JOGJA - Rencana menjadikan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian mendapat dukungan DPD Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) DIY. Namun, ASITA mengingatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah (PR). Terutama memastikan wisatawan tetap mudah mengakses kawasan tersebut setelah kendaraan dibatasi.
Humas ASITA DIY Iwan Sulistyanto mengatakan, penataan Malioboro menjadi kawasan yang nyaman bagi pejalan kaki merupakan langkah positif. Namun, kebijakan tersebut harus dibarengi sistem transportasi dan aksesibilitas yang jelas. "Penataan kawasan yang semakin nyaman, aman, tertib, dan memiliki kualitas ruang publik yang baik tentu akan memberikan nilai tambah," katanya Selasa (1/9).
Menurut Iwan, salah satu persoalan yang perlu segera disiapkan adalah akses wisatawan rombongan. Terutama mereka yang menggunakan bus pariwisata. Pembatasan kendaraan menuju Malioboro jangan sampai membuat wisatawan kesulitan mencapai kawasan tersebut.
Baca Juga: Komoditas Daging Ayam Ras Dominan Picu Inflasi selama Agustus, Permintaan Tinggi karena Program MBG
Karena itu, Pemprov DIY perlu menyiapkan titik drop-off dan pick-up yang jelas, akses kendaraan wisata, serta kantong parkir yang memadai. Sistem shuttle juga dinilai perlu disiapkan untuk menghubungkan lokasi parkir dengan Malioboro. "Kantong parkir dan sistem shuttle atau konektivitas yang nyaman perlu disiapkan sehingga wisatawan tidak kesulitan mencapai Malioboro," jelasnya.
Iwan menilai, persoalan akses menjadi penting karena Malioboro merupakan salah satu tujuan utama wisatawan. Bagi wisatawan rombongan, kepastian akses dan parkir bahkan menjadi bagian dari perencanaan perjalanan.
ASITA tidak ingin penerapan full pedestrian justru memunculkan persoalan baru di kawasan sekitar Malioboro. Keterbatasan parkir maupun akses kendaraan besar berpotensi mengganggu mobilitas wisatawan dan pelaku usaha pariwisata.
Baca Juga: Bukan Sekadar Usia, 3 Kebiasaan Modern Ini Disebut Bisa Mempercepat Penuaan Tubuh
Selain transportasi, Pemprov DIY juga perlu memperkuat fasilitas pendukung pedestrian. Tempat duduk, ruang teduh, toilet umum, serta akses bagi lansia dan penyandang disabilitas menjadi sejumlah fasilitas yang perlu diperhatikan.
Perlindungan terhadap cuaca panas dan hujan juga dinilai penting. Sebab, kenyamanan wisatawan tidak hanya ditentukan oleh bebasnya kawasan dari kendaraan, tetapi juga kualitas fasilitas yang tersedia.
Meski memberikan sejumlah catatan, ASITA menilai konsep full pedestrian berpotensi meningkatkan daya tarik Malioboro. Wisatawan dapat lebih leluasa berjalan kaki, berbelanja, menikmati kuliner, menyaksikan aktivitas seni dan budaya, hingga berinteraksi dengan suasana khas Jogjakarta.
"Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang nyaman, aman, dan berkesan," pesannya.
Iwan menambahkan, penataan fisik juga perlu diimbangi dengan aktivitas yang membuat wisatawan betah. Atraksi seni, budaya, kuliner, dan berbagai event dinilai dapat memperpanjang waktu kunjungan wisatawan. "Jangan sampai wisatawan hanya datang, berfoto, kemudian pergi," katanya.
ASITA juga mendorong Pemprov DIY melibatkan pelaku industri pariwisata dalam penerapan kebijakan tersebut. Pelibatan dapat mencakup ASITA, PHRI, pelaku UMKM, komunitas, pengelola transportasi, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Menurut Iwan, masukan dari pelaku pariwisata diperlukan agar kebijakan full pedestrian tidak hanya bagus dari sisi tata ruang. Tetapi juga tetap mendukung kebutuhan wisatawan dan keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Malioboro, lanjut dia, merupakan etalase pariwisata Jogjakarta. "Dengan harapan prosesnya (full pedestrian, Red) dilakukan secara terencana, bertahap, terintegrasi, dan melibatkan seluruh stakeholder pariwisata," bebernya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita