Jurnalis dari Pers Mahasiswa Alami Bocor Kepala saat Meliput Demo di Simpang Empat Gramedia Jogja

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 19:49 WIB
Tere (memegang mic), jurnalis dari Pijar UGM saat menjelaskan kronologi kekerasan di Simpang Empat Gramedia. Cintia Yuliani/Radar Jogja
Tere (memegang mic), jurnalis dari Pijar UGM saat menjelaskan kronologi kekerasan di Simpang Empat Gramedia. Cintia Yuliani/Radar Jogja

 

JOGJA - Aksi unjuk rasa di Simpang Empat Gramedia, Jogja menelan enam korban, salah satunya jurnalis perempuan dari pers mahasiswa Pijar UGM. Mahasiswa itu mengalami kepala bocor akibat dipukul menggunakan kaleng pada bagian pelipisnya. 

Korban dari Pers Mahasiswa Pijar UGM Tere menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya. Ia mengatakan dirinya dan salah satu temannya dari pers mahasiswa itu sudah mulai mundur saat aksi mulai ricuh. 

Saat mundur dari arah bagian pembatas jalan, terdapat sekelompok pria yang berjumlah lebih dari tiga orang. Kelompok itu berteriak dan marah-marah. Tere kemudian maju ke arah mereka dengan nada yang sama-sama marah dan menanyakan alasan mereka mendorong.

Baca Juga: Anak Kerap Haus, Berat Badan Turun Signifikan: Kesaksian Lanjutan Ortu Anak Korban Kekerasan Daycare

"Saya kurang ingat jelasnya mereka balas berkata apa, yang paling saya ingat dibalas dengan kata kasar dalam bahasa Jawa yaitu asu," katanya dengan suara getir saat konferensi pers di Bundaran UGM, Kamis (3/9).

Setelah itu, tiba-tiba seorang pria memukulnya. Tere mengaku tidak menyadari apa yang terjadi setelah pukulan tersebut. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit dan mengalami luka di bagian atas pelipis.

Sementara itu, mahasiswa dari BEM UPN Veteran Yogyakarta (UPNVY) Deva Artika Sari mengatakan, saat ormas preman maju menyerang dan mengejar massa aksi, aparat kepolisian justru mendorong paksa massa aksi secara fisik. Alih-alih menghadang ormas preman yang terang-terangan berniat melukai massa aksi yang sudah berkomitmen untuk membubarkan diri. 

"Akibatnya, beberapa massa aksi utamanya yang berada di barisan depan jatuh tersungkur ke jalan hingga terinjak-injak," katanya. 

Baca Juga: Usai Melepas Atlet Popda Kebumen dengan Bus Engkel, Bupati Lilis Minta Maaf

Tak berhenti di situ, kelompok ormas preman yang sudah berpencar di sekitar Jalan Cik Di Tiro masih melancarkan serangan kepada massa aksi yang sedang berjalan mundur menuju UGM. Ormas preman terlihat menggunakan berbagai senjata dan benda berbahaya, mulai batu, kayu, kaleng, mercon, tongkat baseball, hingga senjata tajam berupa karambit dan cutter. 

Ormas preman juga menyemprotkan pepper spray langsung ke mata massa aksi dan mendorong, menendang, memukuli. "Hingga menyeret kawan-kawan yang telah jatuh terjerembab di tanah," tambahnya. 

Bahkan, ketika massa aksi telah berhasil menyelamatkan diri hingga mendekati wilayah kampus UGM, ormas preman itu tetap melanjutkan tindakan represifnya dengan melemparkan barang berbahaya berupa batu ke arah dalam gerbang kampus UGM.

Baca Juga: Dalam Sehari, Damkarmat Kulon Progo Tangani Tiga Kebakaran Lahan Seluas Satu Hektare

Rangkaian kekerasan fisik itu memakan banyak korban luka dari pihak massa aksi hingga beberapa di antaranya harus dilarikan dan dirawat di rumah sakit. Kekerasan ini juga menyasar mahasiswa perempuan yang teraniaya hingga diinjak-injak di tengah kekacauan. "Hingga rilis ini dikeluarkan, tercatat sedikitnya enam korban terkonfirmasi dari massa aksi," tuturnya.  (cin/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
UGM BEM Demo Gramedia Pers