JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis Yogyakarta masuk peringkat pertama yang mengalami kemarau terpanjang di Indonesia dengan. Data hingga 10 Agustus mencatat, delapan kapanewon di Bantul mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 100 hari.
Delapan kapanewon tersebut meliputi Pajangan, Pundong, Bantul, Jetis, Imogiri, Bambanglipuro, Sanden, dan Srandakan. Melampaui daerah lain yang kisaran hari tanpa hujannya berkisar 90-99 hari.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Mamenun mengatakan, berdasar pengamatan gejala fisis dan dinamika atmosfer, musim kemarau tahun ini memang lebih panjang.
Baca Juga: Dosen STPN: Kunci Kepastian Hukum Hak Atas Tanah Adalah Kecocokan antara Data Fisik dan Data Yuridis
Bahkan bisa bertahan hingga akhir tahun. Ini karena indeks El Nino terpantau telah masuk dalam kondisi sangat kuat.
“Fenomena memanasnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik itu juga diprediksi bertahan hingga Desember,” katanya dalam keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Kondisi El Nino sangat kuat, kata Mamenun, dapat menurunkan curah hujan signifikan dan menambah durasi kemarau. Curah hujan di DIJ diprediksi masuk kriteria rendah hingga tiga bulan ke depan. Untuk September hingga Oktober hanya berkisar 0-20 mm. Lalu memasuki November mulai meninggi dengan kisaran 0-100 mm.
“Sifat hujan musim kemarau tahun ini di bawah normal, yang artinya kondisi musim kemarau diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya,” ujarnya.
Baca Juga: 34 Paskibraka dari 15 Sekolah Menengah Atas di Kebumen Siap Bertugas untuk Upacara HUT Ke-81 RI
Ia menegaskan, BMKG telah mengeluarkan status awas bencana kekeringan bagi seluruh wilayah DIY. Masyarakat dan pemerintah daerah diimbau dapat mengantisipasi bencana kekeringan.
Sebab, kondisi kemarau panjang bisa memicu bencana kebakaran hutan dan kekurangan air bersih di wilayah rentan. Pihaknya memprediksi musim kemarau akan berakhir November dengan puncaknya pada Agustus.
“Kami berharap masyarakat dan pemangku kepentingan lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau,” tegasnya.
Baca Juga: Pengupas Bawang Beringharjo Bantah Upah Rp 700 Ribu per Kg, Sebut Tak Masuk Akal: Hanya Segini!
Di tingkat daerah, Pemkot Jogja secara resmi telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 100.3.4/2131 Tahun 2026 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi Kekeringan.
Kebijakan yang dikeluarkan sejak tanggal 11 Agustus 2026 itu bertujuan menjaga ketersediaan air bersih dan meminimalisasi risiko selama musim kemarau.
Dalam edaran tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jogja Budi Santosa Asrori menginstruksikan agar seluruh elemen masyarakat mewaspadai kelangkaan air bersih, potensi gangguan kesehatan, serta peningkatan risiko kebakaran lahan maupun permukiman.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Mbah Tupon, Korban Mafia Tanah di Bantul; Jangan Mudah Percaya meski Tetangga
Serta diimbau melakukan penghematan air bersih. Baik untuk kegiatan perkantoran, kebutuhan pribadi, maupun di fasilitas umum.
“Pengurus wilayah kami minta untuk terus memantau ketersediaan air bersih dan segera melaporkan jika terjadi indikasi krisis air,” tulis Budi. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita