JOGJA - Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja mencatat serapan tenaga kerja dalam penyelenggaraan bursa kerja (job fair) masih sangat rendah. Dari total sekitar 3.000 lowongan kerja (loker) yang dibuka, hanya sekitar 100 berkas lamaran yang terdata masuk.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinsosnakertrans Kota Jogja Patricia Heny Dian Anitasari mengatakan, hal tersebut disebabkan pergeseran pola dan minat kerja generasi muda. Pencari kerja muda kurang berminat pada posisi konvensional seperti di perusahaan otomotif maupun ritel fisik.
“Minat anak-anak muda sekarang ini berbeda, Gen Z. Mereka lebih senang yang model remote dan freelance,” ujar Heny di Balai Kota, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Catat! WJNC Bakal Digelar Sepekan Penuh Tahun Ini, Usung Konsep Festival, Hadirkan Beragam Agenda
Adapun, total loker yang dibuka dalam job fair beberapa waktu lalu mencapai 3.827 dari 29 perusahaan ritel, jasa, manufaktur, teknologi informasi, keuangan, kesehatan, hingga kuliner.
Saat ini dinsosnakertrans masih melakukan pemantauan dan evaluasi (monev) untuk mendata secara pasti berapa banyak dari 100 pelamar tersebut yang lolos tahap seleksi dan resmi diterima bekerja. Sektor ritel mencatatkan porsi pendaftar terbanyak.
Sebagai bentuk evaluasi, instansi ini akan melakukan pemetaan minat pencari kerja usia muda di Jogja sebelum menyelenggarakan bursa kerja berikutnya. Hal ini agar loker yang disediakan oleh perusahaan penyedia kerja selaras dengan ekspektasi dan passion pencari kerja.
Baca Juga: Adrian Dalmau Ungkap Percakapan dengan Van Gastel Jadi Pembeda di Balik Keputusannya Bergabung
Pasalnya, angka pengangguran terbuka di Kota Jogja cukup besar. Dari data dinsosnakertrans menyentuh 2.336 jiwa. Sementara data di Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di angka 5,72 persen atau sekitar 12.473 jiwa
Heny mengaku sudah menyiapkan intervensi melalui program pelatihan untuk menekan angka pengangguran di luar agenda job fair. Tahun ini, sekitar 16 paket pelatihan kerja disiapkan. Mencakup bidang digital seperti pembuatan landing page dan pitching, hingga pelatihan profesi satpam yang langsung disalurkan ke perusahaan penyerap.
"Kami cross-check lagi lowongan mana yang tidak diminati. Jadi saat ada job fair lagi, kami sudah punya data profiling pengangguran muda di Jogja, passion-nya ke mana. Kita cari perusahaan yang sesuai,” tegasnya.
Baca Juga: Desak Manchester City, Chelsea: Ingin Enzo Fernandez? Rp 2,8 Triliun atau Tidak Sama Sekali
Ketua Tim Kerja Penempatan Perluasan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinsosnakertrans Kota Jogja Mohammad Soko Marhendi menambahkan, pada job fair tahun lalu serapan perusahaan kepada pencari kerja juga terhitung sedikit. Dari sekitar 2.000 lowongan, hanya 100 pencari kerja yang diterima.
Hal ini difaktori karena kunjungan pencari kerja hanya sedikit karena dinas merasa kurang publikasi kegiatan. Banyak pencari kerja yang selektif terhadap lowongan yang tersedia. Pun juga ketidaksesuaian kompetensi pelamar dengan kebutuhan industri.
“Memang masih ada para pencari kerja yang pilih-pilih pekerjaan,” bebernya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita