Siapkan Alternatif Wisata selain Malioboro, Pemkot Jogja Garap Festival Babad Siti Kemantren

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 18:34 WIB
PELESTARIAN SEJARAH: Wawali Jogja Wawan Harmawan (kanan) mengunjungi Klenteng Poncowinatan dalam rangka pembukaan Festival Babad Siti Kemantren di Klenteng Poncowinatan, Jogja, Senin (31/8). Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
PELESTARIAN SEJARAH: Wawali Jogja Wawan Harmawan (kanan) mengunjungi Klenteng Poncowinatan dalam rangka pembukaan Festival Babad Siti Kemantren di Klenteng Poncowinatan, Jogja, Senin (31/8). Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

 

PEMKOT Jogja kini tengah menggarap festival tahunan bertajuk Babad Siti Kemantren sebagai salah satu potensi wisata favorit. Bahkan digadang-gadang bisa menjadi alternatif tujuan wisata di Kota Jogja, selain kawasan Malioboro.

Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengatakan, Festival Babad Siti Kemantren tidak boleh berhenti hanya pada upaya pelestarian sejarah di 14 kemantren. Namun harus bisa menonjolkan ciri khas masing-masing wilayah yang kemudian bisa menjadi daya tarik wisata.

Baca Juga: Jogja Book Fair 2026 Resmi Dibuka, 119 Penerbit Ramaikan Grhatama DPAD DIY

Wawan mengungkapkan, setiap kampung memiliki cerita budaya dan sejarah yang dapat menjadi peluang wisata. Menurutnya, setiap wilayah bisa menghadirkan pengalaman bagi wisatawan. Seperti mengajak menyelami sejarah atau menikmati kuliner khas di setiap kemantren.

Ia yakin, jika konsep itu digarap secara maksimal, tidak menutup kemungkinan nantinya kampung-kampung di Kota Jogja bisa hidup sebagai destinasi wisata. Kemudian berdampak pada pemerataan kunjungan wisatawan ke Kota Jogja.

"Jadi kunjungan tidak hanya ke Malioboro, tetapi juga mengeksplore lebih dalam tentang Jogja," ujar Wawan di sela seremonial Babad Siti Kemantren yang digelar di Klenteng Poncowinatan, Senin (31/8).

Baca Juga: Kunjungan Wisatawan Usai Libur Sekolah Diprediksi Turun, Event Jadi Strategi Jaga Geliat Wisata

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja Yetti Martanti menjelaskan, Babad Siti Kemantren dirancang agar sejarah tidak sekedar menjadi rekam jejak masa lalu. Namun bisa menjadi ruang pengetahuan yang hidup secara interaktif.  Sehingga kegiatannya pun dikonsep lewat jelajah wilayah dan pameran tematik di tiap kemantren

Menurut Yetti, setiap kemantren memiliki cerita dan karakter budaya yang berbeda. Melalui festival itu pihaknya ingin memperkuat narasi sejarah dan budaya di setiap wilayah  dengan kemasan penyampaian cerita yang menarik dan komunikatif.  "Sehingga sejarah menjadi lebih hidup dan dekat dengan masyarakat," terangnya. (inu/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
dinas kebudayaan Pemkot Jogja destinasi wisata Malioboro