Gamelan Pusaka Keraton Jogja Dibunyikan Sepanjang Kirab Miyos Gangsa Menuju Masjid Gedhe

Cintia Yuliani • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:57 WIB
HAJAD DALEM: Para Abdi dalem sedang melakukan kirab Miyos Gangsa menuju Masjid Gedhe Kauman, Rabu (19/8/2026). (Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
HAJAD DALEM: Para Abdi dalem sedang melakukan kirab Miyos Gangsa menuju Masjid Gedhe Kauman, Rabu (19/8/2026). (Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

JOGJA - Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Hajad Dalem Miyos Gangsa, Rabu (19/8/2026) malam. Prosesi ini menjadi penanda dimulainya rangkaian Sekaten untuk menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ada yang beda dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. 

Kanca Tepas Kawedanan Kaprajuritan Yuda Kawindra mengatakan, miyos gangsa merupakan tradisi yang telah diwariskan sejak masa Kasultanan Mataram pada era Sultan Agung. Tradisi ini terus dilestarikan hingga saat ini. Dalam prosesi itu, dua gamelan pusaka Keraton Jogja yakni Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari keraton menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman.

"Gamelan nantinya dibunyikan selama tujuh hari di Masjid Gedhe dalam rangkaian Sekaten," ujarnya saat ditemui setelah acara selesai di Kagungan Dalem Pagelaran Keraton Jogja, Rabu (19/8/2026).

 Prosesi diawali dengan keberangkatan prajurit dari Kamandungan Kidul menuju Bangsal Pagelaran atau Keben. Setelah itu, putra dalem memberikan udik-udik kepada masyarakat. Selanjutnya kedua gamelan pusaka diberangkatkan menuju Masjid Gedhe.

Baca Juga: Kalurahan di Sleman Diminta Optimalkan JDIH demi Transparansi Produk Hukum  

Dalam prosesi ini, terdapat tata cara khusus dalam membawa gamelan pusaka. Sebelum diberangkatkan, gamelan ditempatkan di Bangsal Kencana, kemudian dibawa ke Bangsal Pancaniti untuk ditabuh. Abdi dalem yang bertugas membawa gamelan adalah kanca gladak dengan pakaian khas berwarna merah dan penutup kepala menyerupai peci merah. "Selain itu, disiapkan sesaji atau caos dahar untuk kedua gamelan pusaka itu," tuturnya. Yuda menjelaskan, terdapat sejumlah perbedaan dalam pelaksanaan miyos gangsa tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Jika biasanya gamelan diberangkatkan sekitar pukul 23.00, tahun ini prosesi dimulai lebih awal, sekitar pukul 20.30.

Sejumlah bregada prajurit yang sebelumnya tidak mengikuti prosesi karena tengah direkonstruksi, juga kembali dilibatkan. Di antaranya Bregada Langenkusuma Putri dan Bregada Prajurit Suranata. "Yang berbeda dan spesial, gamelan saat dibawa ke masjid kali ini dibunyikan. Sebelumnya hanya dibawa," jelasnya.

Setelah berada di Masjid Gedhe, gamelan akan dibunyikan selama tujuh hari dalam rangkaian Sekaten. Setelah itu, akan dilaksanakan prosesi kondur gangsa, yakni mengembalikan kedua gamelan pusaka ke keraton. Rangkaian kemudian mencapai puncaknya melalui Garebeg Mulud.

Baca Juga: Van Gastel Siap Buka Jalan bagi Talenta Muda PSIM Jogja ke Tim Senior: Ada Masa Depan  untuk Mereka

Yuda menambahkan, Keraton ingin masyarakat memahami bahwa Sekaten bukan sekadar pasar malam. Esensi utama Sekaten berkaitan dengan gamelan pusaka dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang memiliki akar kuat dalam tradisi Islam Keraton. "Pusat upacaranya ada pada rangkaian tradisi, bukan pasar malamnya," katanya.

 Staf Kawedanan Radya Kartiyasa Dian Wikananto menambahkan, ratusan abdi dalem dari empat golongan turut terlibat dalam prosesi miyos gangsa. Dia berharap tradisi ini terus dilaksanakan setiap tahun dan mendapat antusiasme positif dari masyarakat.

Masyarakat dapat menyaksikan secara langsung agar lebih mengenal tradisi di Jogjakarta. "Sekaligus memperoleh pengalaman spiritual dari perayaan Maulid Nabi," harapnya.

Pantauan Radar Jogja, prosesi diawali dengan abdi dalem menyalakan obor. Penonton kemudian turut menyalakan lilin yang telah diberikan sebelum memasuki kawasan Pagelaran. Tak lama berselang, ratusan abdi dalem keluar membawa gamelan, penerangan, dan perlengkapan lainnya untuk diarak menuju Masjid Gedhe.

Prosesi berlangsung khidmat sekaligus meriah. Masyarakat dari berbagai kalangan tampak memadati kawasan itu, mulai anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Sejumlah wisatawan mancanegara juga terlihat menyaksikan prosesi budaya ini.

Baca Juga: Masih Dihadapkan Tantangan, Hasil Panen Bawang Merah di Bantul Melonjak Lebih dari 100 Persen

Salah seorang penonton Rike Prameswari, 22, mengaku, baru kali pertama menyaksikan miyos gangsa. Perempuan asal Kediri, Jawa Timur, yang merupakan mahasiswa Politeknik Agraria STPN itu sengaja datang karena ingin mengenal lebih dekat tradisi di DIJ.

"Sebentar lagi saya lulus, tidak tinggal di Jogja lagi. Jadi ingin memanfaatkan masa terakhir di Jogja buat mengenal tradisinya,” katanya.

Menurut Rike, prosesi ini memberikan pengalaman tersendiri. Dia kagum melihat tradisi budaya Keraton yang masih dipertahankan hingga sekarang. "Ternyata budaya Jogja sangat kental dan masih dilestarikan sampai saat ini," katanya.

Sementara itu, gamelan pusaka Keraton sendiri dibunyikan secara bergantian oleh empat kelompok abdi dalem wiyaga dari Kawedanan Kridhamardawa. Masing-masing kelompok memiliki jadwal penabuhan tersendiri.

Baca Juga: Urusan Kitas Tuntas, Christope Nduwarugira Siap Jadi Benteng Kokoh PSS Sleman

Pada malam pertama, kelompok tiga dan empat mendapat giliran. Penabuhan kemudian dilanjutkan Kamis (20/8/2026) pagi hingga sekitar pukul 15.00. Pada malam harinya, giliran kelompok satu dan dua yang menabuh gamelan mulai sekitar pukul 20.00 hingga tengah malam.

Abdi Dalem Keraton Teguh Jiwo menyebutkan, gamelan Kyai Guntur Madu ditempatkan di sisi selatan, sementara Kyai Naga Wilaga di sisi utara.  Ia menjelaskan, masing-masing perangkat gamelan memiliki gending wajib yang dimainkan dalam tradisi Sekaten.

Untuk Kyai Guntur Madu, di antaranya gending rambu dan rangkung. Sementara Kyai Naga Wilaga juga memiliki sejumlah gending wajib, sebelum dilanjutkan dengan gending lain sesuai kebutuhan acara. "Selain gending wajib, bisa juga digunakan untuk pakurmatan atau penghormatan dalam hajad dalem," jelasnya.

Kyai Guntur Madu disebut memiliki sejarah lebih tua. Perangkat gamelan itu dipercaya telah ada sejak masa Kerajaan Mataram. Sementara Kyai Naga Wilaga berasal dari masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono (HB) I.

Penabuhan gamelan berlangsung sejak miyos gangsa hingga kondur gangsa atau kembalinya gamelan ke keraton yang dijadwalkan, Senin (25/8/2026) malam.

Dia mengatakan, pelaksanaan tahun ini juga memiliki perbedaan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun lalu gamelan dibawa dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Gedhe tanpa ditabuh sepanjang perjalanan, tahun ini gamelan ditabuh saat prosesi arak-arakan berlangsung.

Jumlah penabuh gamelan dalam setiap kelompok juga tidak selalu sama. Ada kelompok yang beranggotakan 14 hingga 16 orang. Jumlah itu menyesuaikan kondisi para abdi dalem wiyaga, mengingat sebagian sudah lanjut usia.

Baca Juga: Jadi Saksi Ahli Praperadilan Reno Candra Sangaji, Wadek FH UGM Nilai Hitungan BPKP Sah Digunakan

Dia berharap tradisi Sekaten tetap berkembang dan mampu menarik minat generasi muda untuk mengenal kebudayaan Jawa serta sejarah Keraton Jogja. "Harapannya selalu berkembang. Jangan sampai ada istilah fanatik, tetapi justru bisa menarik minat generasi muda,” tuturnya.

Seorang warga Jogja, Heri Hermanto, 56, sengaja datang untuk menyaksikan prosesi penabuhan gamelan Sekaten. Warga asli Jogja itu menilai tradisi tersebut penting untuk terus dilestarikan. “Memang setiap tahun melihat prosesi ini," katanya.

Dia mengatakan, tiba di lokasi sekitar pukul 10.00 dan berencana pulang setelah salat Zuhur. Dia pun mengaku sejak tahun 1990-an telah rutin menyaksikan tradisi ini.

Sementara Surtini, 57, warga Kasihan, Bantul, datang bersama temannya menggunakan Trans Jogja. Ia sengaja menempuh perjalanan ke Kota Jogja untuk melihat langsung penabuhan gamelan Sekaten.

"Biasanya satu kali dalam rangkaian tujuh hari. Ingin mengenang masa kecil sekaligus melestarikan budaya Jawa,” ujarnya. (cin/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Hajad Dalem Miyos Gangsa Maulid nabi muhammad SAW sultan agung