Lahan Sempit Bukan Halangan, Warga Wirobrajan Kembangkan Pertanian di Tengah Kota

Safinatun Najah • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 14:37 WIB
Petani di Wirobrajan memanfaatkan galon bekas sebagai media menanam padi (Dok. ANTARA)
Petani di Wirobrajan memanfaatkan galon bekas sebagai media menanam padi (Dok. ANTARA)

YOGYAKARTA – Keterbatasan lahan di tengah padatnya kawasan perkotaan tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk meninggalkan aktivitas pertanian. Di Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, warga justru memanfaatkan ruang-ruang terbatas untuk mengembangkan urban farming atau pertanian perkotaan.

Salah satu inovasi tersebut dilakukan Kelompok Tani Swa Katon Asri dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media budidaya padi. Tanaman padi yang biasanya identik dengan lahan persawahan luas kini dapat ditemui di lingkungan perkotaan dengan memanfaatkan wadah yang lebih sederhana dan mudah ditemukan.

Tidak hanya menanam padi, kelompok tani tersebut juga mengembangkan konsep mina padi, yakni menggabungkan budidaya tanaman padi dengan pemeliharaan ikan. Dengan cara tersebut, ruang yang terbatas dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan lebih dari satu komoditas.

Mengubah Keterbatasan Menjadi Peluang

Pertanian di tengah kota menghadapi tantangan yang berbeda dengan pertanian di wilayah pedesaan. Ketersediaan lahan menjadi salah satu persoalan utama karena ruang perkotaan lebih banyak digunakan untuk permukiman dan berbagai aktivitas masyarakat.

Baca Juga: Dinamika Desil Buat Penyaluran Bantuan Pangan di Kemantren Mantrijeron Tersendat, Beras Menumpuk

Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk mencari cara baru dalam bercocok tanam. Selain menggunakan galon bekas, pertanian perkotaan juga dapat dilakukan melalui polybag, wall planter, vertikultur, maupun hidroponik.

Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri telah mengembangkan konsep kampung sayur sebagai salah satu bentuk pemanfaatan lingkungan perkotaan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Konsep tersebut memungkinkan kawasan permukiman dimanfaatkan sebagai sumber pangan dengan menanam berbagai jenis sayuran sesuai potensi dan kebutuhan warga.

Di Wirobrajan, pemanfaatan lahan sempit juga dilakukan melalui penanaman sayuran menggunakan sistem wall planter. Pada salah satu kegiatan sebelumnya, Kelompok Tani Swa Katon Asri menanam sekitar 1.200 bibit sawi dan selada air di sepanjang tembok kawasan kampung.

Galon Bekas Jadi Lahan Pertanian

Pemanfaatan galon bekas sebagai media menanam padi menjadi gambaran sederhana bahwa pertanian tidak selalu membutuhkan hamparan sawah yang luas. Di tengah rumah-rumah, gang permukiman, dan padatnya aktivitas kota, ruang kecil pun dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan kreativitas.

Apa yang dilakukan Kelompok Tani Swa Katon Asri menunjukkan bahwa keterbatasan lahan justru dapat mendorong munculnya inovasi. Galon bekas yang sebelumnya dianggap sebagai barang tidak terpakai dapat digunakan kembali menjadi media budidaya. Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pertanian dapat beradaptasi dengan kondisi perkotaan. Masyarakat tidak harus memiliki lahan luas untuk mulai bercocok tanam.

Bukan Sekadar Menanam

Baca Juga: Rumah Adat Siwaluh Jabu di Desa Dokan, Jejak Kehidupan Lima Marga Karo

Urban farming tidak hanya berkaitan dengan kegiatan menanam dan memanen. Di tengah perkotaan, aktivitas tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan pangan masyarakat.

Bagi masyarakat perkotaan, keberadaan kebun kecil juga dapat memberikan manfaat lain. Ruang yang sebelumnya tidak produktif dapat berubah menjadi area hijau. Hal tersebut membuat urban farming tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga nilai sosial dan lingkungan.

Di tengah semakin terbatasnya lahan pertanian perkotaan, kreativitas warga seperti yang dilakukan di Wirobrajan menjadi contoh bahwa lahan sempit bukan akhir dari aktivitas pertanian, melainkan awal dari inovasi baru.

 

Editor : Bahana.
Kelompok Tani Swa Katon Asri Yogyakarta urban farming Pertanian Perkotaan Wirobrajan