Ketinggian Air Sungai Winongo Terdeteksi Menurun, BPBD Kota Jogja Wanti-Wanti Fenomena Sumur Asat

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 21:45 WIB
KETINGGIAN AIR TURUN: Bocah bermain di Sungai Winongo yang kondisi airnya mengalami penyusutan, Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja Selasa (11/8). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)
KETINGGIAN AIR TURUN: Bocah bermain di Sungai Winongo yang kondisi airnya mengalami penyusutan, Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja Selasa (11/8). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JOGJA - Permukaan air Sungai Winongo terus menyusut memasuki puncak musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi sinyal yang perlu diwaspadai karena penurunan debit sungai dapat diikuti menipisnya ketersediaan air tanah.

Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Jogja Iswari Mahendrarko mengatakan, berdasarkan pemantauan, ketinggian air sejumlah sungai di Kota Jogja mengalami penurunan signifikan. Di Sungai Winongo, misalnya, ketinggian air pada Agustus sudah berada di bawah 20 centimeter.

Padahal, pada Juni-Juli, ketinggian air sungai tersebut masih berada di kisaran 40 centimeter. Iswari mengatakan, penurunan permukaan air sungai perlu menjadi perhatian karena biasanya beriringan dengan berkurangnya ketersediaan air tanah.

Meski hingga kini belum ada laporan sumur warga yang mengering, masyarakat diminta tetap waspada dan bijak menggunakan air. “Laporan sumur sampai asat atau kering sama sekali memang belum ada, tapi kalau penurunan pasti ada karena dampak dari kemarau,” ujar Iswari di Balai Kota Jogja Selasa (11/8).

Baca Juga: Utak-atik selama Pramusim, Van Gastel Masih Beri Kesempatan bagi Semua Pemain

Menurutnya, Kota Jogja secara historis belum pernah menghadapi situasi tanggap darurat kekeringan. Namun, kondisi kemarau tahun ini tetap perlu diantisipasi mengingat adanya potensi musim kemarau yang lebih panjang.

Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Jogja telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 100.3.4/2131/2026 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi Kekeringan di Wilayah Kota Jogja. Melalui surat tersebut, organisasi perangkat daerah dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan beserta dampaknya. Di antaranya berkurangnya ketersediaan air bersih, gangguan kesehatan, serta meningkatnya potensi kebakaran lahan dan permukiman.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang akibat fenomena El Nino. Ancaman kekeringan bahkan diperkirakan dapat berlangsung hingga Desember.

Baca Juga: Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra Ingin Bangun Tim yang Kompetitif 

“Kami akan meningkatkan koordinasi lintas sektoral dalam rangka penanganan kekeringan, termasuk penyiapan langkah-langkah tanggap darurat jika ada,” jelas Iswari.

Sementara itu, warga Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan Sudaryanti mengatakan, kondisi air tanah di wilayahnya hingga kini masih relatif aman. Sumur warga belum mengalami kekeringan dan air masih mudah diperoleh.

Namun, dia mengingat pengalaman pada 2013 ketika permukaan air sumur di rumahnya sempat turun. Saat itu, dia terpaksa menambah kedalaman pipa pompa agar tetap dapat menyedot air. “Tapi kalau saat ini masih aman, air masih mudah,” katanya. (inu/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
kemarau air tanah BPBD Kota Jogja sumur sungai winongo