RADAR JOGJA - Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY baru saja mengadakan focus group discussion (FGD) tentang standar pelayanan minimal (SPM) lokasi rawan bencana provinsi. Temanya soal “Pengelolaan Permukiman di Kawasan Rawan Longsor Perbukitan Menoreh, Kabupaten Kulon Progo”.
Dari diskusi itu diketahui potensi longsor di Perbukitan Menoreh tak bisa diabaikan. Itu karena kawasan Perbukitan Menoreh memiliki topografi perbukitan dengan kerawanan longsor cukup tinggi. Kejadian longsor dipengaruhi dua faktor. Alam dan aktivitas manusia.
Faktor alam meliputi curah hujan tinggi, kondisi geologis, kemiringan lereng, hingga ketebalan tanah. Itu semua berpengaruh terhadap kestabilan lereng yang menentukan fenomena longsor. Dari sisi aktivitas manusia, longsor dapat terjadi akibat pembukaan lahan hutan dan aktivitas perusakan alam lain. Karena itu, warga diimbau menghindari mendirikan pemukiman di daerah rawan longsor.
Baca Juga: Polda DIY Operasikan Water Treatment untuk Bantu Warga Terdampak Kekeringan di Gunungkidul
“Terutama di dekat tebing,” ujar Kepala Seksi Pengembangan Perumahan Dinas PUPESDM DIY Andika Arief Saputra kemarin (14/7). Dia menjelaskan, potensi longsor di Perbukitan Menore tak bisa diabaikan. Menyadari itu, Dinas PUPESDM DIY terus mengadakan sosialisasi ke warga yang tinggal di daerah rawan bencana.
Sosialisasi itu antara lain melalui FGD yang diikuti 12 orang peserta perwakilan dari tiga kalurahan yang daerahnya masuk kategori rawan longsor. Tiga kalurahan itu terdiri atas Kalurahan Giripurwo, Pendoworejo dan Kalurahan Purwosari. Semuanya masuk wilayah Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo.
Menurut Andika banyak pemukiman di tiga kalurahan itu berada di area rawan longsor. Idealnya pemukiman mempertimbangkan syarat kesalamatan. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Dalam FGD itu, bukan hanya memuat materi sosialisasi. Namun juga menjaring data, informasi, saran, dan masukan dari narasumber maupun peserta. FGD telah dilaksanakan pada Jumat (22/5) lalu.
Baca Juga: Hanya Dihuni Tujuh Kepala Keluarga, Kampung Pitu Ini Menyimpan Kisah Unik dan Penuh Misteri
Tindak lanjut dari FGD berupa kegiatan identifikasi di kalurahan rawan bencana. Tujuannya, memetakan pemukiman rawan longsor, termasuk membuat program mitigasi pemukiman rawan longsor dengan pertimbangan fiskal daerah.
Di sisi lain, musim hujan menjadi masa sulit bagi masyarakat di Kapanewon Girimulyo. Sejumlah kalurahan di Perbukitan Menoreh masuk daerah rawan longsor. Di lapangan banyak pemukiman dibangun di area rawan longsor. Kenyataan ini dapat ditemukan di Kalurahan Giripurwo, Girimulyo, Kulon Progo.
Lurah Giripurwo Mardi Santosa mengakui, wilayahnya berada di kawasan Perbukitan Menoreh. Hampir 90 persen berada di dataran tinggi. Saat musim hujan punya potensi longsor. Itu karena Kalurahan Giripurwo didominasi tanah latosol atau sering disebut tanah semen.
“Warga menyebutnya tanah semen mudah mulur atau longsor," ucap Mardi saat ditemui kemarin (14/7).
Karakter tanah di Kalurahan Giripurwo dipengaruhi musim. Saat musim kemarau, tana mengalami retakan hebat. Retakan itulah menjadi penyebab longsor. Ketika musim hujan, air akan memenuhi area retakan. Sedangkan tanah yang telah jenuh tak lagi mampu menahan resapan air sehingga membuat longsor.
Masih teringat jelas bagi warga Kalurahan Giripurwo ketika terjadi bencana longsor hebat pada 2000 silam. Longsor menerjang 17 kepala kelurga (KK) dan belasan rumah di Padukuhan Bulu. Terjadi retakan tanah sepenjang puluhan meter. Belasan KK terpaksa di relokasi ke tempat yang lebih aman.
Retakan tanah di area longsor itu, hingga sekarang masih dapat dilihat. Bahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulon Progo telah menempatkan early warning system (EWS) di atas retakan. Tujuannya, memantau pergerakan tanah guna mitigasi bencana.
"Hingga saat ini belum ada pergerakan lagi. Akhirnya warga kembali ke rumah masing-masing," ungkapnya. Warga terpaksa balik ke kawasan permukiman yang rawan longsor karena tak punya banyak pilihan. Mereka tak memiliki tanah pengganti maupun uang untuk membangun rumah baru. (gas/kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita