Meskti 33 Hektare Lahan di Kulon Progo Terdampak, Kemarau Panjang Diklaim Belum Ganggu Pertanian DIY

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 20:45 WIB
Bocah bermain di bekas lahan pertanian yang retak akibat kemarau di kawasan Giwangan, Kota Jogja, Senin (27/7/2026). Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di DIJ berstatus siaga hingga awas terhadap ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Bocah bermain di bekas lahan pertanian yang retak akibat kemarau di kawasan Giwangan, Kota Jogja, Senin (27/7/2026). Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di DIJ berstatus siaga hingga awas terhadap ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

JOGJA – Kemarau panjang belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian di DIY. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY mencatat baru 33 hektare lahan pertanian di Kulon Progo yang terdampak kekeringan. Itu pun masih dalam kategori ringan dan belum sampai menyebabkan gagal panen.

Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan lahan yang masuk kategori kekeringan ringan mengalami tingkat kerusakan kurang dari 25 persen. Kondisi tersebut dinilai masih dapat ditangani sehingga tidak mengganggu hasil panen petani. "Kalau kondisinya yang ringan itu disiram mungkin jadinya kering," kata Aris, Selasa (1/9).

Baca Juga: Penyerang PSIM Adrian Dalmau Ungkap Karakternya; Tajam di Kotak Penalti, Andalkan Sentuhan Pertama

Lahan terdampak kekeringan tersebut tercatat pada Juli lalu dan tersebar di tiga kapanewon di Kulon Progo. Rinciannya, 13 hektare berada di Kapanewon Samigaluh, 17 hektare di Girimulyo, serta tiga hektare lainnya.

Meski mengalami kekeringan, seluruh lahan yang masuk dalam laporan tersebut telah dipanen. DPKP DIY juga belum menerima laporan gagal panen akibat kekeringan hingga pertengahan Agustus. "Kalau bulan Agustus tanggal 1 hingga 15 belum ada laporan gagal panen," tuturnya.

Aris mengatakan kondisi tersebut berbeda dengan 2023 ketika dampak kekeringan terhadap lahan pertanian cukup tinggi. Belajar dari kondisi tersebut, DPKP DIJ kini memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi kemarau.

Baca Juga: Polresta Jogja Limpahkan 19 Tersangka Tahap Dua Daycare Little Aresha ke Kejaksaan 

Pemantauan kondisi lahan dan kebutuhan intervensi dilakukan secara berkala. Petani juga didorong memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.

Selain itu, kondisi jaringan irigasi turut dipantau untuk memastikan pasokan air tetap tersedia. DPKP DIY berkoordinasi dengan penyuluh pertanian untuk menentukan kebutuhan intervensi di lapangan, termasuk penggunaan pompa air.

"Ini biasanya kita bekerja sama dengan penyuluh mengusulkan penggunaan pompa seperti ini," terangnya.

Dukungan sarana pengairan juga dilakukan melalui penyediaan pompa serta pembangunan irigasi perpipaan dan perpompaan di sejumlah wilayah kabupaten/kota di DIY. Program tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum.

Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian selama musim kemarau sehingga risiko tanaman mengalami kekeringan dapat ditekan.

Aris meminta petani segera melaporkan apabila menemukan persoalan di lahan, terutama jika mulai muncul potensi gagal panen akibat kekeringan. Laporan dapat disampaikan melalui penyuluh pertanian maupun Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). "Karena dengan itu tentu memudah proses penindakan apabila terjadi, mudah diintervensi di lapangan," tandasnya. (cin)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Pertanian Kulon Progo DPKP DIY Kemarau Panjang Gagal Panen