JOGJA - Gelombang tinggi hingga empat meter kembali mengancam perairan selatan Jawa dalam beberapa hari ke depan. BMKG Jogjakarta mengingatkan nelayan dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di laut maupun mendekati bibir pantai.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Feriomex Hutagalung mengatakan, pola angin timuran saat ini mendominasi wilayah Jawa. Arah angin terpantau bergerak ke timur dan berpotensi meningkatkan tinggi gelombang di perairan selatan Jawa.
Berdasarkan pemantauan BMKG, gelombang laut diprediksi mencapai empat meter hingga 19 Agustus. Kondisi tersebut dinilai berbahaya bagi sejumlah aktivitas kelautan, termasuk pelayaran nelayan dan kegiatan wisata di kawasan pantai.
Baca Juga: Aksi Berita Lelayu Suarakan Keresahan Atas Kondisi Negara, Merah Putih Diturunkan, Bentuk Kekecewaa
“Sehingga untuk wisatawan kami imbau tidak berenang atau beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai, serta mematuhi arahan petugas,” ujar Feri dalam keterangannya Senin (17/8).
Feri menjelaskan, kondisi gelombang tinggi dipengaruhi pola angin yang berkembang di wilayah Jawa. Masyarakat yang beraktivitas di pesisir diminta tidak mengabaikan kondisi cuaca dan gelombang sebelum melakukan kegiatan.
Di sisi lain, suhu muka laut terpantau cukup hangat, yakni berkisar 24-26 derajat Celsius. Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya uap air di atmosfer.
Baca Juga: Tak Masuk Rencana Van Gastel, Bek Kiri Reva Adi Dipinjamkan PSIM Jogja ke Borneo FC
Namun, kelembapan udara pada ketinggian 1.000 meter hingga 3.000 meter masih cukup kering, dengan tingkat kelembapan sekitar 20 persen. Kondisi ini membuat potensi hujan di wilayah DIY masih relatif kecil. “Cuaca kemungkinan akan cerah berawan,” bebernya.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Jogjakarta Rahma Fauzia menambahkan, pola angin timuran diperkirakan bertahan hingga awal September. Karena itu, kewaspadaan masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir perlu ditingkatkan dalam beberapa pekan ke depan.
Menurutnya, tinggi gelombang empat meter merupakan angka berdasarkan hasil prediksi. Kondisi riil di lapangan dapat berubah dan bahkan berpotensi lebih tinggi. “Keadaan riil di lapangan sering lebih dari itu (empat meter, Red),” bebernya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita