Pakan Ayam Petelur Mahal, Untung Peternak di Kota Jogja Makin Tipis

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:07 WIB
‎DILEMATIS: Peternak memberi pakan ayam petelur di kandang Kelompok Tani Winongo Asri, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Jogja Selasa (11/8). Kenaikan harga pakan yang terus berlanjut di tengah turunnya harga telur membuat keuntungan peternak semakin menipis. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
‎DILEMATIS: Peternak memberi pakan ayam petelur di kandang Kelompok Tani Winongo Asri, Patangpuluhan, Wirobrajan, Kota Jogja Selasa (11/8). Kenaikan harga pakan yang terus berlanjut di tengah turunnya harga telur membuat keuntungan peternak semakin menipis. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JOGJA - Kenaikan harga pakan membuat keuntungan peternak ayam petelur skala kecil semakin tipis. Kelompok Tani Winongo Asri di Kemantren Wirobrajan harus mengeluarkan sekitar Rp 15,5 juta setiap bulan untuk pakan 563 ekor ayam. Sementara omzet penjualan telur hanya berkisar Rp 19 juta.

Sekretaris Kelompok Tani Winongo Asri Herwulan mengatakan, selisih sekitar Rp 3,5 juta tersebut belum dapat disebut sebagai keuntungan bersih. Kelompok masih harus menanggung biaya vitamin, jamu, operasional kandang, hingga tenaga kerja.

Kondisi tersebut semakin berat karena harga jual telur justru mengalami penurunan. Wulan mengatakan, telur ayam probiotik produksi kelompoknya saat ini dijual Rp 23 ribu per kilogram, turun dari Rp 24 ribu pada bulan sebelumnya.

Baca Juga: Ketinggian Air Sungai Winongo Terdeteksi Menurun, BPBD Kota Jogja Wanti-Wanti Fenomena Sumur Asat

Di pasaran, harga telur ayam bahkan banyak dijual di bawah Rp 21 ribu per kilogram. Akibatnya, telur produksi Kelompok Tani Winongo Asri sulit bersaing. Kelompok pun lebih mengandalkan pembeli langganan dan konsumen yang memang mencari telur probiotik.

“Pemerintah menetapkan harga acuan Rp 24.000, tetapi kenyataannya di lapangan tidak seperti itu. Kebijakan di atas sering kali tidak tereksekusi di bawah,” ujar Wulan saat dikonfirmasi Selasa (11/8).

Sementara itu, harga pakan konsentrat terus mengalami kenaikan. Wulan mengatakan, kenaikan Rp 50 per kilogram mungkin terlihat kecil. Namun, beban tersebut terasa ketika pembelian dilakukan dalam jumlah besar.

Setiap dua minggu, Kelompok Tani Winongo Asri membutuhkan sekitar satu ton pakan dengan harga Rp 7,5 juta. Setiap kenaikan Rp 50 per kilogram membuat kelompok harus menambah biaya sekitar Rp 50 ribu untuk setiap pembelian satu ton pakan. “Pakan baru saja naik, lalu bulan depannya naik lagi. Sementara itu, harga jual telur di pasaran malah turun,” keluhnya.

Baca Juga: Gelombang Empat Meter Terjang Kios hingga 30 Meter dari Bibir Pantai di Kebumen

Meski margin usaha semakin tipis, Wulan menegaskan peternakan tersebut tetap harus berjalan. Sebab, Kelompok Tani Winongo Asri tidak semata-mata berorientasi mencari keuntungan. Tetapi juga menjalankan fungsi sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Hasil dari peternakan kerap disalurkan untuk mendukung kegiatan warga. Salah satunya membantu pemenuhan kebutuhan gizi dalam kegiatan posyandu balita di wilayah setempat. Karena itu, di tengah kenaikan biaya produksi, kelompok hanya bisa menahan beban sambil berharap pemerintah mengambil kebijakan untuk menurunkan harga pakan. “Sekarang kita cuma bisa ngampet. Wong mau marah, mau bengok-bengok tetap nggak ada yang mendengar,” lontar Wulan.

Sebelumnya, Paguyuban Peternak Petelur Yogyakarta (P3Y) menggelar aksi bagi-bagi ayam gratis. Sebanyak 1.000 ekor ayam dibagikan sebagai bentuk protes terhadap tingginya harga pakan di tengah merosotnya harga jual telur.

Koordinator aksi Andry Patra mengatakan, peternak mengalami kerugian ketika harga telur berada di bawah Rp 20 ribu per kilogram. Sementara harga pakan telah mencapai sekitar Rp 8.000 per kilogram. “Minimal harga telur Rp 26.000. Itu baru kami cukup untuk regenerasi ayam dan menghidupi ayam-ayam yang lain,” bebernya. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
Kelompok Tani Winongo Asri Ayam petelur Pakan telur peternak