Bertani Bermodalkan 50 Galon Bekas, Warga Gemblakan Berhasil Kembangkan Urban Farming di Rooftop

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 20:15 WIB
MANFAATKAN LAHAN: Warga membawa bawang merah hasil panen di lahan perkotaan Kampung Gemblakan Atas, Suryatmajan, Danurejan Selasa (25/8). Pemanfaatan lahan sempit untuk budi daya bawang merah menjadi upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus menciptakan lingkungan hijau dan produktif. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
MANFAATKAN LAHAN: Warga membawa bawang merah hasil panen di lahan perkotaan Kampung Gemblakan Atas, Suryatmajan, Danurejan Selasa (25/8). Pemanfaatan lahan sempit untuk budi daya bawang merah menjadi upaya mendukung ketahanan pangan sekaligus menciptakan lingkungan hijau dan produktif. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JOGJA - Tak perlu lahan luas untuk menghasilkan bahan pangan. Seperti halnya warga Kampung Gemblakan, Kelurahan Suryatmajan, Kemantren Danurejan Daliman yang memanfaatkan rooftop rumahnya sebagai lahan urban farming. Bermodalkan 50 galon bekas, ia berhasil membudidayakan bawang merah dan cabai sekaligus menghasilkan tambahan pendapatan bagi keluarga.

Galon bekas yang bagian atasnya dipotong dimanfaatkan sebagai wadah tanam. Media tanamnya berupa campuran tanah, sekam padi, dan pupuk dari kotoran ayam yang diperoleh dari peternakan kecil miliknya.

Konsep tersebut membuat Daliman bisa menggabungkan pertanian dan peternakan dalam lahan terbatas. Selain memanen sayuran, ia juga memperoleh telur dari ayam yang dipeliharanya.

Baca Juga: Usung Sleman Style, Pieter Huistra Ingin Lawan Beradaptasi dengan Gaya Bermain PSS Sleman

Daliman mengaku, bawang merah menjadi salah satu komoditas unggulan yang ditanam. Sebab dalam satu galon yang berisi tiga umbi bibit bawang merah, setiap titik menghasilkan lima hingga sepuluh umbi baru.

Setelah bawang merah berusia sekitar satu bulan, bibit cabai ditanam pada wadah yang sama dengan teknik tumpang sari. Cara tersebut dilakukan agar satu lahan bisa menghasilkan lebih dari satu komoditas. “Jadi ketika bawang merah dipanen, cabainya sudah ada dan tinggal menunggu panen,” ujar Daliman saat ditemui di sela panen Selasa (24/8).

Hal ini karena waktu bawang merah sekitar dua bulan setelah ditanam. Sementara cabai membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan.

Hasil panen tidak hanya dikonsumsi sendiri. Sebagian dijual melalui pasar tani di wilayahnya sehingga dapat menambah pendapatan keluarga.

Baca Juga: Dua Iklan Rokok di Jalan Protokol Disegel, Satpol PP Jogja: Ditutup sampai Konten Diturunkan 

Bagi Daliman, keterbatasan lahan bukan alasan untuk tidak bercocok tanam. Hampir setiap ruang kosong di rumah dapat dimanfaatkan selama mendapatkan sinar matahari yang cukup. “Tempat yang kosong semua bisa digunakan untuk bercocok tanam, asal ada cahaya matahari,” katanya.

Ia pun terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar menerapkan urban farming di lahan sempit. Menurutnya, hal terpenting adalah kemauan untuk belajar memahami teknik dasar budidaya tanaman.

Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengapresiasi praktik urban farming yang dilakukan Daliman. Menurutnya, inovasi tersebut membuktikan bahwa keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang. “Bukan alasan untuk berhenti berupaya mewujudkan ketahanan pangan di perkotaan,” tegas Wawan. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
kampung gemblakan Daliman urban farming ketahanan pangan galon bekas