Aroma Wangi Kopi Arabika Temanggung, Dedikasi dari Lereng Gunung Tembus Panggung Nasional

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 19:49 WIB
Kopi Arabika Temanggung olahan Stiper Lab Cafe sukses menembus Top 5 Jawara Greenbeans Coffee Competition di Jogja Coffee Week 2026 dan laku lelang Rp3 juta.
Kopi Arabika Temanggung olahan Stiper Lab Cafe sukses menembus Top 5 Jawara Greenbeans Coffee Competition di Jogja Coffee Week 2026 dan laku lelang Rp3 juta.

 JOGJA - Ada kehangatan tersendiri yang membuncah ketika aroma biji kopi pilihan menyapa ribuan pasang mata di Jogja Expo Center. Di tengah riuk pikuk perhelatan Jogja Coffee Week (JCW) #6 tahun 2026, deretan peracik kopi terbaik nusantara berkumpul membawa mimpi dari tanah kelahiran mereka. Di antara gelora kompetisi yang sengit, sebuah kisah sukses lahir dari kesederhanaan dan dedikasi mendalam terhadap bumi Jawa Tengah.

Adalah Stiper Lab Cafe yang tampil mencuri perhatian dan menorehkan tinta emas dalam ajang prestisius Jawara Greenbeans Coffee Competition 2026. Biji kopi Arabika Temanggung yang mereka bimbing dengan penuh cinta berhasil menembus jajaran Top 5, tepatnya menyabet peringkat ke-4 nasional. Sebuah capaian membanggakan yang membuktikan bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati cita rasa.

Kemenangan ini tidak datang bagaikan keajaiban semalam. Biji kopi Arabika yang tumbuh megah di kawasan lereng Sindoro-Sumbing ini diproses secara langsung oleh sosok berdedikasi, Dina Mardhatilah, Ph.D. Sentuhan dingin sang pakar berhasil mengeksplorasi potensi tersembunyi yang terkandung di dalam setiap bulir hijau greenbean Temanggung.

Panggung persaingan sejatinya dipenuhi atmosfer ketat. Sebanyak 80 peserta dari berbagai penjuru tanah air, yang didominasi oleh para petani kopi bertangan dingin, turut mengadu kualitas terbaik mereka. Namun, cangkir kopi sajian Stiper Lab Cafe tampil menonjol hingga sukses mengumpulkan nilai komulatif 252,25 dengan cup score mencapai 84,083.

Dalam standar industri kopi spesialti, raihan angka di atas 84 merupakan sebuah stempel keunggulan yang tidak sembarangan. Skor impresif ini menjadi saksi bisu betapa kaya dan kompleksnya karakter rasa yang tersimpan pada biji kopi kawasan Sindoro-Sumbing. Ia siap melompat tinggi memikat selera penikmat kopi di level tertinggi.

Baca Juga: Dampak Abu Vulkanik Ada Edaran Kemenkes, Faskes di Kebumen Ikut Siaga

Proses penilaian berlangsung transparan dan begitu ketat oleh panel juri independen serta para Q Grader profesional. Melalui mekanisme evaluasi fisik hingga ritual penyeduhan (cupping), setiap tetes cairan diuji ketelitiannya. Unsur aroma, keasaman segar, kekentalan body, kemanisan alami, hingga keseimbangan rasa bersih diuji secara menyeluruh.

Rahasia di balik harmoni rasa yang sempurna ini terletak pada ketelitian hulu ke hilir. Dina Mardhatilah, Ph.D., yang memegang sertifikasi internasional Q Processing dan Q Grader, memilih pendekatan metode pengolahan Wash Klasik. Metode ini menuntut ketelatenan tinggi agar kebersihan dan kemurnian rasa asli kopi tetap terjaga utuh.

“Kami menerapkan metode pengolahan Wash Klasik pada kopi Arabika Temanggung ini. Pengawasan mutu yang ketat dari hulu hingga hilir menghasilkan kualitas green bean yang sangat kompetitif,” ujar Dina dengan penuh rasa syukur (8/9/2026). Dedikasi tersebut memastikan setiap bulir kopi memiliki konsistensi tinggi saat diseduh.

Puncak apresiasi atas karya seni rasa ini membumbung tinggi saat sesi lelang resmi dibuka. Biji kopi istimewa milik Stiper Lab Cafe tersebut berhasil diperebutkan hingga menyentuh harga fantastis Rp3 juta per paket. Angka ini menjadi simbol penghormatan atas kerumitan proses serta kualitas tiada tara yang ditawarkan.

Baca Juga: HUT ke-270, Yogyakarta Siapkan 7 Event Unggulan untuk Dongkrak Wisata

Langkah Stiper Lab Cafe mengusung kopi Temanggung bukanlah tanpa alasan. Ini adalah wujud nyata komitmen akademis dan sosial dalam memajukan potensi lokal. Melalui payung INSTIPER Yogyakarta, mereka menjalin kemitraan strategis membina petani di kawasan lima gunung utama Jawa Tengah, yakni Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Ungaran.

Kondisi geografis lereng Sindoro-Sumbing yang diberkahi ketinggian ideal dan lingkungan agroklimat yang kaya terbukti memberikan dorongan alami pada tanaman kopi. Lingkungan inilah yang melahirkan kompleksitas cita rasa unik, kesegaran acid yang pas, serta aroma memikat yang membedakannya dari biji kopi daerah lain.

Keberhasilan di Jogja Coffee Week #6 ini diharapkan menjadi batu loncatan yang kian kokoh. Tak sekadar meraih piala, capaian ini menjadi angin segar untuk menaikkan nilai ekonomi para petani lokal. Kopi Sindoro-Sumbing kini kian mantap melangkah, membawa nama harum Jawa Tengah menuju industri kopi berkualitas di kancah nasional maupun global.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
JOGJA Coffee Week 2026 Kopi Temanggung Stiper Lab Cafe INSTIPER Yogyakarta kopi arabika