JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi gelombang tinggi bisa terjadi hingga awal September mendatang. Kondisi tersebut disebabkan adanya pola angin timuran.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta Rahma Fauzia mengungkapkan kecepatan angin timuran pada atmosfer di atas Pulau Jawa memang cukup kencang dengan kisaran 15-35 knot. Serta berpengaruh langsung terhadap kecepatan angin di perairan selatan DIY.
Rahma menyebut, tinggi gelombang diprediksi mencapai kisaran empat meter. Namun kondisi di lapangan dapat bersifat fluktuatif dan bisa melebihi perkiraan. Berdasarkan analisis BMKG, fenomena angin timuran diperkirakan masih akan terus bertahan hingga awal September
“Untuk keadaan riilnya sesekali bisa lebih dari empat meter, dan penentuan ketinggian sering kali bergantung pada pengamatan langsung," ujar Rahma saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Selasa (11/8/2026).
Baca Juga: Mengapa Memperbanyak Jalan Tol Tak Pernah Menyelesaikan Macet? Ternyata Ini Jawabannya
Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan perubahan tinggi gelombang di sekitar area pantai. Sebab kondisi gelombang cukup berbahaya bagi aktivitas nelayan dan wisata air.
“Menghadapi potensi cuaca ekstrem, kami meminta masyarakat, nelayan, dan pelaku wisata pesisir untuk selalu memperbarui informasi kondisi cuaca dari jalur resmi serta mematuhi arahan petugas di lapangan,” pesan Rahma.
Selain ancaman gelombang tinggi, BMKG Yogyakarta juga mengeluarkan kewaspadaan terhadap bencana kekeringan. Pasalnya BMKG Yogyakarta mendeteksi ada wilayah yang mengalami hari tanpa hujan cukup lama. Yakni di kapanewon Pajangan, Bantul dengan hari tanpa hujan 90 hari.
Kemudian disusul kapanewon Rongkop, Gunungkidul sepanjang 74 hari dan Temon, Kulon Progo 68 hari. Mamenun menegaskan pihaknya sudah mengeluarkan peringatan dini kekeringan kategori awas sejak dasarian kedua Agustus.
Baca Juga: Menjelajahi Wisata Pantai Jungwok Gunungkidul, Ada Kelomang Rumput Laut Hingga Ikan Hias
“Para pihak diharapkan dapat mengantisipasi kondisi tersebut melalui pengelolaan sumber daya air secara efisien dan penyesuaian kegiatan sesuai kondisi wilayah,” tandasnya. (inu)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja