Udhik-Udhik dari Sultan HB X Diburu, Warga: Disimpan Jadi Jimat

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:56 WIB
Raja Keraton Ngayogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X sedang memasuki Masjid Gedhe Kauman saat prosesi Kondur Gangsa. Cintia Yuliani/Radar Jogja
Raja Keraton Ngayogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X sedang memasuki Masjid Gedhe Kauman saat prosesi Kondur Gangsa. Cintia Yuliani/Radar Jogja
 

JOGJA - Prosesi Kondur Gangsa yang menandai berakhirnya rangkaian Hajat Dalem Sekaten Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat digelar di Masjid Gedhe Kauman, Selasa (26/8/2026). Ribuan masyarakat antusias mengikuti prosesi sekaligus berebut udhik-udhik yang disebarkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. 

Ambiyantu Carik Mas Lurah Ahmad Taufik mengatakan, prosesi diawali dengan Ngarsa Dalem untuk menyebarkan udhik-udhik. Penyebaran dilakukan dari sisi selatan menuju utara, kemudian ke barat hingga masuk ke area Masjid Gedhe.

"Untuk tahun ini pelaksanaannya dari awal sama, hanya ada perbedaan pada para sifat bupati," katanya saat ditemui di Masjid Gedhe Kauman, Selasa (26/8/2026).

Tahun lalu mereka menggunakan baju putih duduk terlebih dahulu di bagian selatan masjid. Jika tahun ini mereka langsung masuk ke dalam masjid untuk mengikuti prosesi penyebaran udhik-udhik. 

Baca Juga: Upaya Memperkuat Ekosistem Pariwisata di Kawasan Borobudur, Parade 200 VW Jelajahi Desa Wisata

Udhik-udhik kemudian dibagikan kepada para bupati, abdi dalem, serta tamu undangan. Setelah prosesi tersebut selesai, para bupati keluar dari masjid dan menempati tempat yang telah disiapkan. Tamu undangan, baik kakung maupun putri, kemudian duduk di bagian utara.

Selanjutnya, Ngarsa Dalem duduk untuk mengikuti prosesi pembacaan Risalah Maulid Nabi. Pembacaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Hajat Dalem Sekaten.

Menurutnya, udhik-udhik yang dibagikan kepada masyarakat merupakan bentuk sedekah raja. Uang logam yang dibagikan dipercaya masyarakat membawa keberkahan sehingga setiap tahun prosesi tersebut selalu mendapat antusiasme tinggi.

"Karena itu banyak masyarakat berbondong-bondong untuk mendapatkan meskipun nominalnya Rp 500," jelasnya.

Baca Juga: Hadapi Low Season, GIPI DIY Optimalkan Tiga Pokja: Begini Skenarionya..

Antusiasme masyarakat pun terlihat ketika udhik-udhik mulai disebarkan. Mereka berusaha mendekat agar mendapatkan uang logam tersebut. Namun, menurutnya, semangat berbagi juga muncul di tengah masyarakat. Warga yang mendapatkan lebih dari satu keping kerap membagikannya kepada tetangga atau teman yang belum memperoleh udhik-udhik.

Sementara itu, pembacaan Risalah Maulid Nabi menjadi momentum untuk mengambil hikmah dari perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Mulai dari kelahiran, masa kecil, diangkat menjadi nabi dan rasul, hingga perjuangan beliau dalam menyebarkan agama Islam.

"Ternyata begitu berat proses yang dilalui beliau (Nabi Muhammad, Red) melakukan syiar agama dengan berbagai tantangan," terangnya.

Baca Juga: Pieter Huistra Sebut Para Pemain PSS Sleman Terus Berkembang

Pembacaan Risalah Maulid Nabi, lanjutnya, diharapkan dapat menjadi tuntunan sekaligus suri teladan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan.

Rangkaian Hajat Dalem Sekaten sendiri telah berlangsung melalui sejumlah tahapan. Diawali dengan miyos gangsa kemudian dilanjutkan tabuhan gamelan serta berbagai aktivitas tradisi Sekaten, termasuk penjualan nasi gurih dan telur merah.

Puncak rangkaian ditandai dengan  penyebaran udhik-udhik. Setelah pembacaan Risalah Maulid Nabi, seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan doa.

Sementara itu, salah satu warga asal Magelang Muryani, 50, mengatakan, tertarik menyaksikan kondur gangsa karena untuk mencari berkah. Dia pun mendapatkan udhik-udhik berupa enam biji uang Rp 500. "Rencana mau saya simpan sebagai jimat," katanya. 

Baca Juga: Upaya Memperkuat Ekosistem Pariwisata di Kawasan Borobudur, Parade 200 VW Jelajahi Desa Wisata

Sebab, dia meyakini uang tersebut bisa melancarkan rezekinya dan bisa memanjangkan umur. Maka dari itu, dari kecil dia tidak pernah absen menonton prosesi ini. 

"Karena rumah lumayan jauh, saya menginap di rumah kenalan saya, jadi pulang hari Rabu," tuturnya. (cin)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
hajat dalem Udhik-udhik Kondur Gangsa sekaten Sri Sultan HB X