Dinas PUPESDM DIY Bangun Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pengelolaan Kawasan Rawan Longsor

Kusno S Utomo • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 17:57 WIB
MITIGASI BENCANA: Early warning system (EWS) dipasang di atas tanah retakan di Kalurahan Giripurwo, Girimulyo, Kulon Progo. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja)
MITIGASI BENCANA: Early warning system (EWS) dipasang di atas tanah retakan di Kalurahan Giripurwo, Girimulyo, Kulon Progo. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dinas PUPESDM DIY Kwaryantini Ampeyanti Putri berharap terbangun kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan kawasan rawan longsor. Dengan begitu, keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin. “Pembangunan permukiman di wilayah perbukitan dapat berlangsung secara berkelanjutan,’ katanya.

Kepala Jurusan Teknik Geologi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta Arif Rianto Budi Nugroho mengingatkan, Perbukitan Menoreh memiliki karakteristik topografi perbukitan dengan tingkat kerawanan longsor yang tinggi. Curah hujan tinggi, kemiringan lereng yang curam dan struktur geologi yang kompleks, hingga aktivitas manusia menjadi faktor utama penyebab longsor di kawasan Menoreh.

“Longsor atau gerakan massa merupakan perpindahan massa tanah dan batuan dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah akibat terganggunya keseimbangan lereng. Kawasan dengan kemiringan lereng lebih dari 30 derajat memiliki potensi longsor yang tinggi,” jelasnya.

Baca Juga: Dinas PUPESDM DIY Lakukan Indentifikasi dan Mitigasi di Kawasan Rawan Longsor Perbukitan Menoreh

Secara alami, wilayah Menoreh memiliki curah hujan tahunan mencapai 3.107 mm per tahun. Selain itu, kondisi geologi berupa batuan breksi, andesit, tuf, hingga batu gamping dengan struktur sesar dan rekahan menciptakan bidang gelincir yang memicu longsor. Ketebalan tanah yang lapuk juga meningkatkan ketidakstabilan lereng. Tanah dapat mengembang saat basah dan merekah ketika kering.

Tidak hanya faktor alam, aktivitas manusia juga dinilai memperbesar risiko longsor. Pembukaan lahan pertanian di lereng curam, pembangunan rumah dengan metode cut and fill, hingga alih fungsi lahan menjadi faktor yang memperlemah kestabilan lereng.

 Arif juga memaparkan berbagai mekanisme longsor. Mulai dari runtuhan (fall), robohan (topple), longsoran (slide), pancaran lateral (lateral spread), aliran (flow), hingga longsor gabungan (complex). Pemahaman terhadap jenis longsor dinilai penting agar masyarakat dapat mengenali potensi bahaya di wilayah tempat tinggalnya.

Baca Juga: Liverpool Bisa Menyesal Gagal Cari Pengganti Mohamed Salah, Transfer Semenyo Jadi Sorotan

Sebagai upaya mitigasi, dia menekankan pentingnya pengelolaan risiko longsor melalui pemetaan kawasan rawan. Pengaturan tata ruang, pembangunan drainase, terasering, penanaman vegetasi penahan, pemasangan sistem peringatan dini berbasis sensor hujan dan gerakan tanah. “Edukasi masyarakat menjadi bagian penting dalam mitigasi.

Simulasi evakuasi dan peningkatan kesadaran risiko harus terus dilakukan,” pintanya.  Arif menjelaskan, bambu dapat berfungsi sebagai indikator alami pergerakan tanah karena akarnya mampu memberikan tanda sebelum longsor membesar.  Dalam FGD itu juga direkomendasikan sejumlah hal. Langkah jangka pendek berupa pengendalian resapan air, pemasangan sensor piezometer untuk memantau tekanan air tanah, stabilisasi darurat lereng, dan pengorganisasian masyarakat siaga bencana. Mitigasi jangka panjang meliputi relokasi permukiman dari zona merah geologi, restorasi ekologi melalui reboisasi tanaman endemik, pelarangan alih fungsi lahan di area sensitif, serta penguatan Desa Tangguh Bencana. (kus)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Perbukitan Menoreh kawasan Dinas PUPESDM DIY Longsor rawan longsor