JOGJA - Sudah 38 tahun ini Sodikin menekuni dunia batik. Khususnya batik tulis gaya Ngayogyakarta. Selama rentang waktu itu, dia mengaku mengalami berbagai dinamika. Salah satu tantangannya, terkait dengan regenerasi pembatik. “Batik Jogja sudah terkenal, tapi pembatiknya semakin sedikit. Saya ingin anak saya nanti tetap menjaga batik Jogja," ungkapnya Kamis (13/8).
Sodikin mulai menekuni dunia batik sejak 1988 silam. Perjalanan awalnya dimulai. Saat itu dia baru saja keluar dari sebuah perusahaan batik. Juga tengah menempuh pendidikan tinggi. Dalam perjalanannya, 13 tahun lalu kemudian pada dia mulai berani mengenalkan batik produk usahanya. Namanya batik Taruntum pada 2001.
Baca Juga: Penyelesaian Status LP2B dan LSD Sekolah Rakyat di Sleman Berproses, Pembangunan Segera Dimulai
Di bagian lain, dia menyebutkan tantangan di sektor industri belakangan ini. Pemilik Batik Pramugari di Jalan Langenastran Lor, Panembahan, Jogja, menilai, perkembangan batik tak hanya tulis. Tapi juga printing dan cap. Kedua produk itu dapat berjalan berdampingan dengan batik tulis.
Tujuannya demi memperluas jangkauan penggunaan batik di masyarakat. Selain itu, dalam rangka pelestarian batik gaya Jogja dia menyediakan fasilitas belajar membatik. “Gratis bagi pengunjung dan anak-anak guna mengenalkan proses pembuatan batik sejak dini,” ceritanya.
Baca Juga: BGN Perketat Pengawasan, Satu SPPG di DIY Terancam Sanksi Permanen karena Pelanggaran Ini
Dengan keberlanjutan usaha dan edukasi publik, Sodikin optimistis batik akan mampu bertahan sebagai identitas budaya yang memiliki daya saing tinggi. Bagi dia, pelestarian batik tidak hanya sebatas menyimpan karya. Tapi juga memastikan batik tetap digunakan dan memberikan kesejahteraan yang layak bagi para perajinnya.
Saat ini batik gaya Jogja yang menjadi favorit pengunjung yang datang bertitel batik Pramugari. Entah sebuah kebetulan atau tidak, di masa lalu, istri Sodikin pernah bekerja sebagai pramugari. Batik Pramugari dikenalkan mulai 2010 silam.
Baca Juga: Muara Baros Kembali Tersumbat Pasir Pantai, Lahan Pertanian di Pesisir Bantul yang Terendam
Kembali soal upaya melestarikan batik gaya Jogja sebagai warisan budaya, tak luput dari berbagai ujian. Dia masih ingat saat menghadapi krisis. Terutama ketika pandemi Covid 19. Keadaan waktu itu membuat jumlah perajin batik tulis di Jogja semakin berkurang. Meski begitu, Sodikin pernah membuat catatan Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) dengan karya batik 1.001 motif dalam satu kain. Rekor kedua melalui pembuatan kain sepanjang empat meter yang menghadirkan 500 variasi warna. (kus)
Sumber : Radar Jogja