Pedagang Nasi Gurih Sekaten Kauman Keluhkan Penjualan Menurun

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:30 WIB
MENYIAPKAN: Sunardi salah satu penjual nasi gurih di Masjid Gedhe Kauman sedang menyiapkan nasi gurih untuk dihidangkan kepada pembeli Minggu (23/8/2026). Cintia Yuliani/Radar Jogja
MENYIAPKAN: Sunardi salah satu penjual nasi gurih di Masjid Gedhe Kauman sedang menyiapkan nasi gurih untuk dihidangkan kepada pembeli Minggu (23/8/2026). Cintia Yuliani/Radar Jogja

JOGJA - Gelaran Sekaten di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta tahun ini belum sepenuhnya membawa berkah bagi para pedagang. Sejumlah pedagang nasi gurih mengeluhkan penjualan yang menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sunardi, 57, salah seorang pedagang nasi gurih mengatakan, suasana Sekaten tahun ini terasa lebih sepi. Padahal, pada tahun sebelumnya dagangan yang dijajakannya bisa terjual hingga 10 kilogram beras dalam sehari.

“Lebih ramai yang dulu. Baru tahun ini yang sepi,” ujarnya saat ditemui di lapaknya Minggu (23/8/2026).

Baca Juga: Semarak Gemilang Hadirkan Ribuan Loker hingga UMKM, Diharapkan Beri Dampak pada Perekonomian

Sunardi telah berjualan nasi gurih di kawasan Masjid Gedhe Kauman selama lebih dari dua puluh tahun. Ia menyebut, pada tahun-tahun sebelumnya suasana semakin ramai mulai waktu magrib hingga malam hari. Salah satu yang menjadi daya tarik adalah keberadaan pasar malam.

“Ya itu disayangkan, kenapa sekarang tidak ada pasar malam,” katanya.

Kini, Sunardi rata-rata hanya menghabiskan sekitar tiga hingga lima kilogram beras per hari. Kondisi tersebut juga diperparah dengan harga bahan baku yang semakin mahal.

“Sekarang sepi karena apa-apa mahal, bahannya mahal,” ungkapnya.

Baca Juga: Pemkot Jogja Telusuri Dugaan Tindakan Asusila Muda-mudi di Pedestrian Malioboro 

Menurut Sunardi, nasi gurih merupakan salah satu kuliner yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi Sekaten. Selain nasi gurih, terdapat telur merah, kinang, ronde, hingga bajigur yang menjadi bagian dari suasana tradisi tersebut.

“Nasi gurih itu kan ciri khas Keraton,” jelasnya.

Nasi gurih yang dijual Sunardi terdiri atas beragam lauk dan pelengkap. Di antaranya kedelai, telur, sambal krecek, bumbu pecel, kemangi, ayam, dan kerupuk. Total terdapat sekitar 12 macam lauk yang bisa dinikmati pembeli.

Keistimewaan nasi gurih terletak pada proses pengolahannya. Berbeda dengan nasi putih biasa, nasi gurih dimasak menggunakan santan serta tambahan bumbu seperti salam dan gula pasir. Oleh karena itu, rasa nasi gurih dinilai lebih khas dibandingkan nasi biasa.

Baca Juga: Mengenal Sabar Riadi Yang Ingin Lawan Stigma Mistis Rumah Pocong Sumi dengan Semangkuk Dawet

Satu porsi, nasi gurih dibanderol Rp 15 ribu jika menggunakan tambahan telur. Sedangkan tanpa telur, harganya Rp 12.500.

Sunardi biasanya mulai berjualan pukul 09.00 hingga 23.00 pada Sabtu dan Minggu. Sementara pada hari biasa, lapaknya mulai buka sekitar pukul 12.00 hingga 23.00. Ia berharap dagangannya tetap bisa habis setiap hari.

Selain penurunan jumlah pengunjung, Sunardi juga menyoroti aturan pedagang di kawasan Masjid Gedhe Kauman. Tahun ini, pedagang yang diperbolehkan berjualan nasi gurih di area tersebut dikhususkan bagi warga Kauman.

“Rencananya tidak ada nasi gurih, terus dikasih kabar mendadak boleh jualan, tapi khusus orang Kauman,” ujarnya.

Baca Juga: Obat Anti Depresi Kini Marak di Masyarakat DIY; Lolos Resep Dokter, Diperjualbelikan secara Ilegal

Menurutnya, terdapat sekitar 40 pedagang nasi gurih yang berjualan dalam rangkaian Sekaten kali ini. Ia berharap keberadaan para pedagang kecil tetap mendapat ruang dan dukungan agar tradisi kuliner Sekaten tidak hilang.

“Harapannya ke depan semangat terus berjualan, kasihan orang kecil,” pintanya. 

Sementara itu, Laginem, 88, penjual telur merah mengaku saat ini penjualannya pun tak seramai tahun-tahun lalu. Jika tahun sebelumnya sekitar lima kilogram telur bisa ludes dibeli pembeli, sekarang dalam sehari tiga kilogram telur pun tak pasti habis. 

"Sekarang sepi, karena sekarang nggak ada pasar malam juga ngaruh," beber warga Kasihan, Bantul itu. (cin)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
nasi gurih Masjid Gedhe Kauman sekaten