Komoditas Daging Ayam Ras Dominan Picu Inflasi selama Agustus, Permintaan Tinggi karena Program MBG

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 19:53 WIB
CAPTION: Kepala BPS Kota Jogja Jogja Joko Prayitno saat ditemui di kantornya, Selasa (1/9/2026). IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA
CAPTION: Kepala BPS Kota Jogja Jogja Joko Prayitno saat ditemui di kantornya, Selasa (1/9/2026). IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA

JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mencatatkan inflasi pada bulan Agustus menyentuh 0,24 persen. Kelompok makanan dan minuman, khususnya komoditas daging ayam diketahui menjadi pemicu paling dominan.

Kepala BPS Kota Jogja Jogja Joko Prayitno mengatakan, daging ayam menjadi pemicu dominan inflasi dipengaruhi permintaan komoditas tersebut yang cukup tinggi. Salah satunya dampak dari program makan bergizi gratis (MBG) seiring dengan dimulainya kembali aktivitas persekolahan.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas pangan lain seperti kacang panjang dan semangka. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberi andil terhadap inflasi pada komoditas emas perhiasan.

“Apabila permintaan meningkat sementara pasokan berkurang, biasanya akan memicu kenaikan harga,” ujar Joko saat ditemui di kantornya, Selasa (1/9/2026).

Baca Juga: Polresta Jogja Limpahkan 19 Tersangka Tahap Dua Daycare Little Aresha ke Kejaksaan 

Sementara secara periode tahunan (year-on-year), ia mengungkapkan bahwa inflasi di Kota Jogja tercatat sebesar 3,29 persen. Angka tersebut menurutnya masih dalam batas wajar inflasi tahunan yang ditentukan pemerintah pusat pada angka maksimal 3,5 persen.

Di sektor pariwisata, BPS Kota Jogja mencatat pergerakan positif pada data bulan Juli. Joko mengungkapkan bahwa komposisi wisatawan mancanegara yang menginap di Kota Jogja meningkat menjadi 5,95 persen dibandingkan bulan Juni yang berada di kisaran 4 persen.

Kemudian, rata-rata lama menginap tamu hotel, baik berbintang maupun nonbintang, juga menunjukkan tren kenaikan secara bulanan pada periode Juli dibanding Juni. Misalnya untuk hotel berbintang wisatawan mancanegara rata-rata menginap 2,10 hari, sementara wisatawan domestik 1,59 hari.

“Kalau dari rata-rata lama menginap memang secara month-to-month itu naik dibandingkan Juni,” jelas Joko. (inu)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Daging Ayam Ras Picu Inflasi agustus program mbg Permintaan Tinggi