan bagaimana perkembangan anak dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai target penambahan berat atau tinggi badan.
“Orang tua juga harus melihat grafik pertumbuhannya di buku KIA,” pesannya.
Baca Juga: Mazda Bawa Tiga SUV Terbaru ke BCA Autoshow Yogyakarta 2026, CX-5 hingga CX-60 Sport Jadi Andalan
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menegaskan, kualitas tumbuh kembang dan kesejahteraan terhadap anak wajib menjadi prioritas. Sebab pencegahan stunting merupakan salah satu upaya meningkatkan indikator human capital index. Hasto menilai, anak yang terbebas dari stunting dapat dipastikan menjadi sumber daya manusia berdaya saing tinggi di masa depan. Sehingga mampu mandiri dan mendongkrak perekonomian nasional.
“Kalau anaknya sudah sehat, kemudian berkualitas, jangan sampai dia tidak mampu menopang ekonomi keluarga ke depan,” tegasnya beberapa waktu lalu. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita