JOGJA - Wisatawan mancanegara (wisman) nyaris setiap hari melintas di Kampung Wisata Sayidan. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya bisa digarap karena dari 15 pengurus kampung wisata hanya satu orang yang mampu berbahasa Inggris. Kondisi ini membuat kebutuhan pelatihan bahasa asing menjadi mendesak.
Ketua Kampung Wisata (Kamwis) Sayidan Diajeng Endah Pramita Wardani mengatakan, kemampuan bahasa asing menjadi salah satu kendala pengelola dalam menyambut wisman. Meski belum tercatat secara resmi melalui pengelola kampung wisata, wisman hampir setiap hari terlihat berjalan-jalan di kawasan tersebut.
Karena itu, dia menilai pelatihan bahasa Inggris menjadi kebutuhan mendesak bagi pengurus kampung wisata. Bahasa Inggris diprioritaskan karena merupakan bahasa internasional yang paling umum digunakan wisatawan.
Jika memungkinkan, pelatihan nantinya dapat dikembangkan ke bahasa asing lain sesuai kebutuhan dan minat warga. Dengan kemampuan bahasa yang lebih baik, pengelola diharapkan bisa lebih aktif menawarkan potensi wisata Sayidan kepada wisman.
Baca Juga: Pieter Huistra Optimistis PSS Sleman Tatap Kompetisi Musim 2026/2027
“Pemandu tidak hanya bersikap pasif menunggu paket tur resmi, tetapi bisa langsung menyapa, merangkul, dan mengenalkan potensi budaya serta wisata Kampung Sayidan kepada para wisman yang melintas secara spontan,” bebernya kepada Radar Jogja Senini (17/8).
Kamwis Sayidan memiliki potensi wisata berbasis budaya dan sejarah. Salah satunya walking tour yang mengajak wisatawan menyusuri sejumlah titik bersejarah dan budaya di kawasan kampung.
Selain itu, terdapat sentra kain tradisional ringkel serta sejumlah homestay yang berada di kawasan pusat Kota Jogja. Potensi tersebut dinilai bisa dikembangkan untuk memperpanjang pengalaman wisatawan selama berada di Sayidan.
Baca Juga: Kejar Pendapatan Asli Daerah, Sleman Kaji Peningkatan Biaya Sewa Rusunawa
“Harapannya, pemandu lokal mampu mendampingi perjalanan tur wisman di Sayidan dan kemampuan bahasa tersebut bisa langsung diaplikasikan dalam setiap momen di lapangan,” sebutnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jogja Wawan Harmawan mengatakan, Pemkot Jogja telah merencanakan program pelatihan bahasa asing bagi pengelola kampung wisata. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal dalam memperkenalkan budaya dan potensi daerah kepada wisatawan mancanegara.
Menurut Wawan, kemampuan berbahasa asing menjadi kebutuhan penting dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Pelatihan nantinya tidak hanya menyasar pengurus kamwis, tetapi melibatkan berbagai elemen di kampung wisata.
Mulai dari warga hingga perangkat kelurahan akan mendapat pembekalan mengenai budaya dan kearifan lokal. Mereka juga dituntut mampu menjelaskan berbagai potensi tersebut kepada wisatawan menggunakan bahasa asing.
“Warga maupun perangkat pemerintahannya akan kami ajarkan tentang budaya dan kearifan lokal, kemudian harus bisa menjelaskannya dalam bahasa asing,” bebernya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita